Kamis, 11 Juni 2026

Kupi Beungoh

Setahun Melanjutkan Perjuangan Abu Kuta Krueng

Karena itu, setahun pertama ini saya jalani dengan perasaan yang bercampur antara rasa syukur, rasa takut, dan rasa tanggung jawab yang besar.

Tayang:
Editor: Agus Ramadhan
Serambinews.com/HO
Dr. Tgk. H. Anwar Usman (Abiya Kuta Krueng)  

Warisan beliau bukan hanya bangunan dan lembaga pendidikan, tetapi juga tradisi keilmuan, adab, serta keikhlasan dalam berkhidmat kepada umat.

Saya memahami betul nasehat para ulama bahwa kepemimpinan dalam dunia ilmu bukanlah sesuatu yang mudah. Ia memerlukan kesabaran, kematangan, dan kerendahan hati.

Karena itu, dalam satu tahun ini saya selalu mengingat pesan para ulama bahwa kepemimpinan dalam dunia dayah bukan sekadar soal mengatur lembaga, tetapi menjaga ruh perjuangan ilmu yang diwariskan oleh para pendahulu.

Sering kali saya merasakan bahwa tahun pertama ini adalah masa ujian yang berat. Namun saya juga menyadari bahwa perjuangan ulama tidak pernah dibangun dalam kemudahan. Ia selalu lahir dari kesabaran, keikhlasan, dan doa.

Sebelum amanah kepemimpinan ini saya terima, saya bersama para guru dan pengurus dayah telah lama berikhtiar mengembangkan sistem pendidikan di Dayah Darul Munawwarah Kuta Krueng agar tetap kokoh menjaga tradisi keilmuan, sekaligus mampu menjawab kebutuhan zaman.

Hari ini, dayah ini berkembang menjadi lembaga pendidikan yang cukup besar. Berdasarkan data administrasi EMIS PONTREN, jumlah santri yang belajar di lingkungan Dayah Darul Munawwarah mencapai 5.930 orang, dengan jumlah 324 orang guru, sehingga total komunitas pendidikan di dayah ini mencapai 6.254 orang.

Sementara itu pada jenjang pendidikan tinggi berbasis turats di lingkungan dayah, jumlah mahasantri Ma’had Aly Darul Munawwarah saat ini mencapai 740 orang, yang terdiri dari 598 mahasantri laki-laki dan 142 mahasantri perempuan.

Angka ini tentu bukan sekadar statistik. Ia adalah amanah besar yang menuntut kesungguhan dalam menjaga kualitas pendidikan, akhlak, serta pembinaan keilmuan para santri.

Penguatan Tradisi Keilmuan

Dalam satu tahun terakhir, salah satu fokus utama kami adalah memperkuat kembali tradisi keilmuan turats yang sejak awal menjadi identitas Dayah Darul Munawwarah.

Turats bukan sekadar kitab klasik yang dipelajari di ruang kelas. Ia adalah warisan intelektual ulama yang menjadi fondasi bagi keberlangsungan keilmuan Islam.

Karena itu kami terus melakukan penguatan kurikulum berbasis turats yang diwariskan oleh almarhum Abu Kuta Krueng, agar tradisi tersebut tetap hidup dan relevan dengan tantangan zaman.

Selain itu, kami juga memberikan perhatian khusus pada penguatan Lajnah Bahtsul Masail (LBM) sebagai forum kajian ilmiah di lingkungan dayah.

Lajnah ini diharapkan menjadi ruang bagi para guru dan santri senior untuk mendiskusikan berbagai persoalan keagamaan kontemporer dengan merujuk pada kitab-kitab turats serta metodologi istinbāṭ para ulama.

Dengan demikian, tradisi intelektual di dayah tidak hanya terbatas pada pengajian kitab, tetapi juga berkembang menjadi tradisi diskusi dan penelitian ilmiah.

Dalam upaya menjaga kesinambungan tradisi ilmu tersebut, saya juga berusaha untuk tetap aktif mengisi pengajian rutin setiap hari, baik bagi dewan guru putra dan putri maupun bagi para santri secara langsung.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved