KUPI BEUNGOH
Simpang Lima di Kala Malam: Refleksi tentang Keindahan, Ketertiban, dan Identitas Aceh
Bahwa hidup, seperti lalu lintas, membutuhkan rambu. Bahwa kebebasan tanpa aturan hanya akan melahirkan kekacauan.
Di sanalah kota ini menemukan martabatnya: ketika warganya memilih taat, bukan karena diawasi, tetapi karena sadar.
Baca juga: Tol Sigli-Banda Aceh Dibuka 24 Jam hingga 22 Januari 2026 untuk Dukung Distribusi Bantuan
Keindahan Bundaran Simpang Lima di waktu malam adalah undangan refleksi.
Bahwa hidup, seperti lalu lintas, membutuhkan rambu. Bahwa kebebasan tanpa aturan hanya akan melahirkan kekacauan.
Dan bahwa Aceh, dengan seluruh kekhasan syariahnya, menuntut keselarasan antara cahaya fisik dan cahaya nurani.
Jika keindahan kota diikuti oleh keindahan menaati aturan, maka Banda Aceh tidak hanya akan terang di malam hari, tetapi juga bercahaya dalam peradaban.
Dari Simpang Lima, pesan itu mengalir ke setiap sudut kota: tertib adalah keindahan, taat adalah kemuliaan, dan disiplin adalah jalan sunyi menuju keselamatan dunia dan akhirat.
*) PENULIS adalah Pemerhati Sosial Budaya dan Kebijakan Publik Aceh
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI
| Perang dan Damai - Bagian 9, Perjalanan Ke Manado Kota Toleransi |
|
|---|
| Prabowo, Doli, dan Mualem di Balik Perpanjangan Otsus Aceh |
|
|---|
| Sosok Ismail Rasyid, Pengusaha Asal Aceh yang Menembus Batas-batas Kemungkinan |
|
|---|
| Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia |
|
|---|
| Peusijuk: Dari Warisan Budaya ke Katalisator Pendidikan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Bundaran-Simpang-Lima-Kota-Banda-Aceh_2026.jpg)