Selasa, 28 April 2026

Kupi Beungoh

Belajar Tanpa Garis Akhir

Seolah-olah pendidikan memiliki garis akhir yang jelas, dan setelah mencapai titik itu, perjalanan belajar seharusnya berhenti.

Editor: Agus Ramadhan
FOR SERAMBINEWS.COM
Pegawai di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh, Dr Aishah MPd. 

*) Oleh: Dr. Aishah, M.Pd

DI TENGAH masyarakat yang sering memandang pendidikan sebagai tangga menuju status sosial, tidak jarang muncul keheranan ketika seseorang tetap memilih melanjutkan studi setelah meraih gelar doktor.

Bagi sebagian orang, keputusan itu terasa janggal. Pertanyaan seperti “untuk apa belajar lagi?” atau “bukankah sudah cukup?” kerap muncul dalam percakapan sehari-hari.

Seolah-olah pendidikan memiliki garis akhir yang jelas, dan setelah mencapai titik itu, perjalanan belajar seharusnya berhenti.

Namun di dalam tradisi intelektual, pandangan semacam itu tidak sepenuhnya tepat. Bagi banyak akademisi, pendidikan bukan sekadar tahapan formal yang berakhir pada satu gelar tertentu. Ia lebih menyerupai perjalanan panjang yang terus berkembang seiring dengan rasa ingin tahu manusia.

Karena itu, tidak sedikit orang yang telah menyelesaikan program doktor tetap memilih duduk kembali di ruang kelas, mengambil program studi baru, memperdalam bidang lain, atau sekadar memuaskan keinginan intelektual yang belum selesai.

Di lingkungan akademik, fenomena ini bukan sesuatu yang aneh. Justru sebaliknya, hal tersebut sering dipahami sebagai bagian dari dinamika intelektual yang sehat.

Seorang dokter yang kembali belajar tidak selalu didorong oleh kebutuhan akan jabatan, pengakuan, atau ambisi karier.

Ada yang belajar karena ingin memperluas perspektif, ada yang ingin memahami bidang yang berbeda dari disiplin awalnya, dan ada pula yang sekadar menikmati proses belajar itu sendiri.

Sebaliknya, komentar yang paling nyaring di ruang sosial sering kali datang dari pemahaman yang lebih sempit tentang makna pendidikan.

Ketika pendidikan dipandang semata-mata sebagai sarana mobilitas sosial, maka setelah seseorang mencapai gelar tertinggi, proses tersebut dianggap selesai. Dalam kerangka pikir seperti ini, keputusan untuk belajar lagi tampak seperti sesuatu yang tidak masuk akal.

Menariknya, mereka yang akrab dengan dunia akademik justru cenderung tidak banyak berkomentar. Mereka memahami bahwa rasa ingin tahu intelektual tidak selalu berhenti pada pencapaian formal. Bahkan, semakin dalam seseorang terlibat dalam dunia pengetahuan, semakin besar pula kesadarannya bahwa masih banyak hal yang belum dipahami.

Pandangan ini sebenarnya selaras dengan gagasan klasik dalam tradisi filsafat. Filsuf Yunani kuno seperti Socrates pernah menegaskan bahwa kebijaksanaan justru berawal dari kesadaran akan keterbatasan pengetahuan manusia.

Kesadaran semacam inilah yang membuat seseorang tetap terbuka untuk belajar, bahkan setelah mencapai pencapaian akademik yang tinggi.

Dalam ilmu pendidikan modern, gagasan tersebut dikenal sebagai lifelong learning atau pembelajaran sepanjang hayat. Konsep ini menekankan bahwa proses belajar tidak berhenti pada usia atau jenjang pendidikan tertentu.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved