Jumat, 24 April 2026

Kupi Beungoh

Pedih Nasib Rakyat Aceh: Orang Luar Tidak Boleh Membantu, Pemerintah Sendiri Tidak Peduli & Membully

Hari ke-26 pascabanjir bandang Aceh, korban makin lelah, lapar, dan putus asa. Lumpur setinggi meteran, bantuan minim, harapan kian menipis.

Editor: Amirullah
for serambinews
Dr. Ainal Mardhiah, S.Ag, M Ag, Dosen Pendidikan Agama Islam UIN Ar Raniry Banda Aceh dan Relawan Banjir Bandang Aceh 26 November 2025 

Oleh; Dr. Ainal Mardhiah, S.Ag, M Ag

Untuk yang kelima kali, kunjungan saya ke tempat Banjir Bandang Aceh tangggal 21 Des 2025, tepatnya hari ke 26 saya berada di beberapa tempat bencana, saya melihat Korban banjir dalam kondisi sudah lemah, lelah, sakit, mereka menangis putus asa melihat tingginya lumpur dan batang kayu besar kiriman banjir bandang didalam rumah dan di halaman-halaman rumah mereka yang tak sanggup mereka pindahkan karena tak ada alat berat sama sekali.

Selain itu, lemah karena leleh, stres  akibat banjir susulan yang selalu datang setiap hujan turun mengguyur, ditambah minimnya makanan yang mereka miliki.

Saya coba memasuki beberapa rumah korban banjir bandang, ingin melihat langsung makanan apa yang tersedia dirumah mereka, saya lihat yang ada hanya sediki beras, sedikit mie instan, dan beberapa bungkus biskuit yang diantar oleh relawan baik pribadi maupun lembaga, bukan bantuan pemerintah begitu kata korban banjir bandang Aceh Pijay. 

Ada juga korban banjir bandang Pijay mengatakan, bantuan banjir bandang dari pemerintah yang mereka terima, belum mencukupi untuk semua korban, sehingga untuk menghindari kecemburuan sebagian mendapat bantuan, sebagian tidak dapat karena tidak cukup, penanggung jawab menunggu bantuan dari yang lain dulu sampai mencukupi untuk dibagikan kepada semua korban.

Menunggu itu sangat melelahkan, sementara kebutuhan mendesak.  Ini menunjukkan bahwa masih ada korban banjir bandang Aceh yang belum mendapat bantuan dari pemerintah.

Bisa kita lihat manusia lumpur ditiap rumah korban banjir bandang Aceh, yang rumahnya tenggelam dalam lumpur.

Kenapa saya sebut manusia lumpur? Karena sudah 26 hari korban banjir bandang tersebut membersihkan lumpur didalam rumah masing-masing, siang dan malam dengan tangan dan peralatan seadanya (cangkul dan scrob), sehingga pakaian dan seluruh tubuh mereka penuh dengan lumpur. 

Mereka mengangkat lumpur dalam jumlah yang sangat banyak dan berat, selama berhari-hari dari dalam rumah dipindahkan keluar rumah dengan cara manual (dengan tangan), tentu sangat menguras pikiran,  energi dan tenaga.

Lelahnya luar biasa Pak Presiden dan Pak Mantri kami membersihkan lumpur kireman orang-orang serakah dinegeri ini untuk kami. Sementara mereka tidur enak dan nyenyak di atas penderitaan kami. 

Lebih sedih lagi, setelah lumpur di dalam rumah bersih. Tibanya hujan turun, lumpur yang diluar rumah yang tinggi 2 sampai 4 meter, kiriman banjir bandang yang tak sanggup  dibersihkan warga, akan masuk lagi ke dalam rumah kami.

Sehingga bisa dibayangkan letih, lelah, stres dan bisa putus asa, wahai pak Presiden dan Pak Mantri, anggota dewan terhormat dan pejabat di negeri ini, jika tidak segera datang alat berat yang memadai dan mobil truk untuk membantu korban banjir bandang, membuang lumpur dan kayu-kayu besar yang menghimpit rumah-rumah kami masyarakat Aceh saat ini.

Sudah seperti ini kondisi rakyat Aceh, masih juga kalian bully, masih kalian tak  peduli.  Bantuan kalian berikan, tapi basa-basi. Datang ke Aceh sekedar seremoni, begitu kata pengungsi Pijay yang saya temui sedang membersihkan lumpur yang tinggi didalam rumahnya. Masih kalian larang orang luar membantu kami? Sementara bangsa sendiri tidak peduli.  

Yang sudah membantu kami kalian bully. Dimana hati nurani pemimpin di negeri ini wahai Rabb kami? Kami muslim, pemimpin kami juga muslim, tapi kami mereka abaikan, mereka sia-siakan dalam bencana banjir bandang yang sangat dahsyat dan mengerikan ini wahai Rabb kami. 

Banjir bandang akibat  orang-orang serakah yang membuat gunung kami gundul dan mengambil hasil tambang, gas alam ditanah kami,  lalu kami rakyat Aceh menjadi korban. Dimana hati nurani pemimpin negeri ini wahai Rabb kami, membiarkam rakyat Aceh menderita seperti ini. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved