Jurnalisme Warga
Anak Broken Home di Bangku Sekolah
Mereka duduk di bangku sekolah seperti anak lainnya, tetapi membawa beban emosional yang sering kali luput dari pandangan.
Di sisi lain, anak-anak ini cenderung agresif. Kurang menghargai guru, kasar, tidak
sopan, marah jika ditegur, bahkan menjadi pemicu kegaduhan.
Perilaku tersebut disebabkan ketidakmampuan mengekspresikan diri dengan nyaman ketika di rumah karena kalah secara kekuatan atau ‘power’.
Oleh karena itu, ia melampiaskan emosinya pada teman atau guru. Anak pendiam di rumah, tetapi berubah drastis saat di luar bisa jadi ia sedang mencari perhatian dari lingkungan pun sebagai bentuk protes atas pengalaman tidak menyenangkan yang dihadapi.
Bagi guru, tantangan lain muncul ketika sekolah butuh kerja sama. Namun, orang tua
tidak merespons. Mereka terkesan menghindar, saling lempar tanggung jawab saat guru ingin berkomunikasi, seolah persoalan anak bukan hal penting untuk dibicarakan. Padahal, komunikasi guru dengan wali siswa adalah solusi efektif dari setiap masalah anak di sekolah.
Sekolah sebagai ruang aman ‘Broken home’ bukalah akhir dari segalanya, melainkan awal perjalanan membentuk resiliensi, kemandirian, dan masa depan yang lebih baik. Meski retaknya hubungan orang tua menimbulkan luka mendalam. Namun, anak berhak bahagia, punya asa dan sukses di hidupnya. Jika rumah tidak lagi bisa memberikan rasa aman, sekolah masih punya kesempatan membantunya merawat luka dan menjaga harapan tetap menyala.
Untuk itu, sekolah penting menyediakan lingkungan belajar inklusif, penuh empati, dan mendukung anak bertumbuh secara sehat. Guru harus hadir sebagai figur yang mengayomi, penuh kasih atau sahabat yang tidak mudah menghakimi, yang membantunya membangun
kembali kepercayaan diri dan motivasi belajar. Karena sejatinya, sekolah bukan semata ruang transfer pengetahuan, tetapi juga rumah kedua yang mampu menyembuhkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Nelliani-90ikl.jpg)