Kamis, 23 April 2026

Opini

Menuju Tuhan di Malam Ganjil

ADA satu hal yang hampir menyatukan manusia: semua orang pandai berhitung. Profesor menghitung teori,

Editor: mufti
Serambinews.com/HO/Tidak Ada
M Shabri Abd Majid, Guru Besar Ekonomi Islam dan Koordinator Program Studi Doktor Ilmu Ekonomi USK 

M Shabri Abd Majid, Guru Besar Ekonomi Islam dan Koordinator Program Studi Doktor Ilmu Ekonomi USK

ADA satu hal yang hampir menyatukan manusia: semua orang pandai berhitung. Profesor menghitung teori, pedagang menghitung untung, sopir menghitung jarak, guru menghitung nilai, debitur menghitung cicilan. Bahkan yang buta mata dan huruf pun tahu menghitung, setidaknya berapa uang di kantongnya. Hidup penuh angka. Jam menghitung waktu. 

Kalender menghitung hari.Dunia modern berjalan di atas bilangan. Namun di Ramadhan kita menghitung lebih sering dari biasanya: menit menuju imsak dan berbuka, rakaat tarawih, genap demi genap, lalu ditutup witir yang ganjil. Ibadah pun penuh angka: tawaf dan sa'i tujuh kali, shalat tujuh belas rakaat, zakat fitrah satu sha’. Al-Qur’an tersusun rapi: 30 juz, 114 surah, 6.236 ayat, semuanya genap.

Di bulan Ramadhan kita justru mengejar Lailatul Qadar di malam ganjil: 21, 23, 25, 27, dan 29. Mengapa tarawih-genap ditutup witir-ganjil? Mengapa malam kemuliaan berada pada yang ganjil? Mengapa Allah menyebut diri-Nya Al-Ahad Yang Maha Esa hanya satu kali dalam Al-Qur’an? Yang pasti: “Tiada ciptaan Allah yang sia-sia, dan di dalamnya terdapat tanda bagi orang-orang yang berakal“ (QS. Ali Imran: 190–191).

“Demi yang genap dan yang ganjil.” (QS. Al-Fajr: 3). Ini bukan sumpah Allah tentang angka. Ini sumpah tentang struktur realitas. Bilangan bukan sekadar alat hitung. Ia bahasa keteraturan alam. Angka menyingkap pola, dan setiap pola adalah jejak kehendak.
Genap adalah dunia ciptaan. Allah menjadikan segala sesuatu berpasang-pasangan (QS. Adz-Dzariyat: 49): siang dan malam, langit dan bumi, laki-laki dan perempuan. Bahkan partikel terkecil pun hidup dalam pasangan. Alam berdiri di atas relasi, keseimbangan, dan saling melengkapi. Genap dapat dibagi tanpa sisa. Ia terurai, tersusun, dan karena itu menyingkap hakikat makhluk: terbatas, terpecah, dan bergantung.

Sebaliknya, ganjil menunjuk kepada Sang Pencipta. Bilangan ganjil tak pernah habis dibagi dua; selalu ada satu yang tersisa. Sisa itu bukan sekadar angka, ia isyarat tentang pusat yang tak terpecah. Tentang satu realitas yang berdiri di balik seluruh keterbagian alam. Allah itu Ahad (QS. Al-Ikhlas: 1), “Witir dan mencintai yang ganjil.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ahad bukan satu dalam arti bilangan. Sebab satu masih bisa menjadi dua. Ahad adalah satu yang tidak tersusun, tidak terbagi, tidak bergantung. Satu dalam zat-Nya, kekuasaan-Nya, dan kepada-Nya seluruh makhluk bergantung. Maka genap adalah tanda makhluk yang terbagi. Ganjil adalah isyarat tauhid yang tak terbagi. Dunia bergerak dalam genap.Tuhan berdiri sebagai Ahad.

Tanpa Ahad, dunia tiada

Tanpa satu, tidak ada dua.Tanpa satu, tidak ada genap. Tanpa satu, tidak ada pasangan. Tanpa satu, tidak ada sistem angka. Seluruh bangunan aritmetika berdiri di atas satu. Dalam matematika, satu adalah identitas dalam perkalian: ia tidak berubah ketika mengalikan yang lain, tetapi yang lain memperoleh nilai karenanya. Ia diam, namun menopang segalanya.
Perhatikan hukum sederhana yang menghentak: 1 × 0 = 0. 1.000 × 0 = 0. Sebanyak apapun angka, jika dikalikan nol, hasilnya tetap nol. Nol tidak memiliki nilai pada dirinya. Ia memperoleh makna hanya ketika berdiri di samping satu. Nol yang berdampingan dengan satu menjadi sepuluh. Tanpa satu, nol tetap kosong.

Jika satu melambangkan Allah Yang Ahad dan nol melambangkan makhluk, maka tanpa Allah Sang Pencipta seluruh makhluk dan alam semesta kembali kepada nol. “Allah Maha Kaya, dan kamu semua adalah faqir.” (QS. Muhammad: 38). Fakir bukan sekadar miskin harta, tapi juga miskin wujud. Makhluk tidak berdiri karena dirinya. Ia ada karena Yang Satu menghendaki, bertahan karena Yang Satu menopang, bergerak karena Yang Satu memberi daya. Tanpa Ahad, seluruh keberadaan runtuh ke ketiadaan.

Allah Yang Ahad berdiri dalam keagungan mutlak. Dia bukan satu dalam sistem angka sebab satu masih bisa menjadi dua. Dia Ahad: tidak tersusun, tidak terbagi, tidak berpasangan, tidak bergantung. Dia tidak terikat waktu dan tidak berada dalam sistem genap. Sementara makhluk hidup dalam genap dalam struktur, hitungan, dan keterbatasan. Genap selalu dapat diurai. Ditambah dan dikalikan tetap genap, dibagi habis tanpa sisa. Ia tersusun dan terbagi. Sebanyak apapun genap dikumpulkan, ia tidak akan pernah menjadi Ahad.

Al-Qur’an sendiri turun ke dunia selama 22 tahun, 2 bulan, 22 hari: 30 juz, 114 surah, 6.236 ayat—semua dalam sistem angka genap. Namun sumbernya dari ganjil (Ahad). Yang Tak Terhitung berbicara melalui yang terhitung. Yang Tidak Terbagi hadir dalam yang terbagi. Witir bukan sekadar angka, tetapi simbol ketunggalan mutlak. Genap adalah tanda keterbatasan makhluk. Ahad adalah tanda kesempurnaan Ilahi.

Makhluk terhitung. Allah melampaui hitungan. Makhluk terbagi, Allah tidak. Makhluk terikat waktu. Allah menciptakan waktu. Lalu Allah menantang seluruh genap (makhluk): “Jika manusia dan jin berkumpul membuat satu surat saja seperti Al-Qur’an, mereka tidak akan mampu…” (QS. Al-Baqarah: 23; Al-Isra: 88). Seluruh genap boleh berkumpul menjumlahkan kecerdasan dan mengalikan kekuatan. Namun yang tersusun tidak akan menandingi Yang Tidak Tersusun. Genap tidak pernah melahirkan Ahad.

Kembali ke Ahad

Tujuan puasa adalah taqwa (QS. Al-Baqarah: 183). Takwa bukan sekadar takut berbuat salah. Ia adalah kesadaran sunyi bahwa kita hidup di hadapan Allah setiap detik dilihat, setiap niat diketahui, setiap air mata dihitung. Ramadhan adalah sebuah deret: hari pertama yang penuh semangat, hari-hari tengah yang mulai melelahkan, hari-hari akhir yang menguji ketulusan. Setiap lapar adalah latihan percaya. Setiap doa adalah ketukan di pintu langit. Jika deret ini benar-benar konvergen, ia menuju satu titik: Ahad. Jika tidak, ia hanya hari-hari yang sia-sia.

Kita menghitung rakaat, juz, dan doa. Namun yang dicari bukan banyaknya yang dicari satu: ridha Allah. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya amal tergantung niat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Satu niat yang jernih menghidupkan seluruh amal, tanpa itu, angka hanya deretan kosong.
Ramadhan mengajarkan bahwa di balik hitungan angka ganjil tersimpan pesan tauhid yang dalam. Tarawih genap ditutup witir ganjil; Lailatul Qadar dicari pada malam ganjil, seribu bulan dikalahkan oleh satu malam. Seakan Allah berpesan: jangan habiskan hidup pada yang banyak. Dari genap urusan dunia, Ramadhan menuntun kita kepada yang ganjil, mencari keridhaan Allah Yang Ahad, sebab pada akhirnya semua hitungan hidup berhenti di hadapan-Nya.

Semoga Ramadhan tidak berlalu sekadar sebagai angka di kalender. Ia mempertemukan kita dengan malam ganjil Lailatul Qadar dan membawa hati kembali kepada Yang Satu. Ketika hitungan Ramadhan selesai, semoga yang tersisa hanya satu ketenangan: pulang dalam keridhaan Allah Yang Ahad.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved