Jurnalisme Warga
Ihwal Terbentuknya Kerajaan Aceh Darussalam
Pada artikel ke delapan ini, barulah saya menukik ke dalam kisah sejarah yang mengawali bedirinya Kerajaan Aceh Darussalam.
“Tuumm...tum...tumm,” bunyi dentuman meriam. Masyaallah, puluhan pasukan Darul Kamal bersimbah darah. Ada yang kepalanya putus, dadanya robek, pahanya diterbangkan peluru meriam, dan sebagainya.
Peristiwa serupa berulang kali terjadi. Namun, pihak Darul Kamal tetap tidak terkalahkan. “Maka, dalam demikian itu pun tiada jua tewas dan alah hulubalang Darul Kamal itu daripada tegar hati dan berani mereka itu,” begitu cuplikan Hikayat Aceh.
Pengarang Hikayat Aceh memang menuliskan, kenapa hal demikian bisa terjadi?
Kata pengarang, hal itu boleh berlaku, karena mereka berani hati dan disebabkan mereka tinggal di hulu sungai alias pedalaman dekat gunung. Sementara rakyat Meukuta Alam menjadi luas wawasan mereka lantaran berdomisili di hilir sungai hampir laut. “Niscaya ada jua manusia pulang pergi kepadanya, berolehlah ia bicara (pengalaman –TA) yang sempurna.”
Strategi licik
Setelah sekian lama waktu berlalu, timbullah strategi licik di batin Muzaffar Syah, Raja Meukuta Alam. Rahasia negara itu disimpan sang raja dalam batinnya.
Ia mengirim para hulubalangnya sebagai utusan ke Darul Kamal untuk membuka jalan (Aceh: cah rot), karena hendak berbesan dengan Inayat Syah, Raja Darul Kamal.
Para utusan terdiri atas orang-orang yang bijak dan betah berbicara dengan lemah lembut dan mampu merebut hati pihak lawan bicara. Bawaan hadiah pun merupakan barang-barang yang sangat berharga dan mulia, menggiurkan siapa pun yang melihatnya.
Sambutan dari pihak tuan rumah pun amat meriah. Isi pembicaraan kedua pihak belumlah terfokus kepada perihal lamaran. Pertemuan itu boleh disebut sebagai antaran obat penyembuh luka lama, setelah puluhan tahun mereka saling berperang.
Perutusan dari Raja Muzaffar Syah bukan hanya sekali berkunjung ke Darul Kamal, melainkan beberapa kali dengan bawaan dan hadiah yang semakin berlipat ganda.
Meminang menantu
Setelah rasa persahabatan antara dua kerajaan itu terajut kuat dan melekat, maka sampailah pembicaraan resmi mengenai pertunangan (Aceh: me tanda) putra Raja Meukuta Alam dengan putri Raja Darul Kamal yang bernama Putri Setia Indera. Ditentukanlah hari “H” lamaran tersebut.
Sejak itu, kedua pihak terus mempersiapkan diri. Kedua istana yang diselangi sebuah sungai besar, siang-malam para hulubalang dan rakyat bekerja memperindah sekitar dan istana raja mereka.
Raja Muzaffar Syah mempersiapkan strategi liciknya. Ke dalam tempat kotak panjang berisi bahan bawaan pertunangan disuruh isi dengan beragam senjata. Dalam Hikayat Aceh disebutkan, ”Segala senjata, daripada tombak dan lembing dan perisai dan utar-utar dan pedang dan syamsir dan beberapa daripada senjata yang lain. Maka ditutupnya dengan kain kekuningan yang bertelapuk emas seperti kelengkapan raja mengarak daf’a.” (bawaan tunangan – TA).
(Lihat: Seri Penerbitan Museum Aceh Nomor 17 yang berjudul “Hikayat Aceh” (Kisah Kepahlawanan Sultan Iskandarmuda), yang merupakan disertasi Teuku Iskandar di Universitas Leiden, Belanda, yang telah diterjemahkan oleh Aboe Bakar Bsf, 1986, halaman 79- 81).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/TA-Sakti-879809.jpg)