Opini
Banda Aceh Kota tak 'Bertuan'
kondisi Kota Banda Aceh yang semrawut, kusut, kumuh, kengkeueng, meurhoh-rhoh dan tidak beraturan maka gelar Banda Aceh Kota tidak ‘bertuan’
Yang tidak kurang menariknya lagi adalah peniaga yang menjaja barangannya di mana mereka mau tanpa ada pengaturan otoritas kota. Di depan kedai sayur ada penjual sayur dengan becak, di depan kedai runcit ada kios runcit yang berderetan, di depan toko pulsa HP ada meja penjual pulsa HP pula. Lalu apa masalahnya dengan keadaan semisal itu? Penjual di toko sudah menyewa toko sampai Rp 40 juta setahun sementara penjual di depannya tidak sewa apa-apa yang ada untung melulu dari hasil jualannya. Lalu apa masalahnya di sini?
Kota menjadi semrawut, peniaga di toko tidak sanggup membayar sewa toko karena tidak cukup laku, pembeli terganjal oleh peniaga tanpa izin di kaki lima dan keindahan kota hilang menjadi kota tidak bertuan. Belum lagi kita tengok penjaja buah-buahan, pisang goreng, penjahit sepatu yang berderetan sepanjang jalan mencerminkan Banda Aceh sebagai kota tidak 'bertuan'.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Dr-Tgk-Hasanuddin-Yusuf-Adan-MCL-MA-OK.jpg)