Kupi Beungoh
Yayasan As-Sumatrani Bertanggung Jawab Langsung kepada Gubernur Aceh
Hal ini membuat Yayasan As-Sumatrani memiliki jalur koordinasi yang lebih singkat, karena langsung diperintahkan oleh Mualem.
*) Oleh: H Abdul Jalil
BENCANA banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh kembali menguji kapasitas kolektif kita dalam merespons krisis kemanusiaan.
Rumah rusak, akses jalan terputus, dan ribuan warga harus bertahan dalam kondisi sulit.
Dalam situasi seperti ini, kehadiran lembaga yang mampu bergerak cepat untuk menghimpun dan menyalurkan bantuan menjadi sangat penting.
Salah satu lembaga yang saat ini berperan aktif adalah Yayasan As-Sumatrani.
Yayasan As-Sumatrani memiliki posisi yang cukup strategis karena bertanggung jawab langsung kepada Gubernur Aceh, Muazkir Manaf atau yang dikenal dengan sebutan Mualem.
Yayasan ini didirikan oleh Mualem sendiri.
Hal ini membuat Yayasan As-Sumatrani memiliki jalur koordinasi yang lebih singkat, karena langsung diperintahkan oleh Mualem.
Kepercayaan publik terhadap Yayasan As-Sumatrani terlihat dari banyaknya donatur yang menyalurkan bantuan melalui yayasan ini.
Bantuan tidak hanya datang dari masyarakat Aceh, tetapi juga dari luar daerah.
Posko bantuan yang dibuka di Medan, Sumatera Utara, dan di Banda Aceh menjadi titik penting pengumpulan logistik.
Dari posko-posko inilah bantuan kemudian disalurkan ke wilayah terdampak banjir dan longsor.
Hingga saat ini, ratusan ton bantuan telah dihimpun melalui Yayasan As-Sumatrani.
Bantuan tersebut meliputi kebutuhan pokok seperti beras, mi instan, air minum, makanan ringan, air bersih, pakaian layak pakai, perlengkapan bayi, hingga kebutuhan khusus untuk lansia.
Jenis bantuan ini sangat dibutuhkan oleh para korban yang kehilangan harta benda dan sumber penghidupan akibat bencana.
Selain bantuan logistik, Yayasan As-Sumatrani juga menerima dukungan dalam bentuk pinjam pakai alat berat.
Sejumlah pengusaha dan perusahaan meminjamkan excavator, truk, dan peralatan lainnya.
Bantuan alat berat ini memiliki peran yang sangat penting, terutama untuk membuka akses jalan yang tertutup longsor, membersihkan lumpur, serta mempercepat proses pemulihan di daerah terdampak.
Ini menunjukkan bahwa bantuan kemanusiaan tidak hanya soal makanan dan pakaian, tetapi juga soal mempercepat pemulihan kehidupan masyarakat.
Di sisi lain, keberadaan Yayasan As-Sumatrani juga dapat dilihat sebagai upaya mempercepat bantuan di luar mekanisme birokrasi yang sering kali memakan waktu.
Pemerintah tetap memiliki peran utama, tetapi yayasan dapat menjadi mitra yang membantu menjangkau masyarakat lebih cepat, terutama di daerah terpencil dan sulit dijangkau.
Pada akhirnya, bencana adalah urusan kemanusiaan, bukan ajang kepentingan tertentu.
*) Penulis adalah Pengelola Yayasan As-Sumatrani
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI
| Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia |
|
|---|
| Peusijuk: Dari Warisan Budaya ke Katalisator Pendidikan |
|
|---|
| Rektor UIN Ar-Raniry Idaman: Mengembalikan Hakikat Jantong Hate |
|
|---|
| Rumah Sakit Iskandar Muda: Warisan Medis Belanda yang Lestari di Kutaraja |
|
|---|
| Ismail Rasyid: Pengusaha Merangkap Ilmuwan dari Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/H-Abdul-Jalil-dengan-Gubernur-Aceh-Muazkir-Manaf-Mualem.jpg)