Jurnalisme Warga
Keserakahan yang Membawa Malapetaka
Lumpur bawaan banjir dari longsoran tanah pergunungan juga masih menutupi rumah-rumah mereka.
Banyak sekolah, puskesmas, dan rumah sakit tidak bisa beroperasi karena infrastrukturnya rusak. Lahan-lahan pertanian khususnya sawah banyak yang tertutup lumpur, sungai digerus abrasi, bahkan ada yang menjadi daratan.
Sungguh jeritan pilu warga Aceh yang tertimpa musibah, jelas terlihat ketika saya datang ke tempat-tempat pengungsian di Kabupaten Bireuen untuk membawa bantuan.
Warga yang mengungsi menagis karena belum bisa pulang ke rumahnya disebabkan masih tertutup lumpur basah.
Warga yang berduit sudah mengupahkan pembersihan rumahnya dengan biaya lima sampai delapan juta rupiah. Namun, bagi mereka yang kurang mampu tidak akan sanggup mengupahkan dengan biaya yang tinggi. Untuk membersihkan lumpur, khususnya di luar rumah, memerlukan alat berat dan truk untuk membuangnya. Ini kendala besar bagi masyarakat miskin, di samping bantuan dari sukarelawan juga terbatas.
Di tengah pelukan air dan lumpur itu sebagai warga Aceh, saya paham betul akan keteguhan dan daya tahan masyarakat Aceh untuk berusaha bangkit kembali dari musibah ini.
Sepanjang sejarah menghadapi bencana telah membentuk karakter masyarakat Aceh yang tangguh dan solidaritas yang kuat.
Di saat aman, apabila ada daerah lain yang musibah, masyarakat Aceh tanpa komando menggalang bantuan dana untuk membantu saudara-saudara yang tertimpa musibah.
Saat ini warga Aceh juga mengharap bantuan saudara-saurdaranya di tanah air untuk ikhlas membantu guna meringankan beban penderitaannya.
Dalam keadaan musibah itu saya teringat nasihat ustaz di tempat saya mengaji yang mengulas Surah Ar-Rum: 41 bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi akibat perbuatan tangan manusia sendiri. Penjelmaan dari ayat tersebut saya kaitkan dengan pengetahuan ilmu alam di SMA dulu bahwa secara ekologis banjir dan tanah longsor merupakan dinamika alam. Namun, hujan dengan intensitas yang tinggi dan hutan yang berfungsi sebagai resapan air telah mengalami penyusutan drastis akibat pembalakan liar dan konversi alam.
Kondisi ini memperbesar potensi banjir dan longsor di saat curah hujan tinggi.
Hal tersebut terbukti dengan banyaknya kayu gelondongan dibawa arus yang memorak- porandakan perkampungan dan kota seperti terjadi di Kabupaten Aceh Tamiang.
Dengan demikian, banjir dan tanah longsor yang tejadi akhir November 2025 itu tidak dapat disebut sebagai bencana ekologis semata, tetapi juga turut andil besar dari kesalahan tata kelola lingkungan hidup selama ini. Hutan yang seharusnya benteng alami penahan air hujan dan longsor kini semakin menyusut. Daerah aliran sungai mengalami pendangkalan akibat sedimentasi, sehingga kapasitas sungai menurun drastis.
Pembangunan permukiman yang tidak terencana dengan baik di kawasan bencana memperparah risiko.
Dalam konteks bencana banjir akhir November 2025, hujan deras yang terjadi di Aceh seharusnya masih dapat teratasi oleh alam apabila kondisi lapangan terjaga baik.
Aceh memiliki hutan yang lebat dan telah ditetapakan sebagai hutang lindung, tetapi akhir-akhir ini telah terjadi pembalakan liar dan digantikan dengan lahan sawit yang akar serabutnya tidak mampu menyerap air.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ZUBAIR-2025555.jpg)