Kamis, 23 April 2026

KUPI BEUNGOH

Cucu Iskandar Muda: Antara Doa dan Air Mata di Tengah Bencana

Bencana 2025 adalah peringatan keras, jika kita masih ingin masa depan, kita wajib menjaga warisan yang tersisa.

|
Serambinews.com/TIDAK ADA
Maysarah (kanan), alumnus Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh. 

Oleh: Maysarah*)

ARTIKEL Saudara Jafar Insya Reubee, pemerhati Aceh yang berdomisi di Malaysia, di Rubrik Opini Serambinews.com edisi Kamis (18/12/2025), sungguh menggugah dan ikut mendorong saya untuk menulis artikel lanjutan sebagai pelengkap.

Dalam tulisannya yang berjudul "Dibiarkan Menderita dalam Banjir Raksasa: Phet That Nasib Cucu Iskandar Muda", Jafar Insya Reubee mampu menghipnotis pembaca untuk kembali ke momen kegemilangan masa lampau pada era Iskandar Muda.

Banjir besar yang melanda Aceh pada 2025 seolah membuka lembaran luka lama yang tak kunjung sembuh. Luka demi luka terus menggores dada rakyat di tanah bekas Kesultanan Aceh Darussalam (1496-1945) yang sangat perkasa pada eranya.

Di tanah yang pernah mencapai zenith (puncak kejayaan) di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), sosok yang masyhur dengan kejayaan, keadilan dan kemakmuran, kita para cucunya, justru berdiri gamang di tengah derasnya arus air yang membawa lumpur, patahan pepohonan, dan potret kegagalan kita menjaga bumi sendiri. 

Setiap arus air yang merendam rumah warga bukan hanya sekadar hujan, tetapi juga air mata: air mata kehilangan, air mata amarah, dan air mata doa yang mungkin tak semua sampai ke langit karena bumi lebih dulu memberontak.

Air mata Gubernur Aceh Muzakir Manaf ikut jatuh terisak ketika diwawancarai oleh Najwa Sihab. Rasa sedih yang ia rasakan juga ikut dirasakan oleh seluruh masyarakatnya.

Tangisan Mualem, menurut Hasan Basri M Nur, alumnus Program PhD UUM Malaysia, pekerja Rehab-Rekon Aceh-Nias 2005-2009 dalam tulisannya yang berjudul “Memaknai Tangisan Mualem” jelas bahwa makna yang dalam keadaan di lapangan benar-benar genting (Serambi Indonesia, 10/12/2025).

Bencana ini bukan semata-mata soal cuaca ekstrem atau siklon yang tak terduga. Ini tentang hutan yang gundul, tanah yang tak lagi bisa menahan air, bukit yang dipangkas rakus, dan sungai yang kehilangan jalannya.

Kita ingin Aceh kembali tangguh seperti masa lalu, namun di sisi lain kita membiarkan akar-akar kekuatan itu tercabut.

Maka ketika banjir datang, kita hanya bisa menyelamatkan diri sambil menyalahkan hujan, meski diam-diam tahu: sebagian dari ini adalah ulah manusia yang tidak bertanggung jawab.

Namun ada hal yang tak pernah padam: harapan. Di tengah derita, masyarakat Aceh tetap menengadahkan tangan, mengirim doa sambil menguras air dari rumah yang terendam. 

Dari Meulaboh hingga Pidie, dari Aceh Tengah hingga Aceh Timur, dari Aceh Utara hingga Aceh Besar, suara doa itu menyatu dengan isak—mencari pertolongan bukan hanya dari langit, tapi juga dari sesama. 

Solidaritas yang lahir spontan membuktikan bahwa identitas sebagai cucu Iskandar Muda belum hilang; keberanian, keteguhan, dan rasa kebersamaan masih hidup, meski diuji habis-habisan.

Tetapi doa saja tidak cukup. Air mata saja tidak menyelesaikan apa pun. Jika generasi pewaris sejarah besar ini ingin melihat Aceh berdiri tegak kembali, kita harus menuntut lebih: kebijakan yang tegas terhadap pembalakan liar, tata ruang yang berpihak pada keselamatan rakyat, peringatan dini yang benar-benar bekerja, serta pemimpin yang tidak hanya hadir saat kamera menyala. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved