Kupi Beungoh
Lumpur dan Kayu Solusi Pasca Bencana di Aceh
Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat pada 26 November 2025 menyisakan duka mendalam.
LUMPUR DAN KAYU SOLUSI PASCA BENCANA DI ACEH
Oleh : Dr. Ir. Azanuddin Kurnia, SP, MP, IPU, ASEAN Eng
Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat pada 26 November 2025 menyisakan duka mendalam.
Ratusan ribu rumah rusak bahkan ada yang hanyut dan terbawa banjir maupun longsor.
Ribuan hektar lahan pertanian terendam, dan tumpukan lumpur serta kayu gelondongan berserakan di mana-mana.
Di tengah kepedihan, muncul sebuah tantangan besar, ke mana harus membuang jutaan meter kubik lumpur yang mengeras di dalam rumah, pekarangan dan persawahan?
Biaya pengerukan sangat besar, sementara lahan untuk pembuangan akhir nyaris tidak ada tempat. Begitu juga dengan ribuan kubik kayu yang berserakan didaerah terdampak bencana.
Surat Al-Insyirah (disebut juga Asy-Syarh) ayat 5-6 dalam Al Qur’an menyatakan bahwa "Fainnama'al -'usri yusra, innama'al-'usri yusra" yang artinya, "Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan".
Kita menyakini bahwa Allah SWT Sang Pencipta tidak akan membiarkan hamba Nya akan mengalami kesulitan tanpa ada solusi. Allah memberikan solusi berbarengan dengan kesulitan bila kita paham dan mau untuk terus ikhtiar dan berdoa.
Baca juga: Bantuan dari Malaysia segera Masuk Aceh Untuk Korban Banjir
Mengutip data Distanbun Aceh, per 6 Pebruari 2026, jumlah areal persawahan yang terdampak bencana adalah sekitar 57.364 ha dengan rincian kategori rusak ringan 27.437 ha, rusak sedang 13.651 ha dan rusak berat 16.276 ha.
Pada kategori rusak ringan, lumpur tidak sampai masuk ke areal persawahan kalaupun masuk, sawah masih bisa dimanfaatkan sebagaimana biasa. Sedangkan rusak sedang dan berat lumpur sudah masuk bahkan melewati pematang untuk kategori berat. Artinya untuk rusak sedang dan berat ada sekitar 29.827 ha.
Bisa dibayangkan bagaimana untuk mengatasi atau membuang lumpur dari areal persawahan tersebut. Tentu ini akan memerlukan biaya yang besar dan sangat tidak ekonomis.
Selain itu, rumah penduduk yang rusak menurut keterangan Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, menyampaikan hingga saat ini sebanyak 61.795 rumah tercatat rusak berat (tvonenews.com, 1 Januari 2026.
Puluhan ribu rumah tersebut tentu harus dibangun kembali, belum lagi terkait bangunan fasilitas umum seperti masjid, sekolah, puskemas, perkantoran dan lainnya. Semua ini tentunya akan membutuhkan banyak material batu, batu bata, semen, kayu dan material lainnya.
Lumpur dan kayu bekas banjir, saat ini menjadi beban psikologis harus dipandang sebagai potensi dalam penyelesaian dalam rangka pemulihan pasca bencana.
| Kanibalisme Politik, Metafora Politisi Aceh |
|
|---|
| Literasi Digital Bukan Sekadar Bisa Pakai Gadget |
|
|---|
| Mobil Penumpang di Jalan Raya: Antara Kecepatan, Keselamatan, dan Kenyamanan |
|
|---|
| Adat ngon Hukom Tata Kelola Pemerintah Aceh: Hana Lagee Zat ngon Sifeut? |
|
|---|
| Perang dan Damai – Bagian 8, Mendorong Terwujudnya Damai yang Tertunda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/r-Azanuddin-Kurnia-SP-MP-IPU-ASEAN-Eng-Ketua-PISPI-Aceh.jpg)