Kamis, 14 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Mineral, Daur Ulang & Realitas Tambang Baru: Batasan Ekonomi Sirkular : Bagian 2

Dunia membutuhkan mineral dalam jumlah besar untuk mendukung transisi energi, pembangunan infrastruktur, serta perkembangan teknologi. 

Tayang:
Editor: Firdha Ustin
FOR SERAMBINEWS.COM
Ir. Izzan Nur Aslam, S.T., M.Eng - Dosen Pertambangan USK, Mahasiswa S3 di Colorado School of Mines, USA, dan Industry – Academia Liaison di PERHAPI Aceh - Email: izzanaslam@usk.ac.id. 

Oleh Ir. Izzan Nur Aslam, S.T., M.Eng *)

Bagian 1

Pada Bagian 1, kita melihat bagaimana transisi energi dunia, yang juga relevan bagi daerah seperti Aceh, tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan mineral dalam jumlah besar.

Potensi energi terbarukan Aceh memang menjanjikan, namun pada saat yang sama dunia menghadapi paradoks yang semakin jelas: semakin serius dunia beralih menuju energi bersih, semakin besar pula kebutuhan terhadap berbagai komoditas mineral strategis.

Pertanyaan berikutnya kemudian muncul secara alami: jika dunia membutuhkan mineral dalam jumlah yang terus meningkat, apakah kebutuhan tersebut dapat dipenuhi hanya melalui daur ulang?

Daur Ulang: Gagasan Ideal yang Tidak Sederhana

Berbicara mengenai komoditas mineral pada akhirnya selalu membawa kita pada isu yang sama: pertambangan, lingkungan, dan keberlanjutan.

Dunia membutuhkan mineral dalam jumlah besar untuk mendukung transisi energi, pembangunan infrastruktur, serta perkembangan teknologi. 

Namun di sisi lain, kegiatan pertambangan sering dipandang sebagai penyebab kerusakan lingkungan dan konflik sosial.

Karena itu banyak pihak mengusulkan daur ulang sebagai solusi utama.

Secara konsep, pendekatan ini sangat menarik. Jika logam yang telah digunakan dapat dikumpulkan kembali dan diproses ulang, maka kebutuhan untuk membuka tambang baru dapat berkurang secara signifikan.

Namun kenyataannya jauh lebih rumit. Data menunjukkan bahwa laju daur ulang pada akhir masa pakai hanya mencapai 86 persen untuk emas, 60 % untuk nikel, 46 % untuk tembaga, 42 % untuk aluminium, 33 % untuk seng, dan hanya sekitar 0,5 % untuk litium.

Istilah laju akhir masa pakai merujuk pada persentase logam yang berhasil dikumpulkan kembali setelah produk yang mengandung logam tersebut mencapai akhir masa penggunaannya.

Artinya, bahkan dengan fasilitas daur ulang yang cukup baik, sebagian besar logam yang digunakan manusia masih tidak kembali sepenuhnya ke dalam sistem ekonomi.

Memang benar bahwa emas memiliki tingkat daur ulang tinggi, yaitu sekitar 86 % , tetapi penggunaannya relatif terbatas karena sebagian besar digunakan sebagai perhiasan.

Sebaliknya, logam yang sangat banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari seperti tembaga, aluminium, dan seng justru memiliki tingkat daur ulang kurang dari 50 % . Sebagian besar material tersebut masih berada dalam penggunaan aktif (lifetime yang tinggi) atau terbuang dalam kondisi yang sulit untuk diproses kembali.

Pelajaran dari Negara Industri Maju

Di Amerika Serikat, salah satu negara dengan sistem pengolahan mineral dan daur ulang yang relatif terintegrasi, situasinya juga tidak jauh berbeda.

Berdasarkan data Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) tahun 2024, nilai mineral non-energi yang ditambang mencapai sekitar 106 miliar dolar.

Namun dampak ekonominya jauh lebih besar karena mineral tersebut diproses oleh industri hilir dan fasilitas daur ulang hingga menghasilkan produk bernilai tambah mencapai 4,08 triliun dolar, atau sekitar 13?ri Produk Domestik Bruto Amerika Serikat.

Namun pada saat yang sama, sekitar 46 juta ton material masih tidak berhasil didaur ulang, hampir setara dengan 51 juta ton material yang berhasil didaur ulang.

Angka tersebut menunjukkan satu hal yang cukup jelas: meskipun daur ulang sangat penting, ia belum mampu menggantikan kebutuhan terhadap pertambangan primer.

Dengan seluruh teknologi yang dimiliki, serta proses pemisahan sampah sejak level rumah tangga (terkecil), negara seperti Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang masih menghadapi tantangan besar dalam mengelola siklus material ini.

Lalu muncul pertanyaan yang lebih reflektif: jika negara-negara dengan sistem seperti itu saja masih menghadapi kesulitan, bagaimana dengan negara berkembang seperti Indonesia yang katanya punya resource nationalism yang kuat berbalut hilirisasi? Bagaimana juga dengan Aceh?

Evolusi Industri Pertambangan yang Semakin Kompleks

Jika kita melihat perkembangan industri pertambangan secara historis, dahulu prosesnya relatif sederhana.

Rantai produksi dimulai dari geologi, penambangan, pengolahan mineral, metalurgi ekstraktif, hingga metalurgi fisik, dengan dukungan dari bidang rekayasa, pendidikan, dan ekonomi di luar proses utama. 

Namun saat ini proses tersebut menjadi jauh lebih kompleks.

Pada tahap penambangan, aspek pengolahan limbah, efisiensi proses, dan minimisasi dampak lingkungan harus dimasukkan sejak awal.

Pada tahap pemrosesan material, konsep daur ulang dan pengembangan material baru juga menjadi bagian penting dari sistem produksi.

Semua proses tersebut pada akhirnya bermuara pada bidang ilmu dan rekayasa material. Selain itu, faktor eksternal seperti kebutuhan energi dan perlindungan lingkungan juga semakin memperbesar kompleksitas sistem pertambangan modern. Tidak sulit membayangkan bahwa kompleksitas ini akan terus meningkat di masa depan.

Industri pertambangan tidak hanya menghadapi tantangan kadar mineral yang semakin menurun, tetapi juga tekanan dari faktor lingkungan, sosial, kebijakan, dan geopolitik.

Dari Ekonomi Linear ke Ekonomi Sirkular

Untuk menjawab tantangan tersebut, berbagai pendekatan ekonomi kemudian dikembangkan.

Model yang paling lama dikenal adalah ekonomi linear, dengan prinsip ambil, buat, gunakan, lalu buang.

Pendekatan ini kemudian berkembang menjadi ekonomi berbasis daur ulang, di mana proses produksi mencoba mengurangi jumlah material yang diambil dari alam serta jumlah limbah yang dibuang.

Namun pendekatan ini juga belum sepenuhnya efektif. Karena itu muncul konsep yang lebih luas, yaitu ekonomi sirkular.

Dalam sistem ini, penggunaan sumber daya dibuat berputar melalui prinsip menggunakan kembali, memperbaiki, memperbarui, dan mendaur ulang sehingga limbah yang dihasilkan menjadi hampir tidak ada.

Konsep ini bahkan berkembang lebih jauh, dari pada menghasilkan dari barang mentah baru, lebih baik meminjam, menyewa, membeli barang bekas, menggunakan kembali, berbagi, memperbaiki, meningkatkan kualitas barang, dan meneruskan penggunaan barang kepada orang lain.

Barulah pada tahap akhir, jika benar-benar tidak memungkinkan, maka akan didaur ulang di mana material akan melalui proses pemulihan kembali, sehingga jumlah yang benar-benar dibuang menjadi sangat kecil.

Realitas: Dunia Tetap Membutuhkan Tambang Baru

Namun dalam praktiknya, ekonomi sirkular tetap tidak dapat sepenuhnya menggantikan kebutuhan terhadap mineral baru. Pertumbuhan penduduk, urbanisasi, serta perkembangan teknologi terus meningkatkan konsumsi material dunia.

Karena itu pertanyaan yang sebenarnya bukan lagi apakah dunia harus menambang atau tidak. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: bagaimana menambang dengan cara yang lebih bertanggung jawab.

Dan di sinilah persoalan berikutnya muncul. Jika dunia membutuhkan pertambangan, maka dunia juga membutuhkan manusia yang mampu menjalankan industri tersebut. Bagi daerah seperti Aceh, pertanyaan ini menjadi semakin relevan.

Di tengah potensi energi terbarukan dan kekayaan sumber daya alam yang besar, masa depan pengelolaan sumber daya tidak hanya bergantung pada teknologi atau kebijakan, tetapi juga pada generasi yang akan mengelolanya.

Pertanyaan inilah yang akan kita bahas pada Bagian 3, ketika isu pertambangan tidak lagi hanya menyangkut sumber daya alam, tetapi juga menyangkut manusia, pendidikan, dan masa depan generasi tambang.

Bersambung pada bagian tiga...

*) PENULIS adalah Dosen Pertambangan USK, Mahasiswa S3 di Colorado School of Mines, USA, dan Industry – Academia Liaison di PERHAPI Aceh - Email: izzanaslam@usk.ac.id.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis..

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved