Senin, 20 April 2026

KUPI BEUNGOH

Selesai dengan Diri Sendiri

DALAM diskursus spiritualitas modern, sering kita dengar ungkapan "ia sudah selesai dengan dirinya sendiri."

Editor: Agus Ramadhan
SERAMBINEWS.COM/HO
Mustafa Husen Woyla, Ketua Umum DPP ISAD Aceh, Wakil Pimpinan Dayah Abu Krueng Kalee, dan Guru Tauhid/Tasawuf. 

*) Oleh: Mustafa Husen Woyla

DALAM diskursus spiritualitas modern, sering kita dengar ungkapan "ia sudah selesai dengan dirinya sendiri."

Frasa ini kerap dialamatkan kepada sosok yang tampak tenang, tidak lagi meledak-ledak oleh ambisi duniawi, dan memiliki ketahanan mental yang luar biasa terhadap dinamika kehidupan.

Namun, jika kita bedah lebih dalam melalui kacamata Tasawuf, khususnya dalam dialektika sifat Mahmudah (terpuji) dan Mazmumah (tercela), ungkapan ini sebenarnya adalah manifestasi dari puncak perjuangan batin yang kita kenal sebagai Mujahadah an-Nafs.

Selesai dengan diri sendiri bagi seorang Muslim bukanlah berarti ia berhenti bertindak atau menarik diri dari realitas sosial (uzlah pasif). Sebaliknya, ini adalah sebuah kondisi di mana ego atau nafs tidak lagi menjadi pemandu utama dalam setiap helaan napas dan tindakannya.

Kondisi ini dicapai setelah seseorang melewati fase Takhalli, yakni proses masif ketika pengosongan jiwa dari residu sifat-sifat buruk yang selama ini membelenggu kejernihan berpikir dan kemurnian iman.

Melampaui Syahwat Validasi: Merdeka dari Pandangan Makhluk

Pilar pertama dari kondisi "selesai" ini adalah lepasnya ketergantungan pada validasi eksternal. Dalam ilmu Tasawuf, musuh terbesar bagi keikhlasan adalah Riya (pamer) dan Sum’ah (ingin didengar atau dipuji).

Seorang Muslim yang batinnya belum selesai akan selalu merasa haus akan pengakuan. Setiap amal ibadah, sedekah, hingga aktivitas sosialnya seringkali disisipi harapan halus agar dipandang sebagai orang shaleh, dermawan, atau berilmu.

Inilah yang disebut dengan "syahwat tersembunyi" (syahwat al-khafiyyah) yang seringkali lebih berbahaya daripada kemaksiatan lahiriah.

Ketika seorang Muslim telah bermigrasi dari dominasi sifat Mazmumah menuju Mahmudah berupa Ikhlas, ia mencapai derajat batin di mana pujian dan cercaan berada pada timbangan yang sama.

Dalam tradisi tasawuf, ini disebut istawa al-madhu wa al-dzammu. Bagi pribadi yang telah selesai, pujian tidak lagi membuat egonya melambung, dan cercaan tidak membuatnya jatuh dalam keputusasaan.

Inilah kemerdekaan sejati. Ia beribadah bukan untuk membangun citra diri di hati manusia, melainkan sebagai bentuk penghambaan murni kepada Sang Khalik. Ia tidak lagi menjadi budak dari "apa kata orang", melainkan hamba yang hanya peduli pada "apa kata Allah".

Ketika batin sudah tuntas pada titik ini, seseorang tidak akan lagi merasa lelah karena mengharap balasan manusia, sebab ia telah menemukan "kecukupan" hanya dengan pandangan Allah.

Rekonsiliasi dengan Takdir: Menemukan Kedamaian dalam Ridha

Selesai dengan diri sendiri juga berarti tuntasnya konflik batin terhadap masa lalu, kekurangan diri, maupun ketetapan nasib.

Sifat Ananiah (egoisme) dan Hasad (iri hati) seringkali muncul karena seorang hamba tidak mampu berdamai dengan ketetapan hidupnya. Kegelisahan batin ini muncul dari penolakan terhadap pembagian (qismah) yang telah Allah gariskan.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved