Opini
Di Balik Keputusan Ayah Wa Memperpanjang Status Darurat Bencana Aceh Utara
Wilayah Aceh Utara, terdiri dari 27 Kecamatan dan 852 Desa, hampir 90% wilayahnya terendam banjir dan longsor.
Oleh: Muntasir Ramli*)
Bupati Aceh Utara H. Ismail A Jalil, MM (Ayah Wa) telah memperpanjang kembali penanganan tanggap darurat bencana hidrometeorologi banjir dan longsor hingga 7 hari ke depan, terhitung dari tanggal 23 hingga 29 Desember 2025.
Keputusan tersebut diambil setelah digelarnya rapat evaluasi penanganan bencana banjir dan longsor bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh Utara, dihadiri oleh unsur pemerintah pusat dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). (Kompas, 22/12/2025)
Ayah Wa menjelaskan, perpanjangan tanggap darurat bencana didasarkan pada hasil keputusan rapat bersama Forkopimda serta hasil dari observasi perkembangan di lapangan dan kajian terbaru dari Pusat Informasi Posko Bencana Banjir dan Longsor Aceh Utara, 23 Desember 2025 ikut memperkuat keputusan rekomendasi tersebut.
Hidrometeorologi dan Tanggap Darurat Bencana
Dikutip dari Wikipedia, Hidrometeorologi adalah cabang ilmu yang mempelajari interaksi antara atmosfer (meteorologi) dan air (hidrologi), fokus pada fenomena cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, kekeringan, dan dampaknya terhadap air serta lingkungan, yang seringkali berujung pada bencana hidrometeorologi banjir, longsor, dll.) akibat perubahan iklim dan aktivitas manusia.
Sementara tanggap darurat bencana adalah serangkaian tindakan cepat yang dilakukan saat terjadi bencana untuk menangani dampak buruk, meliputi penyelamatan korban, evakuasi dan pemenuhan kebutuhan dasar (pangan, sandang dan tempat tinggal).
Perlindungan pengungsi, pemulihan prasarana dan sarana agar korban yang selamat diharapkan penderitaan semakin berkurang, kerusakan bisa diminimalisir.
Baca juga: Jembatan Putus Diterjang Banjir, Dusun Cot Calang di Pedalaman Aceh Utara Masih Terisolir
Upaya Mitigasi
Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dalam upaya mitigasi bencana hidrometeorologi banjir dan longsor telah menginstruksikan camat, BPBD beserta Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan pemangku kepentingan agar siaga di lokasi masing-masing, bekerja lebih cepat, terkoordinasi, fokus kepada evakuasi, penyelamatan dan pemenuhan kebutuhan masyarakat terdampak bencana banjir dan longsor. (Serambinews, 22/11/2025).
Berdasarkan Data sementara dari Pusat Informasi Posko Utama Bencana Banjir Aceh Utara yang disajikan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Informasi, Komunikasi dan Persandian (Kominfosa) Aceh Utara. Sabtu, 27 Desember 2025 Pukul 17.00 WIB.
Dilaporkan bahwa wilayah Aceh Utara, terdiri dari 27 Kecamatan dan 852 Desa, hampir 90 persen wilayahnya terendam banjir dan longsor.
Sebanyak 433.064 jiwa atau 124.549 Kepala Keluarga (KK) ikut terdampak bencana banjir dan longsor.
Kondisi tersebut menyebabkan 67.876 jiwa atau 19.047 Kepala Keluarga (KK) ikut mengungsi dan 213 jiwa meninggal serta 6 (enam) orang masih dinyatakan hilang dan sebanyak 2.127 jiwa luka-luka serta kelompok rentan yang ikut terdampak banjir dan longsor terdiri dari ibu hamil 1.433 jiwa, balita 9.525 jiwa, lansia 6.895 jiwa, disabilitas 513 jiwa dan berada di 210 titik lokasi pengungsian.
Baca juga: Listrik Belum Normal Sebulan Pascabanjir di Aceh Utara, Ayahwa Bagikan 40 Genset ke Pengungsi
Kebutuhan Pengungsi
Kebutuhan sangat mendesak dan sangat dibutuhkan oleh pengungsi dalam upaya penanganan darurat bencana banjir dan longsor saat ini berupa, bahan makanan, lampu emergency, panel surya, tenda pengungsian dan tenda darurat sekolah.
Kemudian BBM untuk operasional alat berat dan pengangkutan istribusi logistik dan air bersih, gas elpiji, sumur bor, air minum, MCK, Matras dan bak sampah.
Peralatan dapur, tandon, kelambu, pakaian pria dan wanita serta Anak-anak, susu bayi, popok bayi, Obat-obatan, selimut, Pampers, pembalut wanita, kain sarung, genset, sajadah dan mukena.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Muntasir-Ramli-Juru-Bicara-Pemerintah-Aceh-Utara.jpg)