Opini ini ingin mengajak kita melakukan refleksi besar sebelum berangkat lebih jauh kebijakan apa yang seharusnya dilakukan dalam penanganan bencana banjir hidrometeorologi ini. Bayang-bayang negara gagal bukanlah tuduhan, melainkan peringatan. Negara masih punya kesempatan untuk membuktikan bahwa ia hadir sepenuhnya: melalui mitigasi serius, perlindungan lingkungan, tata ruang berbasis risiko, dan pemulihan korban yang bermartabat. Jika tidak, maka setiap bencana di Aceh akan terus menjadi pengingat pahit bahwa negara belum benar-benar menunaikan amanat dasarnya: menolong dan melindungi rakyatnya sendiri.
Karena itu, konvoi masyarakat yang membawa bantuan sampai ke Aceh Tamiang dan tuntutan menetapkan status bencana nasional dengan mengibarkan bendera Bintang Bulan, seharusnya tidak dilihat sebagai ancaman dan diselesaikan dengan kekerasan, tetapi harus dilihat sebagai teguran lembut dari rakyat untuk mengingatkan pemerintah agar tidak lagi abai dengan bencana yang terjadi dan korban yang tidak terurus. Ini adalah ekspresi beradab dari masyarakat, agar pemerintah tidak terus hanyut dengan kebijakan yang salah dan pada akhirnya menyebabkan negara gagal.