Kamis, 11 Juni 2026

Kupi Beungoh

Setahun Melanjutkan Perjuangan Abu Kuta Krueng

Karena itu, setahun pertama ini saya jalani dengan perasaan yang bercampur antara rasa syukur, rasa takut, dan rasa tanggung jawab yang besar.

Tayang:
Editor: Agus Ramadhan
Serambinews.com/HO
Dr. Tgk. H. Anwar Usman (Abiya Kuta Krueng)  

Oleh: Dr. Tgk. H. Anwar Usman (Abiya Kuta Krueng) 

Bismillahirrahmanirrahim

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Setahun telah berlalu sejak 16 Ramadhan 1446 H, saat saya menerima amanah untuk memimpin Dayah Darul Munawwarah Kuta Krueng, sebuah lembaga pendidikan Islam yang telah menjadi rumah ilmu dan pengabdian bagi ribuan santri selama puluhan tahun.

Dayah ini sendiri berdiri sejak tahun 1964, dirintis dengan penuh keikhlasan oleh almarhum Abu Kuta Krueng, yang memiliki nama asli Abu H. Usman Ali.

Sejak awal berdirinya, dayah ini tidak hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi juga menjadi pusat pembinaan masyarakat serta tempat lahirnya banyak ulama dan tokoh agama di Aceh.

Amanah ini secara resmi saya terima setelah dikukuhkan oleh guru kami ulama kharismatik Aceh, Abu Mudi (Tgk. H. Syaikh Hasanoel Basri) untuk melanjutkan perjuangan yang telah dirintis oleh almarhum orang tua dan guru kami tercinta, Abu Kuta.

Bagi saya pribadi, momentum itu bukan sekadar penyerahan jabatan kepemimpinan. Ia adalah penyerahan amanah perjuangan ilmu, dakwah, dan pembinaan umat yang telah diwariskan oleh para ulama terdahulu.

Allah mengingatkan kita tentang beratnya amanah ini dalam firman-Nya:

إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. al-Nisā’: 58)

Ayat ini selalu terngiang dalam hati saya sejak menerima amanah ini. Ia mengingatkan bahwa kepemimpinan bukanlah kehormatan yang harus dibanggakan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Karena itu, setahun pertama ini saya jalani dengan perasaan yang bercampur antara rasa syukur, rasa takut, dan rasa tanggung jawab yang besar.

Syukur karena Allah masih memberi kesempatan untuk mengabdi kepada ilmu dan umat. Takut karena amanah ini sangat berat. Dan tanggung jawab karena perjuangan almarhum Abu harus tetap berjalan.

Amanah yang Tidak Ringan

Memimpin sebuah dayah besar tentu bukan pekerjaan yang ringan. Apalagi ketika kita harus melanjutkan perjuangan seorang ulama yang begitu dicintai masyarakat.

Almarhum Abu Kuta Krueng bukan hanya pendiri dayah ini, tetapi juga guru dan pembimbing bagi ribuan santri serta masyarakat luas.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved