KUPI BEUNGOH
Simpang Lima di Kala Malam: Refleksi tentang Keindahan, Ketertiban, dan Identitas Aceh
Bahwa hidup, seperti lalu lintas, membutuhkan rambu. Bahwa kebebasan tanpa aturan hanya akan melahirkan kekacauan.
Oleh Drs. Isa Alima*)
Malam di Banda Aceh memiliki pesona tersendiri. Khidmatnya seperti doa yang dilantunkan perlahan, namun sarat makna. Di Bundaran Simpang Lima, denyut nadi kota terasa begitu kuat.
Cahaya lampu menembus kegelapan, memantul di aspal yang basah oleh embun, membingkai monumen kebanggaan kota dengan wibawa yang tenang.
Dari kejauhan, tulisan "Banda Aceh" menyala, seakan menegaskan identitas: inilah pusat kota, tempat berbagai arah bertemu dan nilai-nilai diuji.
Bundaran Simpang Lima di waktu malam bukan sekadar ruang lalu lintas. Ia adalah panggung peradaban.
Di sana, monumen menjulang ke langit, simbol harapan dan keteguhan. Kendaraan bergerak tertib, mengikuti irama lampu lalu lintas yang setia bekerja tanpa lelah.
Lampu merah menyala, tegas namun bijak, mengingatkan setiap pengendara untuk berhenti, menahan laju, dan memberi ruang bagi keselamatan bersama.
Di sudut pandang mata, terpampang jelas lampu peringatan bertuliskan "Taati Rambu Lalu Lintas dan Marka Jalan".
Kalimat itu sederhana, namun sarat makna. Ia bukan sekadar imbauan teknis, melainkan seruan moral. Di kota yang menjunjung tinggi syariat, ketaatan di jalan raya adalah cerminan ketaatan dalam hidup.
Disiplin berlalu lintas adalah wujud kecil dari akhlak besar: menghormati hak orang lain, menahan ego, dan mendahulukan kemaslahatan bersama.
Keindahan panorama Simpang Lima pada malam hari mengajarkan kita bahwa estetika sejati tidak berdiri sendiri.
Cahaya lampu akan kehilangan maknanya jika diiringi kebut-kebutan. Monumen akan tampak hampa bila aturan diabaikan. Kota akan kehilangan rohnya bila warganya abai pada tertib dan adab.
Karena itu, keindahan visual harus berjalan seiring dengan keindahan perilaku.
Baca juga: Tak Terbendung! Harga Emas di Banda Aceh Kembali Naik, Kini Dijual Segini per Mayam, 13 Januari 2026
Banda Aceh adalah Serambi Mekkah. Sebutan itu mengandung amanah sejarah, budaya, dan spiritual.
Kota ini bukan hanya etalase bangunan dan tata kota, melainkan miniatur Provinsi Aceh, cermin nilai, sikap, dan arah masa depan.
Maka, ketika lampu lalu lintas dipatuhi dan marka jalan dihormati, sesungguhnya kita sedang merawat wajah Aceh di mata dunia.
Tertib adalah keindahan
Di Simpang Lima, malam menjadi guru yang diam. Ia mengajarkan bahwa kemajuan tidak selalu bising.
Ia hadir dalam keteraturan, dalam kesabaran menunggu lampu hijau, dalam kesediaan berhenti walau jalan tampak lengang.
| Perang dan Damai – Bagian 10, Keberlangsungan Peradaban Keamanan Manusia, Stop War |
|
|---|
| Perang dan Damai - Bagian 9, Perjalanan Ke Manado Kota Toleransi |
|
|---|
| Prabowo, Doli, dan Mualem di Balik Perpanjangan Otsus Aceh |
|
|---|
| Sosok Ismail Rasyid, Pengusaha Asal Aceh yang Menembus Batas-batas Kemungkinan |
|
|---|
| Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Bundaran-Simpang-Lima-Kota-Banda-Aceh_2026.jpg)