Selasa, 2 Juni 2026

Kupi Beungoh

Pedih Nasib Rakyat Aceh: Orang Luar Tidak Boleh Membantu, Pemerintah Sendiri Tidak Peduli & Membully

Hari ke-26 pascabanjir bandang Aceh, korban makin lelah, lapar, dan putus asa. Lumpur setinggi meteran, bantuan minim, harapan kian menipis.

Tayang:
Editor: Amirullah
for serambinews
Dr. Ainal Mardhiah, S.Ag, M Ag, Dosen Pendidikan Agama Islam UIN Ar Raniry Banda Aceh dan Relawan Banjir Bandang Aceh 26 November 2025 

"Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat."

Ketiga; Allah Mudahkan Urusan Orang Yang Menolong Orang Lain Yang Sedang Kesusahan.

“Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup ‘aib seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.”. (HR. Muslim).

Keempat; Sesama Muslim Itu Umpama Satu Tubuh

"Orang-orang mukmin itu bersaudara, mereka seperti satu tubuh. Apabila salah satu bagian tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan sakitnya (demam dan tidak bisa tidur).” (HR. Bukhari & Muslim)".

Wahai pemimpin kami? Bapak presiden, bapak Mantri, para pejabat dan Anggota Dewan terhormat di negeri ini, apakah kalian bukan muslim? Sehingga kalian abaikan kami? Masyarakat Aceh yang sedang Allah uji dengan banjir bandang, akibat orang-orang serakah dinegeri ini? Kalau bukan kalian yang peduli sebagai sesama muslin, lalu siapa lagi? Jangan tunggu rakyat Aceh mati kelaparan, stres dan depresi atau berubah aqidah dan keimanan karena bantuan mereka yang bukan muslim. 

Kalian punya tanggung jawab sebagai pemimpin, pejabat dan wakil rakyat di negeri ini. Kenapa kalian diam? Apakah kalian termasuk dalam salah satu dari orang-orang yang dhalim itu, yang menyebab kami Aceh hari ini seperti ini?  

Bertaubatlah sebelum terlambat, umur kita sudah senja, sebentar lagi malam tiba, semua gelap, hanya amal shaleh yang bisa membuat kegelapan kubur itu menjadi terang, bukan kekayaan yang didapatkan dari menzalimi orang. 

Kondisi Fisik Dan Mental Korban Banjir Bandang Aceh 2025 Terkini.

Hasil wawancara saya dengan para korban banjir bandang Aceh, tanggal 21 Desember 2025, mereka hanya punya sedikit beras dan mie instant, sementara 2 bulan ke depan memasuki bulan Ramadhan. Bisa bapak ibu bayangkan pedihnya keadaan pengungsi banjir bandang Aceh saat ini. 

Rumah masih terhimpit lumpur dan kayu-kayu besar, sementara tenda tempat mengungsi tidak memadai, tidak mampu menampung jumlah korban. Yang sudah ada tenda, belum selesai masalahnya. Mereka harus lari, setiap hujan turun, banjir susulan selalu datang lagi, penduduk harus lari lagi ke tempat yang lebih tinggi.  Setiap malam tidak bisa tidur harus waspada dengan banjir yang datang tiba-tiba setiap hujan mengguyur Aceh. Begitu keadaan kami sekarang ini  akibat orang-orang serakah dinegeri ini.

Pada awal kejadian banjir bandang, listrik di Aceh mati  berhari-hari, berminggu-minggu. Jaringan intert tidak ada, putus komunikasi dengan siapapun. Peralatan masak tidak ada, habis tertimbun lumpur dan dibawa banjir bandang, elpigi sulit, BBM sulit, sembako sulit, kayu bawaan banjir bandang tidak boleh diambil untuk memasak, karena bisa kenak sanksi begitu kata pejabat dinegeri ini. 

Sementara kayu-kayu itu dengan semena-mena menghimpit, menghantam, menggancurkan rumah-rumah  kami rakyat Aceh. Kami ambil terkenak sanksi, mereka yang mengirim kayu-kayu itu sampai merusak, menghancurkan dan menenggelamkan rumah kami, menenggelamkan harta benda dan jiwa saudara kami, merusak mental kami,  mereka bebas tidak kenak sanksi. 

Mereka makan enak, kami rakyat Aceh kelaparan gara-gara ulah mereke. Mereka tidur nyenyak di kasur empuk di hotel mewah, rumah megah, kami rakyat Aceh tidur diatas lumpur, diantara batang-batang kayu hasil keserakahan mereka.

Keadan ini belum seberapa jika melihat perjuangan para korban banjir bandang Aceh dalam membersihkan lumpur tebal dan keras didalam rumah setinggi  2 sampai 4 Meter yang tak kunjung usai karena tidak ada alat berat dan relawan untuk membantunya. Kondisi ini diperparah lagi dengan kecemasan para korban akan putusnya bantuan makanan, terutama sembako, dan alat berat untuk membersihkan kayu-kayu besar,  lumpur tinggi yang memenuhi rumah, dan menimbun rumah mereka. 

Para korban butuh tempat tinggal yang aman, butuh sembako, air bersih, pakaian luar dan dalam, peralatan masak dan makan, peralatan mandi, peralatan ibadah, peralatan sekolah, tempat tinggal, peralatan shalat, elpiji, BBM dan segala  kebutuhan hidup lainnya. 

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved