Breaking News
Senin, 20 April 2026

Pojok Humam Hamid

Strategi “Ie Bu Peudah” Mesin Perang Iran Melawan AS–Israel - Bagian III

Seperti ramuan ie bu peudah, kekuatan Iran tidak lahir dari satu senjata super, melainkan dari kombinasi kecil yang saling memperkuat.

SERAMBINEWS.COM/HO
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Oleh: Ahmad Humam Hamid*)

Dalam perang, inovasi jarang lahir dari ruang kosong. 

Banyak strategi yang tampak baru sebenarnya memiliki akar yang sangat tua dalam sejarah militer. 

Jauh sebelum drone dan rudal balistik menjadi simbol perang abad ke-21, para jenderal besar sudah memahami bahwa kemenangan sering kali tidak ditentukan oleh satu kekuatan dominan. 

Dari manuver Hannibal Barca di Perang Cannae hingga perjalanan epik Mao Zedong dalam Long March, sejarah menunjukkan pola yang sama: kekuatan sejati lahir dari kemampuan menyatukan banyak unsur kecil menjadi tekanan strategis yang tidak terduga.

Kisah Hannibal Mengalahkan Legiun Romawi

Pada tahun 216 SM, Hannibal menghadapi pasukan Republik Romawi yang dipimpin dua konsul, Lucius Aemilius Paullus dan Gaius Terentius Varro. 

Pasukan Romawi jauh lebih besar dan terkenal disiplin. 

Namun Hannibal tidak mencoba mengalahkan mereka dengan kekuatan tunggal. 

Ia menyusun pasukannya sebagai sistem yang kompleks: infanteri Iberia di pusat, pasukan Afrika di kedua sayap, dan kavaleri Numidia yang menyerang dari belakang. 

Ketika legiun Romawi maju, mereka justru terjebak dalam pengepungan ganda, banyak tewas, dan Paullus gugur. 

Kemenangan Hannibal tidak lahir dari satu pasukan unggul, melainkan dari kombinasi berbagai elemen kecil yang bekerja secara sinkron, prinsip yang sama seperti ie bu peudah.

Strategi Mao Zedong Menguasai Tiongkok

Berabad-abad kemudian, Mao Zedong menghadapi tantangan serupa saat memimpin pasukan komunis dalam Long March pada 1934–1935. 

Pasukan yang jauh lebih lemah dibandingkan tentara nasionalis Tiongkok harus bergerak ribuan kilometer melintasi pegunungan, sungai, dan wilayah pedalaman. 

Mao mengandalkan mobilitas tinggi, perang gerilya, sabotase jalur logistik, infiltrasi politik desa, dan tekanan psikologis berkelanjutan. 

Serangan kecil dilakukan berulang kali; pos musuh diserang; jalur suplai diganggu. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved