Selasa, 26 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

Renungan Akhir Tahun: Top Mata Kap Igoe, Seurah Droe bak Allah Taala

Siklon tropis Senyar menghantam Aceh pada akhir November 2025, membawa hujan lebih dari empat ratus milimeter dalam 24 jam. 

Tayang:
Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
DIASPORA GLOBAL ACEH - Sosiolog Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, menjadi pembicara pada acara diskusi yang digelar oleh Diaspora Global Aceh di Hotel Ambhara, Jakarta, Rabu (20/8/2025). 

Oleh Ahmad Humam Hamid*)

Di Aceh, top mata kap igoe, seurah droe bak Allah Taala (tutup mata, rapatkan gigi, berserah diri pada Allah Taala) bukanlah pilihan pertama. 

Ia muncul ketika segala upaya menemui tembok, ketika semua pintu tertutup, ketika harapan terhadap negara hampir sirna. 

Ironisnya, pasca Senyar, rakyat tidak berserah karena alam terlalu ganas, tetapi karena negara terlalu samar untuk diharapkan. 

Badai datang dan pergi, air surut, lumpur mengering, tetapi yang tertinggal adalah kebingungan: siapa melakukan apa, kapan, sampai di mana. 

Negara hadir di berita, di pernyataan resmi, di rapat kabinet.

Sementara di lapangan, kehadirannya seperti bayangan: terlihat dari jauh, hilang saat didekati.

Siklon Senyar dan Kekacauan di Fase Pertama

Siklon tropis Senyar menghantam Aceh pada akhir November 2025, membawa hujan lebih dari empat ratus milimeter dalam 24 jam. 

Desa-desa terendam, rumah-rumah roboh, jembatan putus, ribuan nyawa melayang. 

Data resmi mencatat lebih dari seribu orang meninggal di Sumatra, hampir lima ratus di Aceh; sekitar tiga ratus ribu mengungsi; lebih dari seratus delapan puluh enam ribu rumah rusak atau hancur; ratusan fasilitas kesehatan dan sekolah runtuh. 

Statistik ini rapi, tetapi tidak mampu menampung dinginnya malam di tenda pengungsian, ketakutan orang tua, bahkan lapar berhari-hari, atau putus asa warga yang harus bertahan di tengah banjir dan lumpur. 

Angka hanyalah simbol administratif; kenyataan pahit menunggu di setiap sudut desa yang terendam.

Fase pertama adalah darurat. 

Evakuasi lambat, distribusi bantuan kacau, koordinasi antar-instansi mandek. 

Ribuan warga bertahan sendiri, nyawa melayang, rasa aman sirna. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved