Kamis, 11 Juni 2026

KUPI BEUNGOH

Selesai dengan Diri Sendiri

DALAM diskursus spiritualitas modern, sering kita dengar ungkapan "ia sudah selesai dengan dirinya sendiri."

Tayang:
Editor: Agus Ramadhan
SERAMBINEWS.COM/HO
Mustafa Husen Woyla, Ketua Umum DPP ISAD Aceh, Wakil Pimpinan Dayah Abu Krueng Kalee, dan Guru Tauhid/Tasawuf. 

Dalam ajaran Tauhid dan Tasawuf, konflik ini diselesaikan melalui sifat Ridha. Muslim yang sudah selesai dengan dirinya menerima segala kekurangan, kegagalan masa lalu, dan keterbatasan fisiknya sebagai bagian dari skenario agung Sang Pencipta yang penuh hikmah.

Ia tidak lagi menghabiskan energi spiritualnya untuk meratapi "apa yang sekiranya terjadi jika..." atau menyalahkan takdir yang telah berlalu.

Kedamaian batin (tathmainnul qulub) muncul karena ia yakin bahwa Allah adalah Al-Hakim (Yang Maha Bijaksana) dan Al-Latif (Yang Maha Lembut).

Pribadi muslim semacam ini percaya bahwa apa yang telah ditakdirkan untuknya tidak akan pernah melewatkannya, dan apa yang melewatkannya memang tidak pernah ditakdirkan untuknya.

Dengan keyakinan ini, ia melangkah dengan langkah yang ringan, tanpa beban dendam pada masa lalu atau kecemasan yang berlebihan pada masa depan. Ia telah selesai dengan egonya yang selalu ingin mendikte kehendak Tuhan.

Transformasi Energi: Dari Ego Menuju Khidmah

Seringkali, energi spiritual manusia habis tersedot hanya untuk mengurusi "urusan internal" jiwanya yang penuh gejolak; rasa tidak puas, ambisi yang liar, hingga rasa takut kehilangan kenyamanan duniawi.

Sifat Hubbud-Dunya (cinta dunia berlebih) dan Syuhh (kikir yang disertai ketamakan) adalah penghalang utama seseorang untuk bisa mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.

Namun, ketika urusan internal ini sudah "diselesaikan" melalui proses Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa), energi yang melimpah itu kini beralih menjadi kekuatan Khidmah (pengabdian).

Seorang Muslim yang sudah selesai dengan dirinya adalah pribadi yang paling dermawan (Sakhawah) dan mampu mempraktikkan Itsar, mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadinya sendiri.

Ia memberi bukan untuk mendapatkan imbalan atau balasan budi, melainkan karena ia merasa sudah "genap" dan "utuh" di dalam.

Ia tidak lagi mencari sesuatu di luar sana untuk mengisi kekosongan jiwanya. Baginya, kebahagiaan sejati bukanlah saat ia menerima, melainkan saat ia mampu menjadi saluran rahmat bagi makhluk Allah yang lain.

Mengatasi Penyakit Hati yang Halus

Rintangan terbesar untuk "selesai dengan diri sendiri" bukan terletak pada kemaksiatan yang tampak, melainkan pada penyakit hati yang halus seperti Ujub (bangga diri) dan Kibir (sombong).

Seorang Muslim mungkin merasa sudah shaleh karena ibadahnya, namun justru perasaan "merasa shaleh" itulah yang menandakan ia belum selesai dengan egonya.

Pribadi yang telah selesai senantiasa merasa fakir di hadapan Allah. Ia tidak melihat amal ibadahnya sebagai hasil upayanya sendiri, melainkan sebagai taufik dan hidayah dari Allah semata.

Hal ini melahirkan sifat Tawadhu (rendah hati) yang alami. Ia tidak merasa lebih baik dari siapapun, bahkan terhadap orang yang bermaksiat sekalipun, karena ia tahu bahwa hatinya pun berada di antara jari-jemari Sang Rahman yang bisa membolak-balikkannya kapan saja.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved