Jurnalisme Warga
Menghidupkan Tradisi Membaca di Sukma Bangsa Lhokseumawe
Sebut saja namanya Bung Hatta. Teramat cinta, ia pernah membahasakan bahwa rela dibui dengan ketentuan, bersama buku-bukunya dalam kurungan
Lalu, kini kita bertanya, kita bisa melakukan apa? Dan, tentu saja sekolah berada dalam barisan paling terdepan terkait ini. Sekolah harus berfungsi sebagai wahana yang mendorong siswa agar gemar membaca. Sekolah sudah sepatutnya memikul tugas besar untuk menyalakan kebiasaan membaca sejak dini, menjadikannya segmen tak terpisahkan dari proses pembelajaran.
Nah, di SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe, membaca telah tumbuh menjadi kebiasaan baik yang kami rawat dengan hati-hati. Kami menamakannya ‘Reading Hour’. Ini merupakan program literasi dengan maksud mendorong minat siswa SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe dalam membaca dan juga menulis.
‘Reading Hour’ ada pada setiap Kamis pagi. Maka, pada hari itu, selama 90 menit, kami—siswa dan guru, tanpa kecuali—berkumpul di area selasar sekolah yang siap sedia dengan buku bacaan masing-masing. Bisa saja pilihan mereka adalah novel, kumpulan puisi, atau buku nonfiksi yang membantu mereka belajar lebih banyak.
Akan tetapi sebelumnya, siswa akan membagi diri ke dalam kelompok-kelompok melingkar, mengambil tempat, dan ada wali kelas bersama mereka. Lalu, aktivitas membaca dimulai setelah suasana tenang dan fokus tercipta.
Beberapa siswa yang memiliki kegemaran membaca, memang sangat menunggu momen ini, dan segera larut dalam kata-kata.
Sedangkan yang lainnya, mula-mula masih saling berbisik dan sedikit riuh. Namun, karena dikelilingi lingkungan yang telah berubah jadi diam, mereka juga akan larut dalam senyap dan buku.
Ada ‘reading log’ yang harus mereka isi. Itu isinya harus beberapa paragraf tentang apa yang telah dibaca, tidak hanya beberapa kalimat.
Kemudian kegiatan belum berakhir karena akan ada dua atau tiga siswa maju ke depan forum dan berbagi apa yang telah mereka baca pada hari tersebut.
Tentu saja, ‘reading hour’ harus tetap kami rawat dengan baik di sekolah kami. Bagi kami, program ini telah berkembang menjadi rumus yang tidak hanya meningkatkan kemampuan akademik siswa, tetapi juga meningkatkan daya cipta dan kreativitas mereka.
Dengan membaca, siswa belajar bahwa membaca dapat menguak cakrawala pemikiran, sedangkan menulis memberi mereka peluang untuk mengalirkan dan berbagi ide.
Kami menggantungkan harapan, ini adalah upaya untuk menyemai benih membaca dan menulis dalam hari-hari masa depan mereka.
Jumat Berbagi Inspirasi Ada program literasi lain yang digagas oleh direktur sekolah. Sebuah program bernama berbagi inspirasi. Itu ada pada Jumat pagi bagi para guru dan karyawan.
Sebelum beraktivitas bersama siswa, dengan membentuk lingkaran besar pada pagi Jumat, setiap orang bergiliran menuturkan apa yang telah mereka baca, sebuah kegiatan kecil untuk berbagi hal baru dan menumbuhkan antusiasme mendengarkan pada lain sisi.
Ragam buku telah hadir pada program yang baru berjalan lebih kurang setahun ini. Mulai dari novel Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer hingga Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela pernah disajikan dalam sesi ini.
Koleksi yang biasanya hanya tersimpan di rak buku seolah memiliki nyawanya. Satu karyawan memaparkan, sedangkan yang lainnya mendengar dengan saksama.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ALIMUDDIN-OKE.jpg)