Kupi Beungoh
Setahun Melanjutkan Perjuangan Abu Kuta Krueng
Karena itu, setahun pertama ini saya jalani dengan perasaan yang bercampur antara rasa syukur, rasa takut, dan rasa tanggung jawab yang besar.
Sebagai bagian dari masyarakat Aceh, kami di Dayah Darul Munawwarah Kuta Krueng merasa terpanggil untuk turut membantu. Oleh karena itu dayah ini membuka diri menerima anak-anak Aceh korban bencana tersebut untuk belajar di lingkungan dayah secara gratis.
Bagi kami, dayah bukan hanya tempat menuntut ilmu, tetapi juga tempat perlindungan bagi umat. Sejak dahulu, dayah di Aceh selalu menjadi ruang pengabdian sosial bagi masyarakat.
Karena itu, membantu anak-anak korban bencana untuk melanjutkan pendidikan mereka adalah bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan yang tidak bisa kami abaikan.
Sejak awal berdirinya, dayah di Aceh tidak pernah berdiri hanya sebagai lembaga pendidikan. Dayah selalu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Di sinilah masyarakat belajar agama, meminta nasihat, mencari solusi atas berbagai persoalan kehidupan, dan membangun kebersamaan.
Karena itu saya selalu meyakini bahwa keberadaan dayah harus terus memberi manfaat bagi masyarakat luas. Setahun pertama ini bagi saya adalah masa belajar yang sangat berharga.
Saya belajar memahami amanah yang besar ini, belajar mendengar nasihat para ulama, serta belajar memahami harapan masyarakat terhadap dayah.
Ke depan, saya berharap Dayah Darul Munawwarah Kuta Krueng dapat terus berkembang sebagai pusat pendidikan Islam yang kuat dalam tradisi keilmuan, sekaligus mampu menjawab tantangan zaman.
Dalam sebuah hikmah Saidina Ali disebutkan:
العلم حياة القلوب ونور البصائر
“Ilmu adalah kehidupan bagi hati dan cahaya bagi pandangan.”
Semoga dayah ini terus menjadi tempat lahirnya cahaya ilmu bagi umat. Amiin ya Rabb.
Akhirnya, saya menyadari sepenuhnya bahwa amanah ini tidak mungkin saya jalankan sendiri.
Perjalanan memimpin sebuah dayah besar membutuhkan dukungan banyak pihak: para alim ulama, dewan guru, para alumni, para santri, serta seluruh masyarakat yang mencintai dayah ini.
Karena itu, melalui kesempatan ini saya memohon doa dan dukungan dari semuanya agar saya dapat menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya.
Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita semua untuk melanjutkan perjuangan ilmu yang telah diwariskan oleh para ulama terdahulu, khususnya perjuangan almarhum Abu kami.
Semoga Dayah Darul Munawwarah Kuta Krueng tetap menjadi tempat lahirnya generasi ulama yang membawa cahaya ilmu dan Islam bagi Masyarakat Aceh khususnya dan bagi umat Islam umumnya. Insya Allah. Amiin ya Rabb. Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb. (*)
*) Penulis adalah Pimpinan Dayah Darul Munawwarah Kuta Krueg, Pidie Jaya dan Ketua Umum PB HUDA
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI
| Mengapa Menonton Video Pendek Bisa Bikin Otak Susah Fokus? |
|
|---|
| PHK Marak Dimana-mana, Sistem Ekonomi Islam Beri Solusi Cerdas Soal Ketenagakerjaan |
|
|---|
| Dampak Pengadaan Didominasi PL, Triliunan Belanja Publik Aceh Terancam Risiko 'Low Impact Spending' |
|
|---|
| Ketika Waktu Terasa Berhenti di Museum Tsunami Aceh |
|
|---|
| Kaya di Peta, Miskin di Meja: Gas Andaman, Dana MBG, dan Pelajaran yang Terus Kita Abaikan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Tgk-H-Anwar-Usman-Abiya-Kuta-Krueng-0101.jpg)