Pojok Humam Hamid
Framing dan Narasi dalam Perang Iran vs AS dan Israel
Edward Bernays pernah menyatakan bahwa mengendalikan opini publik sama pentingnya dengan menguasai medan perang itu sendiri.
Oleh: Ahmad Humam Hamid*)
Di dunia media dan politik, ada dua kata yang sering terdengar sangat intelektual: framing dan narasi.
Biasanya kedua istilah ini muncul dalam diskusi akademik, seminar komunikasi, atau analisis media yang terdengar berat.
Padahal kalau dijelaskan secara sederhana - bahkan sedikit kocak - maknanya sebenarnya cukup mudah dipahami.
Bayangkan seseorang pulang malam dan berkata kepada pasangannya: “Tadi saya makan malam dengan teman kantor.”
Itu adalah narasi - cerita yang dipilih untuk disampaikan.
Namun pasangan mungkin bertanya, “Teman kantor yang mana?”
Jika jawabannya: “Ah, tim proyek saja, ramai-ramai.”
Di sinilah framing mulai bekerja - cara seseorang membingkai cerita agar terdengar normal, aman, dan tidak memicu pertanyaan lanjutan.
Kalau ternyata makan malam itu sebenarnya hanya dengan satu orang, dan orang itu mantan pacar, maka kita baru saja melihat perbedaan antara fakta, narasi, dan framing.
Faktanya: ada makan malam.
Narasinya: makan malam dengan teman kantor.
Framing-nya: acara tim yang biasa saja.
Dalam dunia media internasional, mekanismenya kurang lebih sama - hanya skalanya jauh lebih besar dan dampaknya dapat memengaruhi opini jutaan orang, bahkan keputusan perang.
Peristiwa yang sama bisa diceritakan dengan cara yang sangat berbeda tergantung siapa yang menulis cerita tersebut, kepada siapa cerita itu ditujukan, dan kepentingan apa yang berada di belakangnya.
Baca juga: Strategi “Ie Bu Peudah” Mesin Perang Iran Melawan AS–Israel - Bagian III
Beda Narasi Media Amerika, Rusia, dan India
perang iran
Perang Iran vs AS-Israel
Perang Iran vs AS
perang iran amerika
pojok humam hamid
Ahmad Humam Hamid
Serambinews.com
Serambi Indonesia
Eksklusif
multiangle
Meaningful
| Skenario Akhir Trump: Tumpulnya Strategi Bisnis Dalam Perang Iran |
|
|---|
| Aturan Baru Komdigi: Kenapa Semua Orang Tua Harus Senang? |
|
|---|
| Akankah Darurat Energi Menjadi Kiamat Energi Bagi Asia dan Indonesia? |
|
|---|
| Strategi Leher Botol - Choke Point: Thermopylae, Gallipoli, Ukraina, dan Hormuz |
|
|---|
| Prabowo, Mualem, Tito, dan Kontemplasi Idul Fitri: “Panadol” dan “Normal Baru” Bencana Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/foto-ahmad-humam-hamid-terbaru.jpg)