Jurnalisme Warga
‘Be Get Mart‘, Ketika Mimpi Kewirausahaan Siswa Diuji oleh Banjir
Setiap barang yang terpajang bukan sekadar komoditas, melainkan jejak proses belajar, kerja keras, dan kebanggaan.
FAISAL, S.T, M.Pd., Kepala SMK Negeri 1 Peusangan dan Ketua IGI Daerah Aceh Timur, melaporkan dari Bireuen
Di sebuah sudut lingkungan SMKN 1 Peusangan, Kabupaten Bireuen, pernah berdiri sebuah ruang kecil yang sarat makna. Namanya sederhana, tetapi cita-citanya besar "Be Get Mart". Tempat ini bukan sekadar etalase penjualan, bukan pula hanya ruang praktik kewirausahaan. Ia adalah panggung awal bagi mimpi-mimpi siswa SMK, yaitu tempat gagasan belajar berubah menjadi produk nyata, tempat teori di kelas diuji oleh pasar yang sesungguhnya.
"Be Get Mart" dibangun dari semangat kemandirian dan keberanian mencoba. Di sanalah hasil karya siswa SMKN 1 Peusangan dipajang dan dipasarkan, mulai dari produk olahan pangan, kerajinan tangan, hingga berbagai inovasi kreatif yang lahir dari pembelajaran berbasis projek.
Setiap barang yang terpajang bukan sekadar komoditas, melainkan jejak proses belajar, kerja keras, dan kebanggaan.
Bagi siswa, ‘Be Get Mart’ adalah ruang belajar yang hidup. Mereka belajar menghitung modal, menentukan harga jual, memahami selera konsumen, hingga mencatat omzet, dan laba.
Mereka belajar bahwa kewirausahaan bukan hanya tentang untung dan rugi, melainkan juga tentang kejujuran, tanggung jawab, dan ketekunan. Di balik rak-rak sederhana itu, karakter dan mental wirausaha pelan-pelan ditempa.
Dalam perjalanannya, ‘Be Get Mart’ menunjukkan hasil yang menggembirakan. Omzet yang dihasilkan terbilang lumayan untuk ukuran unit usaha sekolah. Produk siswa mulai dikenal, tidak hanya oleh warga sekolah, tetapi juga oleh masyarakat sekitar.
Ada kebanggaan tersendiri ketika hasil karya anak-anak sekolah kejuruan mendapat tempat di hati konsumen. Di titik inilah ‘Be Get Mart’ bukan lagi sekadar program sekolah, melainkan simbol harapan bahwa pendidikan vokasi benar-benar mampu mencetak generasi yang siap kerja dan siap usaha.
Namun, seperti kehidupan itu sendiri, perjalanan ‘Be Get Mart’ tidak selalu berjalan mulus. Musibah datang tanpa aba-aba. Banjir besar yang melanda wilayah ini pada akhir November tahun lalu menjadi ujian berat yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya.
Air datang dengan cepat, merendam seluruh area sekolah. ‘Be Get Mart’ pun tak luput dari terjangan dan endapan lumpur.
Perlengkapan usaha yang selama ini menjadi tulang punggung aktivitas—rak pajangan, etalase, peralatan pendukung, hingga sebagian stok produk—rusak total. Yang tersisa hanyalah puing-puing dan kenangan akan semangat yang sempat tumbuh subur.
Dalam sekejap, ruang belajar kewirausahaan itu terpaksa ditutup. Aktivitas terhenti, dan mimpi para siswa harus menunggu waktu untuk kembali berdenyut.
Bagi sekolah, musibah ini bukan sekadar kerugian materiel. Ada duka yang lebih dalam, yakni terhentinya proses belajar kontekstual yang selama ini menjadi kebanggaan sekaligus andalan sekolah ini.
Anak-anak yang sebelumnya begitu antusias kini hanya bisa bertanya, kapan ‘Be Get Mart’ akan dibuka kembali. Sebuah pertanyaan sederhana, tetapi jawabannya tidaklah mudah.
Upaya penanganan tentu telah kami lakukan semampu yang kami bisa. Harus kami akui dengan jujur bahwa pendanaan dari sekolah sangatlah terbatas. Dana operasional sekolah memiliki banyak prioritas lain yang tak kalah mendesak seperti pemeliharaan fasilitas belajar, kebutuhan pembelajaran, hingga penataan kembali lingkungan sekolah yang rusak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Faisal-ST-OKEEEH.jpg)