Jurnalisme Warga
Anak Broken Home di Bangku Sekolah
Mereka duduk di bangku sekolah seperti anak lainnya, tetapi membawa beban emosional yang sering kali luput dari pandangan.
Tumbuh di lingkungan keluarga tidak harmonis juga sama menderitanya. Meskipun orang tua masih bersama, tetapi susah bersatu. Terlihat utuh dari luar, tapi retak di dalam.
Urusan finansial, kesibukan pekerjaan, gangguan pihak ketiga, perbedaan prinsip kerap mewarnai alasan terus berkonflik. Perseteruan selalu terjadi hingga tega menyakiti satu sama lain.
Hari-hari di rumah ibarat berjalan di atas bom waktu. Situasi terasa menegangkan, tidak tenang dan pertengkaran bisa meledak kapan saja hanya karena hal sepele. Teriakan, makian, pukulan, dan barang-barang pecah belah melayang adalah tontonan biasa, selebihnya saling diam dan enggan peduli.
Rumah kehilangan rasa aman yang merupakan fondasi penting mental anak bertumbuh. Anak merasa cemas, takut bahkan stres tiap kali menyaksikan dua pihak yang paling disayangi bertikai. Ia hanya bisa meringkuk di sudut sepi menangisi keadaan atau memilih tidak pulang mencari pelarian di luar. Tidak ada ruang berbagi cerita, tidak ada lagi tempat bermanja. Alih-alih menjadi pelindung dan figur panutan, orang tua sibuk mengedepankan ego pribadi tanpa menghargai keberadaan buah hatinya.
Yang sering dilupakan, anak dari keluarga ‘broken’ tumbuh dengan beban emosional lebih berat dari yang terlihat. Kondisi memaksa mereka mengambil tanggung jawab yang tidak semestinya, menjadi “orang tua” bagi ayah ibu, menjadi penengah, memastikan suasana tidak makin panas atau mengasuh emosi orang tua agar pertengkaran tidak berkepanjangan.
Tak jarang sebagai tempat luapan amarah meskipun ia sendiri tidak paham di mana salahnya.
Perilaku di sekolah
Perceraian orang tua dan lingkungan keluarga penuh konflik memberikan konsekuensi serius pada kondisi psikologis. Penelitian menyatakan anak dari orang tua yang bercerai rentan terlibat masalah di sekolah. Meski tidak dimungkiri, beberapa anak ‘broken home’ lebih baik dalam sikap, bahkan berprestasi.
Dari sisi akademik, tantangan yang dihadapi guru adalah motivasi belajar anak-anak ini cenderung menurun. Kehilangan ayah atau ibu sama artinya kehilangan dukungan
sehingga membuat semangat bersaing memudar. Anak kesulitan melihat sekolah sebagai prioritas karena tidak ada lagi figur yang selama ini membimbing, menyemangati, dan memberi arah. Pada titik tertentu keadaan itu berisiko mengantarkannya pada kondisi putus sekolah.
Pengalaman tidak menyenangkan di rumah turut memengaruhi aktivitas belajarnya di sekolah. Tidur saat guru menerangkan, sulit fokus, tidak bersemangat, bolos pada jam belajar berujung pada menurunnya nilai. Tiap guru bertanya jawaban selalu tidak jelas.
Prestasi yang sebelumnya baik-baik saja, jadi berantakan karena pikiran terganggu oleh kenyataan pahit di rumah.
Perubahan perilaku anak korban ‘broken home’ biasa ditunjukkan dengan menjadi lebih pendiam, pemurung, bahkan menarik diri dari pergaulan.
Ia berlaku demikian bukan karena tidak ada sebaya yang mau menjadi teman, tetapi karena perasaan malu pada kondisi keluarga sehingga sulit membina hubungan dan merasa nyaman dalam kesendirian.
Hal tersebut juga merupakan mekanisme pertahanan diri akibat trauma, hilangnya rasa aman dan perasaan rendah diri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Nelliani-90ikl.jpg)