KUPI BEUNGOH
Menakar Kasus Gus Yaqut dengan Ushul Fiqih: Antara Tuduhan, Bukti, dan Keadilan
Dalam negara hukum, praperadilan justru menjadi instrumen penting untuk menjaga agar aparat penegak hukum tetap berada di jalur yang benar.
Kaidah fikih juga mengajarkan:
ادرءوا الحدود بالشبهات
“Hindarkan penghukuman ketika masih terdapat keraguan.”
Memang, perkara ini bukan hudud dalam arti teknis sebagaimana dalam fikih klasik.
Namun, semangat kaidah ini tetap relevan: ketika masih ada syubhat, keraguan, atau sengketa mengenai keabsahan prosedur, maka kehati-hatian harus lebih diutamakan daripada ketergesaan menghukum.
Di sinilah hukum Islam menunjukkan wajahnya yang adil dan beradab.
Baca juga: Suami Tak Punya Uang, Bolehkah Zakat Fitrah Dibayar dari Uang Istri? Ini Penjelasan Hukumnya
Baca juga: Dr Boyke Ungkap Puasa Bisa Tingkatkan Kesuburan, Ini Tips Program Hamil Saat Ramadhan
Masyarakat tentu berharap agar hukum ditegakkan tanpa pandang bulu. Akan tetapi, kita juga harus ingat bahwa ketegasan tanpa keadilan dapat berubah menjadi kekerasan prosedural.
Sebaliknya, keadilan tanpa ketegasan juga dapat melahirkan kelumpuhan hukum. Karena itu, dua hal ini harus berjalan beriringan: tegas terhadap pelanggaran, namun adil dalam proses.
Bukan Semata Soal Figur, Melainkan Soal Prinsip
Pada titik ini, dukungan kepada Gus Yaqut bukan semata soal figur, melainkan soal prinsip.
Prinsip bahwa setiap orang berhak memperoleh perlindungan hukum yang adil. Prinsip bahwa tuduhan harus dibuktikan secara sah. Dan prinsip bahwa negara hukum tidak boleh membiarkan seseorang diperlakukan bersalah sebelum prosesnya benar-benar tuntas.
Jika pada akhirnya pengadilan memutuskan bahwa prosedur yang dilakukan sudah benar, maka semua pihak harus menghormatinya.
Namun, bila ditemukan cacat formil, maka koreksi itu justru merupakan kemenangan bagi hukum itu sendiri. Sebab, hukum yang sehat adalah hukum yang bersedia diuji, dikritik, dan diluruskan.
Di sinilah pentingnya kita menjaga akal sehat publik. Jangan karena semangat memberantas korupsi, lalu kita mengabaikan keadilan prosedural.
Jangan pula karena simpati kepada seseorang, lalu kita menolak proses hukum sama sekali. Jalan tengah yang adil adalah: hormati prosesnya, uji keabsahannya, dan jaga prinsip-prinsip keadilan.
Dalam perspektif Islam, itulah sikap yang paling dekat dengan amanah: tidak tergesa-gesa menuduh, tidak ringan menghukum, dan tidak abai terhadap hak-hak manusia.
Kasus Gus Yaqut
Ushul Fiqih Kasus Gus Yaqut
Opini Kupi Beungoh Azwar A Gani
Azwar A Gani Ketua GP Ansor Aceh
Azwar A Gani Aktivis Muda NU
| Interprofessional Education Bukan Hanya Belajar Bersama, tetapi Tentang Bertahan Bersama |
|
|---|
| Perang dan Damai - Bagian 16, Kebebasan Berlayar di Selat Hormuz sebagai Jalan Perdamaian |
|
|---|
| Internsip Dokter dan Krisis Otonomi Akademik |
|
|---|
| Kritisi Pergub JKA, Dua Aksi Beda Cara |
|
|---|
| Menjaga Api yang Terus Menyala: Kiat Keberlanjutan Pengelolaan Sampah Sehat di Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Azwar-A-Gani-soal-Gus-Yaqut.jpg)