Rabu, 22 April 2026

Opini

Ramadhan Menggugat Ekonomi “Barat” Tanpa Ruh

Ekonomi modern menghitung output. Ramadhan menumbuhkan makna. Ekonomi mengejar pertumbuhan. Ramadhan membangun kedewasaan jiwa

Serambinews.com/HO
M. Shabri Abd. Majid adalah Profesor Bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Oleh: M. Shabri Abd. Majid*)

Ramadhan, bagi umat Islam, adalah bulan rahmat. Bulan pengampunan. Bulan pembentukan jiwa. Bulan ketika manusia belajar  menahan diri agar tidak diperbudak oleh dirinya sendiri.

Ia bukan sekadar perubahan jam makan. Ia revolusi batin. Namun  pertanyaannya: bagaimana Barat melihat Ramadhan? Apakah ia dipandang sebagai bulan yang memperkaya manusia? Ataukah sekadar bulan yang “mengurangi produktivitas”?

Sejumlah ekonom Barat memang meneliti Ramadhan. Tetapi mereka masuk dari pintu yang berbeda. Mereka bertanya: apakah puasa menurunkan output? Apakah produktivitas berkurang? Apakah GDP terdampak?

Campante dan Yanagizawa-Drott (2015) dalam Quarterly Journal of Economics menemukan bahwa semakin panjang durasi puasa Ramadhan, semakin rendah pertumbuhan output di negara-negara Muslim. Ramadhan yang bertepatan dengan musim pertanian yang padat karya, produksi menurun secara signifikan (Heather Schofield, 2020). 

Jika hanya membaca angka-angka ini, Ramadhan bisa tampak sebagai gangguan ekonomi. Tetapi para peneliti yang sama menemukan sesuatu yang lebih dalam: kebahagiaan subjektif meningkat selama Ramadhan (Campante & Yanagizawa-Drott, 2015). Komitmen religius dan solidaritas sosial menguat (Aksoy & Gambetta, 2022). Rasa makna dan keterhubungan sosial bertambah (Anderson, 2011).

Di sinilah paradoks itu muncul. Output mungkin turun. Tetapi ketenangan naik. Lalu pertanyaan besar itu lahir: pembangunan sebenarnya tentang apa?

Temuan Barat: Puasa, Produktivitas, dan Kebahagiaan

Mari kita ringkas secara jujur temuan Barat. Ya, ada penurunan aktivitas ekonomi dalam beberapa konteks. Durasi puasa yang lebih panjang dikaitkan dengan penurunan pertumbuhan output (Campante & Yanagizawa-Drott, 2015). Produktivitas pertanian dapat menurun ketika Ramadhan bertepatan dengan musim kerja intensif (Schofield, 2020). Beberapa studi menemukan perubahan pada pola konsumsi dan harga.

Namun, peneliti lain menemukan hasil yang berbeda: Ramadhan meningkatkan kesejahteraan subjektif. Kebahagiaan dan kepuasan hidup individu Muslim meningkat selama periode puasa (Campante & Yanagizawa-Drott, 2015). Aksoy dan Gambetta (2022) menunjukkan bahwa semakin besar pengorbanan (durasi puasa), semakin kuat komitmen religius dan partisipasi sosial.

Demiroglu et al. (2021) dalam Journal of Finance menunjukkan bahwa faktor spiritual dan fisiologis memengaruhi keputusan ekonomi secara nyata. Artinya, manusia bukan sekadar kalkulator untung-rugi. Ia makhluk moral dan spiritual. Paul Anderson (2011) dalam kajian antropologisnya tentang sedekah Ramadhan menggambarkan bagaimana praktik amal selama Ramadhan menciptakan “abundance of meaning”—kelimpahan makna—bukan sekadar perpindahan uang.

Jadi apa yang sebenarnya terjadi? Ramadhan mungkin mengurangi konsumsi jangka pendek. Tetapi ia meningkatkan makna hidup. Ia menurunkan intensitas produksi, tetapi menaikkan intensitas solidaritas. Apakah ekonomi modern siap mengakui bahwa makna dan ketenangan adalah bagian dari kesejahteraan?

Pembangunan Barat: Ekonomi Tanpa Ruh

Ekonomi modern mengukur pembangunan melalui angka: GDP, pertumbuhan, pendapatan per kapita. Ketika grafik naik, pembangunan dianggap berhasil. Namun paradoksnya nyata: semakin kaya, kegelisahan justru meningkat. Literatur Barat sendiri menunjukkan bahwa setelah ambang tertentu, kenaikan pendapatan tidak lagi menaikkan kebahagiaan secara signifikan (Easterlin, 1974, 1995). Output bertambah, tetapi ketenangan tidak ikut tumbuh. Inilah yang disebut dengan Easterlin Paradoks.

Meski bukti ini tersedia, paradigma arus utama tetap menempatkan ukuran material sebagai indikator utama kesejahteraan. Seolah manusia hanyalah agen utilitas. Seolah makna, moralitas, dan kedamaian batin bukan bagian dari pembangunan. Islam sejak awal menolak reduksi kesejahteraan menjadi materi semata.

Tujuan hidup adalah falah—kebaikan dunia dan akhirat sekaligus: “Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah” (Q.S. Al-Baqarah: 201). Ibnu Katsir menjelaskan bahwa hasanah dunia mencakup kesehatan, rezeki halal, keluarga saleh, ilmu, kehormatan, dan keamanan; sedangkan hasanah akhirat adalah keselamatan dan surga.

Kesejahteraan dipahami secara utuh—rohani, jasmani, dan sosial. Al-Qur’an menegaskan: “Alaa bidzikrillahi tathma’innul qulub—Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Q.S. Ar-Ra’d: 28). Ketenangan bukan produk pasar, tapi produk hati. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved