Jurnalisme Warga
Anak Broken Home di Bangku Sekolah
Mereka duduk di bangku sekolah seperti anak lainnya, tetapi membawa beban emosional yang sering kali luput dari pandangan.
NELLIANI, M.Pd., Guru SMA Negeri 1 Baitussalam, Aceh Besar, melaporkan dari Banda Aceh
Tidak semua anak melangkah ke sekolah dengan harapan, beberapa di antaranya datang dengan luka batin dan pikiran tak menentu. Salah satunya adalah anak ‘broken home’.
Anak yang terpaksa hidup dalam bayang-bayang perceraian, konflik orang tua, kehilangan ayah atau ibu. Mereka duduk di bangku sekolah seperti anak lainnya, tetapi membawa beban emosional yang sering kali luput dari pandangan.
Dalam langkah yang dipaksakan, dalam penampilan yang sering kali berantakan mereka ada. Namun, jiwa raga tidak sepenuhnya ada. Bersekolah, tapi tidak belajar. Hadir di ruang kelas hanya memenuhi daftar hadir (presensi), duduk mendengar, tapi tidak berusaha memahami.
Selebihnya bertingkah yang mengundang perhatian.
Anak yang kesepian
Anak ‘broken home’ rentan merasakan kesepian. Rasa kehilangan, terasing, dan hampa mendalam karena kurang kasih sayang dan kehangatan rumah. Rumah yang dulunya semarak kini terasa berbeda. Tidak ada lagi rutinitas ibu menyiapkan sarapan atau suara tegas ayah
menyuruh bergegas. Tidur kemalaman, bangun kesiangan, mau apa terserah saja, tidak ada lagi yang menghiraukan.
Hidupnya bagai hilang arah. Setiap detik berjalan adalah sunyi yang sulit dijelaskan.
Perhatian, kasih sayang, ketegasan telah pergi bersama sosok yang mereka sendiri tidak mengerti kenapa memutuskan tidak lagi bersama.
Perpisahan orang tua membuat anak dilema dan serbasalah. Mereka bingung harus ikut siapa. Tinggal dengan ayah atau bersama ibu. Terkadang terpaksa ikut nenek, keluarga atau panti asuhan, karena keduanya enggan bertanggung jawab. Semua kondisi itu dijalani dengan rasa kecewa, sedih, bingung, dan ingin berontak.
Mirisnya lagi, tidak sedikit yang harus hidup sendiri. Masak sendiri, mengurus rumah sendiri hingga cari uang sendiri.
Orang tua baru keberatan jika seatap, saudara pun tidak sudi menerima. Siap tidak siap, hidup sendiri adalah pilihan yang terpaksa dijalani.
Perceraian memaksa anak-anak ini menanggung beban yang belum saatnya. Sebagian harus menghidupi diri seraya menafkahi keluarga. Sebagian lainnya terpaksa menjadi orang
tua pengganti bagi adik-adik yang masih kecil karena pengabaian ayah ibu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Nelliani-90ikl.jpg)