Jurnalisme Warga
Dua Dekade Pascatsunami, Siapkah Warga Banda Aceh Menghadapi Ancaman Berikutnya?
Pertanyaan ini menjadi semakin mendesak ketika kita menyadari satu fenomena berbahaya yang sedang terjadi: peluruhan memori akan risiko
Yang dibutuhkan bukan reaksi sporadis terhadap ancaman, melainkan kewaspadaan yang konsisten dan terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk memutus siklus ini, diperlukan pendekatan edukasi yang berbeda. Bukan lagi ceramah yang menakut-nakuti, tetapi integrasi pengetahuan kebencanaan dalam kurikulum sekolah sejak dini, pelatihan evakuasi yang rutin dan menyenangkan (bukan menakutkan), serta kampanye publik yang menekankan kesiapsiagaan sebagai gaya hidup, bukan beban.
Warisan bagi penerus
Dua dekade pascatsunami, Banda Aceh telah menunjukkan kebangkitan yang luar biasa. Namun, kebangkitan fisik tidak otomatis menjamin keberlanjutan resiliensi. Peluruhan memori terhadap risiko adalah musuh yang tidak terlihat, tetapi sama berbahayanya dengan gelombang tsunami itu sendiri. Kita memiliki kesempatan dan tanggung jawab untuk memastikan bahwa pelajaran berharga dari tragedi 2004 tidak hilang ditelan waktu. Ini bukan hanya tentang membangun tembok laut yang lebih tinggi atau gedung evakuasi yang lebih banyak. Ini tentang membangun budaya kesiapsiagaan yang tertanam dalam DNA sosial masyarakat Banda Aceh.
Pertanyaan yang harus kita jawab bukan lagi "apakah kita bisa bangkit dari bencana?" tetapi "apakah kita bisa tetap siap untuk bencana berikutnya?"
Jawabannya ada di tangan kita: pemerintah yang merumuskan kebijakan terpadu, akademisi yang terus meneliti dan mengingatkan, dan masyarakat yang tidak boleh lengah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ANAS-HIDAYATULLAH-OKE.jpg)