KUPI BEUNGOH
Refleksi Hari Pers Nasional: Kontribusi Serambi Indonesia dalam Mencerdaskan Cucu Iskandar Muda
Suara-suara apresiasi terhadap jasa insan pers, terutama jurnalis, menggema di seluruh Indonesia, termasuk di Aceh.
Oleh: Jafar Insya Reubee*)
Setiap tanggal 9 Februari, pemerintah dan insan media (pers) di seluruh Indonesia memperingati Hari Pers Nasional (HPN).
Suara-suara apresiasi terhadap jasa insan pers, terutama jurnalis, menggema di seluruh Indonesia, termasuk di Aceh.
Pada tanggal yang sama, media terbesar di Aceh, yaitu Harian Serambi Indonesia, juga merayakan Hari Ulang Tahun.
Serambi Indonesia didirikan di kawasan Lampriek Banda Aceh pada 9 April 1989.
Hari Senin 9 Februari 2026 ini Serambi Indonesia berusia genap berusia 37 tahun. Tentu saja ini bukan lagi usia anak-anak, bukan pula remaja.
Serambi Indonesia telah menjelma menjadi dewasa. Ia sangat berperan dalam mencerdaskan penduduk Aceh.
Ia telah memberikan kontribusi sangat banyak bagi penduduk Aceh yang merupakan cucu-cucu dari Sultan Iskandar Muda, Sang Raja Legendaris Tanah Melayu dalam Kesultanan Aceh Darussalam (1496-1948).
Reflexy Atas Jasa Serambi Indonesia
Hari ini kita pantas melakukan refleksi (perenungan) dan kontemplasi (penghayatan) atas peran, jasa dan kontribusi Serambi Indonesia. Artikel ini menyoroti seputar isu tersebut.
Pada awal pendiriannya Serambi Indonesia hanya berupa satu jenis media, yaitu koran cetakan.
Koran Serambi Indonesia terdistribusi dengan baik ke seluruh penjuru Aceh, hingga pelosok desa sekalipun.
Saat itu tak ada pilihan bacaan berita lokal, nasional dan internasional yang dicintai oleh orang Aceh selain koran Serambi Indonesia.
Baca juga: HUT ke-37 Serambi Indonesia, Komitmen Jurnalisme di Tengah Disrupsi Zaman
Koran Serambi Indonesia di warung kopi ditunggu warga sejak usai subuh, dibaca bergilir oleh penikmat kopi pancong sampai kertas koran runyoh (lusuh) pada petang hingga malam harinya.
Pokoknya, kalau belum baca koran Serambi Indonesia akan dianggap belum update.
Mereka juga menerka-nerka apa isi koran pada esok harinya, terutama pada masa-masa konflik Daerah Operasi Militer (DOM), Darurat Sipil (DS) dan Darurat Militer (DM).
Serambi Group, Kian Sempurna
Dalam konsep permediaan, terdapat tiga jenis media dalam dunia pers, yaitu media cetak, media elektronik dan media digital atau online.
Jika kita bawa Serambi Indonesia ke dalam wazan (timbangan) ini, maka Serambi Indonesia semakin sempurna.
Serambi Indonesia terkini di bawah kepemimpinan Waled Zainal Arifin M. Nur S.Pd.I telah memiliki semua media sesuai konsepnya yang terpadu dalam Serambi Indonesia Group di bawah PT Aceh Media Grafika (AMG).
Serambi Indonesia kini memiliki media cetak (Harian Serambi Indonesia), media elektronik (Radio Serambi FM), dan sejumlah media digital (www.acehtribunnews.com, www.prohaba.com dan aneka media sosial).
Peran Social Control
Dalam setahun terakhir, saya intens mempelajari konsep media dan peranan pers dalam masyarakat.
Tidak hanya sebatas membaca berbagai buku dan artikel jurnal, saya juga rutin berbincang mengenai hal ini dengan dosen Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Hasan Basri M. Nur PhD.
Saya paham bahwa belajar itu tak hanya cukup dengan membaca saja, tapi mesti memiliki guru agar sanad ilmunya jelas.
Demikian kata-kata yang masih membekas di benak saya kala beut (ngaji) bak rangkang di pedalaman Pidie pada masa kecil silam.
“Terdapat lima fungsi media, salah satunya adalah social control,” ungkap Hasan Basri M. Nur yang alumni PhD dari UUM Malaysia dalam diskusi di Aceh Corner Green Wood Negeri Selangor beberapa waktu lalu.
Baca juga: HUT Ke-37 Serambi Indonesia, Tiga Pasien Bibir Sumbing Jalani Operasi Gratis
Nah, Serambi Indonesia telah memainkan semua fungsi media, termasuk kontrol sosial.
Berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat selama 37 tahun telah disuarakan oleh Serambi Indonesia.
Berita-berita bermuatan kontrol sosial yang diangkat oleh Serambi Indonesia sebagian besar tertangani dengan baik, mendapat respon segera dari pihak yang disorot. Luar biasa jasa ini.
Menyoal Peran Parlemen
Sebenarnya terdapat lembaga yang secara khusus diberikan fungsi social control, yaitu lembaga legislatif, seperti DPRK, DPRA, dan DPR-RI.
Bahkan, orang-orang yang duduk di gedung parlemen digaji dari sumber uang pajak rakyat jelata.
Tapi terkadang orang-orang yang duduk di lembaga DPRK dan DPRA ikut larut dalam kemewahan dan lupa daratan.
Mereka lupa memahami jeritan rakyat Aceh yang sebagian besar masih miskin. Mereka terlihat seperti lupa fungsinya berada di lembaga dewan itu.
Baca juga: Muzakir Jadi Pelari Tercepat Serambi Run 5K Ajang Olahraga dan Solidaritas untuk Korban Banjir Aceh
Ada anggota dewan yang mulai terlihat sombong, bahkan ada yang tega melihat dengan ujung mata pada orang-orang yang telah mengantarnya ke gedung parlemen, dan lain-lain. Terlalu!
Ada kelompok manusia yang terkadang lupa bahwa tak ada yang abadi dalam kekuasaan dan kemewahan.
Perlu menjadi renungan: Apakah tidak cukup kisah Firaun dan Qarun sebagai iktibar?
Semua akan sirna jika saatnya tiba. Presiden Trump di era post-modern juga redup tak lama lagi. Tunggu saja!
Terima Kasih Serambi Indonesia
Kembali ke jasa Serambi Indonesia sungguh luar biasa. Serambi Indonesia telah berbuat sangat banyak dalam membuka wawasan umat (terutama warga Aceh).
Selaku pembaca Serambi Indonesia, saya hendak menyampaikan terima kasih pada Serambi Indonesia dan groupnya.
Semoga semua pimpinan, wartawan, karyawan, hingga loper koran Serambi Indonesia selalu sehat, mudah rezeki dan terus berbuat baik kepada umat.
Akhirnya, kita harapkan agar Serambi Indonesia istiqamah pada prinsip berpihak pada kebenaran pada masa-masa mendatang. Jangan pernah lelah menjadi lilin, cahaya penerang bagi cucu Iskandar Muda.
*) PENULIS adalah Pemerhati Pers asal Aceh, berdomisi di Negeri Selangor Malaysia
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI
| Rakyat tidak Pakai Dolar, Tapi Tetap Merasakan Getarnya |
|
|---|
| Aceh di Persimpangan: Ketika Mimpi Besar Tersandera Lemahnya Tata Kelola dan Krisis Prioritas Publik |
|
|---|
| Kita Punya Emas Energi, Tapi Mengapa Aceh Selalu Gelap? |
|
|---|
| Merdeka di Bendera, Gelap di Rumah Rakyat: PLN dan Janji yang Padam |
|
|---|
| Retaker UKMPPD dan Sistem Pendidikan Dokter |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Jafar-Insya-Reubee-Pemerhati-Pers-asal-Aceh-berdomisi-di-Negeri-Selangor-Malaysia.jpg)