Opini
Ramadhan Menggugat Ekonomi “Barat” Tanpa Ruh
Ekonomi modern menghitung output. Ramadhan menumbuhkan makna. Ekonomi mengejar pertumbuhan. Ramadhan membangun kedewasaan jiwa
Al-Ghazali (1106/2015) menempatkan kebahagiaan pada penyucian jiwa. Ibn Khaldun (1377/1967) mengingatkan bahwa peradaban runtuh bukan karena kurang harta, melainkan karena rusaknya moral dan solidaritas. Chapra (2000, 2008) dan Naqvi (1981) mengkritik pemisahan etika dari ekonomi; Askari et al. (2015) menunjukkan bahwa tata kelola bermoral justru lebih selaras dengan prinsip Islam.
Pembangunan yang hanya membesarkan tubuh ekonomi—pendapatan, konsumsi, produksi—tetapi melupakan ruh adalah pembangunan tanpa arah. Islam tidak menolak pertumbuhan, tetapi menolak pertumbuhan tanpa moral. Ukuran pembangunan bukan hanya akumulasi, melainkan ketenteraman.
Ramadhan dan Reorientasi Pembangunan
Jika tujuan pembangunan adalah ketenangan dan kebahagiaan yang utuh, maka Ramadhan bukan penghambat ekonomi—melainkan koreksi moralnya. Puasa melatih pengendalian diri. Ia menahan konsumsi, menekan ego, dan menghidupkan empati. Disiplin diri yang terbangun selama Ramadhan adalah fondasi stabilitas sosial. Individu yang mampu menahan lapar dan amarah lebih mampu menahan dorongan destruktif dalam kehidupan sosial.
Ramadhan bukan sekadar ritual spiritual, tetapi pendidikan sosial kolektif. Sedekah meningkat, solidaritas menguat, relasi keluarga menghangat. Campante dan Yanagizawa-Drott (2015) menunjukkan bahwa meskipun output ekonomi dapat menurun, kebahagiaan justru meningkat.
Baca juga: Ramadhan di Atas Lumpur dan Angka Kemiskinan Aceh
Artinya, kesejahteraan tidak identik dengan produksi. Ramadhan mengajarkan ukuran yang berbeda. Pembangunan bukan sekadar pertumbuhan, tetapi keberkahan. Bukan sekadar kekayaan, tetapi ketenangan. Bukan sekadar kemakmuran material, tetapi kesehatan jiwa dan harmoni sosial.
Islam tidak memusuhi kekayaan. Tetapi ia menolak kekayaan yang merusak ruh. Ramadhan membentuk manusia yang utuh—jiwa dan raga—agar ekonomi tidak kehilangan makna, dan pertumbuhan tidak mengikis nurani. Itulah pembangunan yang sejati.
Ramadhan Bukan Metafora Kosong
Ramadhan disebut bulan rahmat. Dan rahmat bukan sekadar kata indah dalam narasi. Ia nyata—dalam hati yang lebih lembut, tangan yang lebih ringan memberi, lisan yang lebih terjaga, dan jiwa yang lebih tenang.
Jika pembangunan dimaknai sebagai pembangunan manusia seutuhnya—jiwa dan raga—maka Ramadhan bukan hambatan ekonomi. Ia koreksi. Ia pengingat bahwa manusia bukan sekadar produsen dan konsumen, bukan hanya angka dalam laporan pertumbuhan. Ia hamba. Ia khalifah. Ia makhluk bermakna.
Ekonomi modern menghitung output. Ramadhan menumbuhkan makna. Ekonomi mengejar pertumbuhan. Ramadhan membangun kedewasaan jiwa. Saat empati menguat, solidaritas tumbuh. Sedekah meningkat. Relasi sosial menghangat. Yang berputar bukan hanya uang, tetapi nilai dan kepedulian. Masyarakat yang saling menjaga jauh lebih kokoh daripada masyarakat yang hanya saling bersaing.
Menariknya, riset Barat pun mengakui paradoks ini. Meski output melambat, kebahagiaan subjektif justru meningkat selama Ramadhan (Campante & Yanagizawa-Drott, 2015), komitmen religius dan solidaritas sosial menguat (Aksoy & Gambetta, 2022), serta rasa makna dan keterhubungan sosial bertambah (Anderson, 2011). Sebuah pengakuan tenang bahwa kesejahteraan tidak selalu identik dengan produksi.
Ramadhan menahan tubuh, tetapi melapangkan jiwa; mengurangi konsumsi, tetapi memperkaya makna. Ia bukan bulan kemunduran, melainkan bulan penyeimbangan—mengajarkan bahwa sejahtera bukan pada banyaknya harta, tetapi dalamnya ketenangan. Tanpa banyak suara, ilmu modern mulai mengamini apa yang iman telah lama tegaskan: Ramadhan benar-benar bulan rahmat—bagi ruh, bagi masyarakat, dan bagi makna hidup itu sendiri.
*) PENULIS adalah Guru Besar Ekonomi Islam dan Koordinator Program Studi Doktor Ilmu Ekonomi, Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. E-mail: mshabri@usk.ac.id
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-M-Shabri-Abd-Majid-Prof-Bidang-Ilmu-Ekonomi-USK-Banda-Aceh.jpg)