KUPI BEUNGOH
Indonesia Untuk Perdamaian Dunia
Perkembangan geopolitik dunia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa perdamaian global masih menghadapi berbagai tantangan serius
Prinsip tersebut sejalan dengan cita-cita konstitusional Indonesia. Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditegaskan bahwa tujuan negara Indonesia adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Dengan demikian, komitmen Indonesia terhadap perdamaian dunia bukan sekadar pilihan politik, tetapi merupakan amanat konstitusi.
Indonesia juga memiliki pengalaman historis sebagai negara yang aktif dalam diplomasi perdamaian internasional.
Prinsip politik luar negeri bebas dan aktif memungkinkan Indonesia untuk berperan sebagai mediator dalam berbagai konflik internasional.
Baca juga: Trump Larang Pasukan Kurdi Terlibat Perang Iran, Tak Ingin Perang Semakin Rumit
Pendekatan diplomasi dialog, kerja sama multilateral, serta penghormatan terhadap kedaulatan negara menjadi dasar penting dalam upaya menciptakan stabilitas global.
Dalam konteks keamanan modern, konsep keamanan tidak lagi hanya dipahami sebagai keamanan negara, tetapi juga keamanan manusia (human security).
Keamanan manusia mencakup perlindungan terhadap kehidupan, martabat, dan kesejahteraan masyarakat dari berbagai ancaman, baik yang bersifat militer maupun nonmiliter.
Dorong PBB hentikan perang
Konflik bersenjata di suatu kawasan seringkali menimbulkan krisis kemanusiaan yang meluas, seperti pengungsi, kelaparan, dan kerusakan infrastruktur sosial.
Situasi ketidakpastian global semakin terlihat ketika terjadi eskalasi konflik di Timur Tengah.
Ketegangan meningkat setelah serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026, yang kemudian untuk pertahanan dari agrasi tersebut dibalas oleh Iran dengan peluncuran rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Perkembangan konflik semacam ini tidak hanya meningkatkan risiko perang regional, tetapi juga berpotensi memicu ketidakstabilan ekonomi global, termasuk kenaikan harga minyak dunia yang berdampak langsung pada negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian tersebut, suara perdamaian menjadi semakin penting.
Indonesia, dengan tradisi moderasi beragama dan pengalaman panjang dalam membangun harmoni sosial di tengah keberagaman, memiliki modal sosial yang kuat untuk berkontribusi dalam diplomasi perdamaian dunia.
Baca juga: AS Mulai Gunakan Pangkalan Inggris untuk Operasi Militer Melawan Iran
Pertemuan antara pemerintah dan para tokoh agama di Istana Merdeka menjadi simbol bahwa dialog lintas pemikiran dan kerja sama moral dapat menjadi fondasi penting dalam membangun perdamaian global.
Perang pada akhirnya selalu membawa kerugian bersama. Tidak hanya negara yang berperang yang menanggung korban jiwa dan kerusakan ekonomi, tetapi juga negara-negara lain yang terdampak oleh instabilitas global.
| Mengapa Menonton Video Pendek Bisa Bikin Otak Susah Fokus? |
|
|---|
| PHK Marak Dimana-mana, Sistem Ekonomi Islam Beri Solusi Cerdas Soal Ketenagakerjaan |
|
|---|
| Dampak Pengadaan Didominasi PL, Triliunan Belanja Publik Aceh Terancam Risiko 'Low Impact Spending' |
|
|---|
| Ketika Waktu Terasa Berhenti di Museum Tsunami Aceh |
|
|---|
| Kaya di Peta, Miskin di Meja: Gas Andaman, Dana MBG, dan Pelajaran yang Terus Kita Abaikan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Yunidar-ZA-MSi-CLDA-Anggota-INAKI-Ikatan-Nasional-Analis-Kebijakan.jpg)