Breaking News
Kamis, 23 April 2026

KUPI BEUNGOH

Cucu Iskandar Muda: Antara Doa dan Air Mata di Tengah Bencana

Bencana 2025 adalah peringatan keras, jika kita masih ingin masa depan, kita wajib menjaga warisan yang tersisa.

|
Serambinews.com/TIDAK ADA
Maysarah (kanan), alumnus Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh. 

Bencana 2025 adalah peringatan keras, jika kita masih ingin masa depan, kita wajib menjaga warisan yang tersisa.

Cucu Iskandar Muda harus belajar dari sejarah, bukan hanya bangga padanya. Sebab kejayaan masa lampau tak akan berarti apa-apa bila setiap tahunnya kita masih basah kuyup, menunggu nasib, dan menadahkan tangan tanpa daya.  

Sudah waktunya Aceh menata ulang rumahnya sendiri, agar doa yang dipanjatkan tidak lagi bercampur dengan air mata, tetapi berubah menjadi langkah nyata menuju keselamatan dan kemuliaan negeri.

Mualem dan MoU Helsinki 

Tanah warisan Iskandar Muda sekarang berada di bawah kepempinan Muzakir Manaf alias Mualem. Semua cucu Iskandar Muda berharap Mualem mampu mengembalikan kejayaan Aceh seperti masa Iskandar Muda, yang memiliki relasi yang sangat baik dan dihormati di tanah Melayu.

MoU Helsinki memberikan kewenangan kepada Aceh untuk menjalin hubungan non-politik dengan luar negeri. Kiranya hal ini dapat diimplementasikan dalam penanganan banjir bandang dahsyat 2025 sehingga tangisan deraian air mata cucu Iskandar Muda yang korban bencana terhenti.

Dengan demikian, para korban banjir Siklon Senyar 2025 pun akan tersenyum. Mereka tak lagi mengadu di tengah malam pada kekuatan ghaib tentang nasib mereka.

Ingat, doa orang terdhalimi itu tiada tirai dengan Allah. Ia akan maqbul. Semoga!

*) PENULIS adalah alumnus Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

BACA artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved