Minggu, 10 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Dari Kebun Sekolah, Belajar Menjaga Alam dan Lingkungan

Amanah inilah yang saya rasakan ketika mendampingi kegiatan ekstrakurikuler berkebun Agrokids di SD Sukma Bangsa Lhokseumawe,

Tayang:
Editor: mufti
SERAMBINEWS.COM/IST/IST
GUNAWAN, Guru SD Sukma Bangsa Lhokseumawe dan penyintas banjir Aceh Utara, melaporkan dari Kota Lhokseumawe 

Kegiatan ini melatih kerja sama. Anak-anak berbagi tugas, mulai dari menyiram, menyiangi, hingga mencatat pertumbuhan tanaman. Nilai gotong royong atau ‘meuseraya’ yang hidup dalam budaya Aceh kembali dihidupkan dalam praktik sederhana, sebagaimana semangat kebersamaan yang juga muncul saat masyarakat menghadapi banjir.

Bagian penting lain dari Agrokids adalah pemanfaatan sampah organik menjadi pupuk kompos. Anak-anak belajar bahwa tidak semua sampah harus dibuang. Sebagian dapat dikembalikan ke tanah. Praktik ini menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini dan membentuk pola pikir ramah lingkungan.

FAO menyebut kebun sekolah sebagai sarana efektif untuk mengenalkan sistem pangan dan pengelolaan lingkungan. Agrokids menjadi contoh penerapan gagasan tersebut dalam konteks lokal Aceh.

Saatnya panen

Suasana kebun terasa berbeda ketika masa panen tiba. Anak-anak datang lebih awal dengan wajah penuh antusias. Sayuran yang mereka rawat selama beberapa minggu kini tumbuh subur: kangkung memanjang, sawi rimbun, mentimun bergelantungan, hingga jagung yang mulai menguning.

Dalam Islam, menanam dan merawat alam adalah bagian dari amal kebaikan. Rasulullah saw bersabda bahwa setiap tanaman yang dimakan makhluk lain menjadi sedekah bagi penanamnya.

Kegiatan panen menjadi momen belajar yang bermakna. Anak-anak memetik hasil kebun dengan hati-hati dan bangga. “Ini yang saya tanam, Bu,” ujar seorang anak sambil menunjukkan hasil kebunnya.

Kalimat sederhana itu mengandung kesadaran bahwa hasil tidak datang secara instan.

Melalui panen, anak-anak belajar mensyukuri proses. Mereka mengingat hari-hari menyiapkan tanah, menyemai benih, hingga merawat tanaman. Saat ada tanaman yang tumbuh kurang baik, mereka belajar menerima dan memperbaikinya.

Dalam budaya Aceh, rasa syukur diajarkan sejak dini. Panen menjadi momentum untuk memahami bahwa makanan berasal dari alam dan kerja keras manusia. Sayur yang dipanen tidak sekadar dibawa pulang, tetapi dinikmati dan dibagikan bersama.

Kegiatan ini juga menumbuhkan empati dan kepedulian. Anak-anak yang awalnya enggan menyentuh tanah kini justru bangga dengan tangan kotor mereka. Kesadaran ini menjadi bekal penting bagi generasi Aceh di tengah ancaman banjir dan kerusakan lingkungan.

Mitigasi bencana

Aceh dan Sumatra adalah wilayah rawan banjir dan longsor. Salah satu penyebabnya adalah berkurangnya tutupan vegetasi dan buruknya pengelolaan lingkungan.

Melalui Agrokids, anak-anak dikenalkan peran tanaman dalam menyerap air, mengikat tanah, dan menjaga keseimbangan alam.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menegaskan bahwa vegetasi berperan besar dalam mengurangi risiko bencana. Dengan menanam dan merawat tanaman sejak dini, anak-anak belajar menjadi bagian dari solusi. Dalam kearifan lokal Aceh dikenal pepatah, “Ala ta peulara, musibah ta peugah”. Pepatah ini memiliki makna mendalam yang mengajarkan tentang tanggung jawab dan kejujuran. Sesuatu yang baik atau berharga harus kita pelihara/jaga. Sedangkan musibah, kesalahan, atau hal buruk harus kita beri tahukan, ungkapkan, atau akui.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved