Pojok Humam Hamid
Siklon Senyar 25 dan Keputusan Sementara Prabowo: Berkaca dari Bush dan Katrina
Badai Katrina di New Orleans, 2005, adalah contoh sempurna tentang bagaimana bencana alam berubah menjadi bencana politik
Oleh Ahmad Humam Hamid*)
HANYA 24 jam lalu, Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa status darurat bencana daerah dianggap sudah cukup untuk menangani banjir dan tanah longsor di Pulau Sumatera.
“Kami monitor terus. Saya kira kondisi yang sekarang ini sudah cukup,” kata Prabowo saat mengunjungi Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, 1 Desember 2025.
Pernyataan ini, meski mungkin dimaksudkan menenangkan, juga membuka perdebatan serius: apakah pendekatan semacam itu memadai untuk menghadapi skala kerusakan yang telah terjadi di Aceh dan dua provinsi lain di Sumatera akibat Siklon Senyar 25?
Ada kalanya sebuah bangsa berdiri di tepi sebuah keputusan yang mungkin tampak kecil di atas kertas birokrasi, tetapi kelak bergema puluhan tahun dalam sejarahnya.
Siklon Senyar 25 menjadikan Aceh berada tepat di tepian itu.
Kawasan yang baru saja luluh lantak oleh terjangan hujan ekstrem kini berada dalam fase yang jauh lebih berbahaya: fase setelah banjir langit, ketika negara diuji apakah ia hadir sepenuhnya atau hadir setengah hati.
Dan pada saat sinyal diberikan bahwa status Bencana Nasional mungkin tidak akan diberlakukan, sejarah dunia memberi kita sebuah peringatan yang tidak boleh diabaikan.
Badai Katrina, Ketika Bencana Alam Menjadi Bencana Politik
Badai Katrina di New Orleans, 2005, adalah contoh sempurna tentang bagaimana sebuah bencana alam berubah menjadi bencana politik.
George W. Bush tidak menolak untuk membantu.
Ia tidak membenci korban.
Ia tidak menutup mata.
Ia hanya keliru membaca skala kerusakan dan terlalu lama bertahan pada asumsi bahwa pemerintah negara bagian dan kota masih mampu berfungsi.
Kesalahan itu bukan tragedi moral, melainkan tragedi administratif--dan justru itulah yang membuatnya begitu menghantui.
Saat para pengungsi duduk di atap rumah menunggu pertolongan, pemerintah federal Amerika Serikat terjerat dalam prosedur, koordinasi yang tidak sinkron, dan keyakinan keliru bahwa bencana itu masih dapat diatasi secara lokal.
siklon senyar 2025
bencana siklon senyar
pojok humam hamid
Status Darurat Bencana Nasional
Serambi Indonesia
| 821 Tahun Banda Aceh: Mau ke Mana Kota Kita? |
|
|---|
| Irwandi, Mualem, dan “Peunutoh”: “JKA Bandum” vs “JKA Kudok” - Akankah Lahir Paradoks Kebijakan? |
|
|---|
| MDCP Prabowo dan Trump: Kenapa Kita Harus Tahu? |
|
|---|
| Makar atau Tak Nyaman? Membaca Mujani, Amsari, Fahri Hamzah, dan Mahfud MD |
|
|---|
| Iran dan Gencatan Senjata: “Lamuek” Hormuz, Nuklir, dan Adi Kuasa Timur Tengah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Humam-Aceh-Miskin-Dana-Outsus-Tinggal-1-Persen-Nyumbang-Lagi-ke-PON.jpg)