Kamis, 14 Mei 2026

Opini

Bom Waktu MBG

ISTILAH “bom waktu MBG” mungkin terdengar provokatif, tetapi ia justru relevan untuk konteks hari ini. Dalam urusan pangan dan gizi

Tayang: | Diperbarui:
Editor: mufti
IST
Dr Fairus M Nur Ibrahim MA 

Akhirnya, pengawalan publik menjadi kunci. Orang tua, guru, akademisi, dan masyarakat sipil harus berani bertanya: apa isi menu MBG hari ini? Dari mana bahannya? Seberapa tinggi tingkat pemrosesannya? Apakah anak dikenalkan pada pangan alami atau sekadar diberi versi “lebih rapi” dari jajanan pabrikan?

Orang tua perlu ikut memantau makanan yang diasup sang buah hati melalui program mulia ini. Sekolah pun patut memosisikan MBG sebagai sarana edukasi. Anak tidak hanya diberi makan, tetapi juga diajak belajar mengenal pangan yang sehat dan berorientasi untuk menghargai kesehatan tubuh mereka sendiri.

Selama ini ada kesan kalau orang tua, sekolah, dan masyarakat hanya sebagai kelompok pasif pada Program MBG, padahal mereka merupakan pihak paling strategis yang berkepentingan langsung untuk melakukan kontrol sosial, umpan balik kualitas makanan, dan juga penjaga kesinambungan pola makan di rumah. Tanpa dukungan orang tua dan sekolah, MBG mudah tereduksi menjadi rutinitas administratif yang kehilangan ruh.

Padahal, kegagalan atau keberhasilan MBG tidak pernah berdiri sendiri. Ia adalah hasil interaksi banyak kepentingan: kebijakan, anggaran, ilmu gizi, logistik, industri, dan bahkan orang tua selaku si pemilik anak. Secara struktur, MBG adalah program multi-aktor: politik di pusat, teknokratik di badan dan kementerian, eksekusi di madrasah dan sekolah, lalu dampaknya di tubuh anak.

Dengan pengawalan dan kontrol sosial yang tepat, MBG dapat memiliki desain dan bahkan potensi luar biasa sebagai kebijakan transformatif, yakni menjadi pintu masuk perbaikan sistem pangan nasional dengan menggerakkan ekonomi lokal sekaligus memperbaiki kesehatan publik.

Syaratnya cuma satu, yakni orientasi kesehatan jangka panjang harus mengalahkan logika kepraktisan dan kepentingan industri pangan ultra-proses. Bahan makanan segar dibeli dari petani lokal, ikan dari nelayan setempat, umbi dan sayur di daerah penyaluran MBG dijadikan sebagai menu.

Karena itu, tanpa kritik, pengawasan, dan transparansi, bom waktu dapat terus berdetak tanpa suara. Kotak makan MBG memang tampak rapi, bersih, dan seragam, tapi yang lebih penting dari itu adalah apa yang berulang kali masuk ke dalam tubuh anak-anak kita melalui wadah itu. Hari ini, melalui MBG, anak-anak kenyang.

Namun, masa depan tidak diukur dari rasa kenyang sesaat. Ia ditentukan oleh apa yang perlahan membentuk darah, organ, dan metabolisme mereka. MBG bisa menjadi perisai kesehatan bangsa, atau sebaliknya bom waktu yang meledak ketika generasi ini dewasa nanti. Pilihan itu sedang kita buat sekarang, diam-diam, lewat apa yang kita taruh di piring anak-anak kita.(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved