Jumat, 10 April 2026

Jurnalisme Warga

Menghidupkan Tradisi Membaca di Sukma Bangsa Lhokseumawe

Sebut saja namanya Bung Hatta. Teramat cinta, ia pernah membahasakan bahwa rela dibui dengan ketentuan, bersama buku-bukunya dalam kurungan

Editor: mufti
for serambinews/IST
ALIMUDDIN, Guru Ekonomi dan Koordinator Program ‘Reading Hours’ di SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe, melaporkan dari Kota Lhokseumawe 

ALIMUDDIN, Guru Ekonomi dan Koordinator Program ‘Reading Hours’ di SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe, melaporkan dari Kota Lhokseumawe

Ada orang-orang yang terlalu cinta dengan membaca. Sebut saja namanya Bung Hatta. Teramat cinta, ia pernah membahasakan bahwa rela dibui dengan ketentuan, bersama buku-bukunya dalam kurungan. Ketika pada tahun 1935 oleh Belanda hendak diasingkan ke Digul, Papua Selatan, Bung Hatta meminta kepada pemerintah kolonial untuk membawa serta buku-bukunya yang jumlah totalnya 16 peti.

Nama lain datang dari Presiden Ke-44 Amerika Serikat, Barack Husein Obama yang juga menyimpan cinta mendalam dengan buku dan membaca. Kesibukannya

menjadi orang nomor satu di Negeri Paman Sam, tak membuat Obama kehabisan waktu untuk tetap membaca. Seorang Obama mengawali paginya dengan membaca The Wall Street Journal dan surat kabar yang lain.

Pada malam hari, ia masih menyediakan waktu selama satu jam untuk larut bersama buku-bukunya. Bahkan, dalam masa liburannya, Obama tak ragu membawa kumpulan buku sebagai “sahabat” yang menyertainya rehat dari segudang kesibukan negara.

Hampir di setiap jeda libur ketika ia masih menjabat Presiden, Gedung Putih kerap membagikan daftar bacaan pilihan Obama—deretan judul yang menemaninya menikmati waktu bersama keluarga dan orang-orang terdekat—sekaligus menyiratkan kedalaman pikirannya yang tak pernah reda dalam belajar.

Kesenangan Obama membaca memberinya pandangan tentang visi Amerika ke depan, di mana daya kebersamaan akan menyatu dalam berbagai perbedaan.

Manfaat dari kegiatan membaca itu juga yang membuat Obama mampu menulis dan juga berkomunikasi dengan baik pada setiap orang yang ia temui.

Itulah Bung Hatta dan Obama yang hidup dengan membaca. Mereka menjadikan buku sebagai teman sejati di dalam kehidupan mereka. Lalu, mungkinkah sekarang, kita menemukan sosok seperti Bung Hatta dan Obama lagi?

Hidup adalah membaca?

Persoalannya adalah tak semua orang—jika tak kita sebut segelintir saja—yang mencintai aktivitas membaca. Benar adanya, membaca itu ialah meminta sesuatu yang semakin jarang dimiliki pada zaman yang serbatak sabar ini; kesabaran dan fokus yang mendalam. Karena membaca tak sekadar menggerakkan mata pada kata-kata, akan tetapi juga melibatkan jiwa untuk memahami, merenungkan, dan menyambungkan makna apa yang telah dibaca.

Banyak orang sekarang ini seolah memercayai bahwa membaca adalah pekerjaan berat dan melelahkan.

Orang-orang kini telah terbiasa dengan berita singkat, cepat dan kemasan meriah, hal menarik yang tersedia internet. Akibatnya, membaca buku yang memang membutuhkan fokus, waktu, dan juga imajinasi menjadi aktivitas yang sama sekali tidak asyik, jika tak kita sebut sulit untuk dilakukan.

Tentu saja itu realita yang meresahkan dan juga menakutkan. Jika hal tersebut dibiarkan, bukan tak mungkin buku dan membaca menjadi hal yang asing dan jauh dari kehidupan manusia.

‘Reading Hour’ di SMA Sukma

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved