Selasa, 21 April 2026

Jurnalisme Warga

Dua Dekade Pascatsunami, Siapkah Warga Banda Aceh Menghadapi Ancaman Berikutnya?

Pertanyaan ini menjadi semakin mendesak ketika kita menyadari satu fenomena berbahaya yang sedang terjadi: peluruhan memori akan risiko

Editor: mufti
for serambinews/IST
ANAS HIDAYATULLAH, Anggota Urban Sustainability and Policy Institute (USPI), melaporkan dari Banda Aceh 

ANAS HIDAYATULLAH, Anggota Urban Sustainability and Policy Institute (USPI), melaporkan dari Banda Aceh

Dua dekade telah berlalu sejak tsunami Samudra Hindia 2004 menghantam Banda Aceh dan sekitarnya dengan kekuatan yang menghancurkan.

Kini, gedung-gedung tinggi menjulang, jalan-jalan rapi tertata, dan kehidupan tampak kembali normal. Namun, apakah pembangunan fisik yang mengesankan ini benar-benar menjamin keselamatan warga ketika gelombang tsunami berikutnya datang?

Pertanyaan ini menjadi semakin mendesak ketika kita menyadari satu fenomena berbahaya yang sedang terjadi: peluruhan memori akan risiko.

Memori memudar, bahaya mengintai

Penelitian terbaru yang saya lakukan di Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh, mengungkap kenyataan yang mengkhawatirkan. Menggunakan pendekatan Agent-Based Model (ABM)—sebuah metode simulasi komputasional yang mampu memodelkan perilaku masyarakat dalam jangka Panjang—ditemukan bahwa tanpa intervensi kebijakan yang terstruktur, tingkat kesiapsiagaan masyarakat akan terus menurun secara gradual dalam 20 tahun ke depan.

Fenomena ini bukan sekadar asumsi. Data dari 100 responden di Kecamatan Baiturrahman menunjukkan pola yang konsisten: semakin jauh jarak waktu dari peristiwa 2004, semakin berkurang pula kesadaran akan risiko tsunami.

Generasi muda yang tidak mengalami langsung trauma 2004 cenderung memiliki tingkat kewaspadaan yang lebih rendah. Bahkan, di antara para penyintas, rasa takut yang sempat mengakar perlahan terkikis oleh rutinitas kehidupan sehari-hari.

Salah satu simulasi yang saya jalankan menggambarkan skenario ‘Business As Usual’ (BAU) jika pemerintah dan masyarakat melanjutkan pola yang ada saat ini tanpa perubahan signifikan.

Hasilnya mengejutkan: dalam 20 tahun, tingkat resiliensi komunitas bisa anjlok hingga 30-40 persen. Lebih mengkhawatirkan lagi, erosi memori risiko ini berkorelasi kuat dengan meningkatnya intensi migrasi, terutama di kalangan keluarga muda berpendidikan.

Jebakan ganda

Salah satu temuan paling mengejutkan dari penelitian ini adalah apa yang saya sebut sebagai "poverty trap"alias jebakan kemiskinan dalam konteks mitigasi bencana. Ketika pemerintah menjalankan program edukasi kebencanaan tanpa disertai dukungan ekonomi, yang terjadi justru kontraproduktif. Kelompok masyarakat berpendapatan rendah menjadi semakin sadar akan bahaya yang mereka hadapi, tetapi tidak memiliki kapasitas finansial untuk beradaptasi seperti membeli properti di zona aman, membangun rumah tahan gempa, atau bahkan sekadar menyiapkan tas siaga bencana yang memadai.

Hasil simulasi menunjukkan bahwa intervensi edukasi tunggal justru dapat memicu stres psikologis yang kontraproduktif.

Masyarakat miskin tahu mereka berada dalam bahaya, tapi tidak mampu melakukan apa-apa. Ini seperti memberi tahu seseorang bahwa mereka berdiri di atas jurang, tapi tidak memberikan tali untuk memanjat keluar dari tubir jurang.

Sebaliknya, intervensi ekonomi, misalnya melalui subsidi untuk renovasi rumah tahan gempa atau bantuan modal usaha untuk memperkuat kapasitas ekonomi terbukti efektif meningkatkan kapasitas adaptif. Namun, intervensi ekonomi saja juga tidak cukup jika tidak diiringi dengan pengetahuan yang memadai tentang bagaimana menggunakan sumber daya tersebut untuk mitigasi risiko bencana.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved