KUPI BEUNGOH
Viral Dulu, Ilmu Belakangan? Mengulas Fenomena Da’i Instan
Siapa pun dapat menyampaikan pesan keagamaan hanya dengan modal handphone dan koneksi internet.
Tidak sedikit konten keagamaan yang disampaikan secara serampangan, tanpa rujukan yang jelas, bahkan terkadang memicu polemik dan perpecahan.
Padahal Al-Qur’an dengan tegas mengingatkan agar dakwah dilakukan dengan hikmah, nasihat yang baik, dan dialog yang santun (QS. An-Nahl: 125).
Fenomena da’i instan juga berkaitan dengan krisis otoritas keagamaan di era digital.
Masyarakat sering kali lebih mempercayai figur yang viral daripada ulama yang memiliki kapasitas keilmuan tetapi kurang aktif di media sosial.
Akibatnya, standar keilmuan dan akhlak seorang da’i berpotensi bergeser, dari yang sebelumnya berbasis ilmu dan keteladanan, menjadi sekadar jumlah pengikut dan tingkat popularitas.
Dalam konteks ini, penting untuk menegaskan kembali bahwa dakwah adalah amanah.
Seorang da’i, baik di mimbar maupun di media digital, harus menyadari bahwa setiap ucapannya dapat memengaruhi cara berpikir dan beragama masyarakat.
Popularitas tanpa tanggung jawab justru dapat merusak citra dakwah itu sendiri.
Bukan berarti media sosial harus dijauhi.
Justru sebaliknya, media digital adalah ladang dakwah yang sangat strategis. Namun, dakwah digital perlu dijalankan dengan prinsip yang kuat: ilmu yang benar, niat yang ikhlas, dan akhlak yang mulia.
Da’i masa kini idealnya bukan hanya kreator konten, tetapi juga pendidik dan teladan.
Fenomena da’i instan seharusnya menjadi refleksi bersama.
Bagi para pendakwah, ini menjadi pengingat pentingnya terus belajar dan menjaga integritas.
Bagi masyarakat, ini menjadi ajakan untuk lebih kritis dalam menerima pesan keagamaan.
Dakwah yang baik bukan hanya yang viral, tetapi yang mampu menenangkan hati, mencerahkan akal, dan menggerakkan manusia menuju kebaikan.
Pada akhirnya, dakwah di era digital bukan soal cepat terkenal, melainkan soal kesungguhan mengajak manusia ke jalan Allah dengan hikmah dan tanggung jawab.
Sebab, dakwah yang lahir dari ilmu dan ketulusan akan bertahan lebih lama daripada popularitas yang datang secara instan.
*) Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Mahasiswa-Pascasarjana-UIN-Ar-Raniry-Althaf-Abid.jpg)