Jumat, 1 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Mineral, Industri dan Kehilangan Insinyur Tambang : Bagian 3

Dahulu industri pertambangan relatif sederhana, dari geologi hingga pengolahan mineral dan metalurgi.

Tayang:
Editor: Firdha Ustin
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS
Ir Izzan Nur Aslam ST MEng, dosen Program Studi Teknik Pertambangan USK dan Industri-Academia Liaison di PERHAPI Aceh. 

Oleh Ir. Izzan Nur Aslam, S.T., M.Eng *)

Bagian 1 & Bagian 2.

Pada Bagian 2, kita melihat bahwa dunia tetap membutuhkan tambang baru meskipun konsep ekonomi sirkular dan daur ulang terus berkembang.

Hal ini juga relevan bagi Indonesia, termasuk Aceh yang memiliki potensi sumber daya alam besar.

Namun muncul pertanyaan penting: jika dunia tetap membutuhkan pertambangan, siapa yang akan menjalankan industri tersebut di masa depan?

Dahulu industri pertambangan relatif sederhana, dari geologi hingga pengolahan mineral dan metalurgi.

Kini prosesnya jauh lebih kompleks karena harus memasukkan efisiensi proses, pengelolaan limbah, pengembangan material baru, dan keberlanjutan.

Pertambangan modern tidak lagi sekadar menggali bumi, tetapi juga mengelola sumber daya secara bertanggung jawab.

Krisis Tenaga Kerja di saat Universitas Kehilangan Mahasiswa

Di tengah kompleksitas tersebut muncul masalah baru: kekurangan tenaga kerja di sektor pertambangan.

Di Kanada, kebutuhan tenaga kerja tambang pada tahun 2030 diperkirakan mencapai 80.000 hingga 120.000 orang.

Di Amerika Serikat, jumlah pekerja tambang menurun 20,4 persen dalam sepuluh tahun terakhir.

Chile membutuhkan sekitar 25.000 pekerja baru, sementara di Australia pertumbuhan pekerjaan di sektor tambang hanya sekitar 5,9?lam lima tahun terakhir.

Di Amerika Utara, jumlah mahasiswa teknik pertambangan menurun hingga 50 % sejak 2013, termasuk di Colorado School of Mines, sekolah tambang berperingkat 1 di dunia dalam satu dekade terakhir menurut QS World Ranking.

Secara keseluruhan, program studi pertambangan di Amerika Serikat bahkan mengalami penurunan hingga 63 % .

Meskipun dalam beberapa tahun terakhir mulai terlihat sedikit peningkatan dengan dibukanya kembali beberapa program studi tambang yang sebelumnya ditutup.

Situasi ini tidak dapat dilepaskan dari kondisi industri global, terutama di Amerika Serikat yang memiliki perusahaan teknologi raksasa yang sering disebut Magnificent Seven, yaitu Apple, Microsoft, Google, Amazon, Nvidia, Meta, dan Tesla.

Perusahaan-perusahaan ini sangat membutuhkan berbagai mineral kritis untuk mendukung teknologi digital, kecerdasan buatan, kendaraan listrik, dan industri energi baru.

Namun pada saat yang sama Amerika Serikat memiliki keterbatasan cadangan tanah jarang dibandingkan dengan negara seperti Tiongkok.

Lebih dekat ke Indonesia, Australia, menghadapi kondisi serupa. Jumlah lulusan teknik pertambangan di negara tersebut turun hampir 40 % sejak 2015, meskipun industri tambang dan hilirisasinya merupakan pekerjaan yang sangat penting, terutama di wilayah Australia Barat.

Hal yang sama juga dirasakan oleh berbagai program studi pertambangan di Inggris dan negara-negara Eropa, yang semakin kesulitan menarik mahasiswa untuk mempelajari bidang pertambangan.

Masalahnya bukan hanya kekurangan pekerja. Masalah utamanya adalah menurunnya minat generasi muda terhadap industri pertambangan.

Bagi generasi muda di Amerika Serikat, Australia, dan Eropa, terutama yang berusia 15 hingga 30 tahun, sektor pertambangan serta minyak dan gas tidak lagi menjadi sektor yang menarik.

Bahkan data menunjukkan bahwa hingga 70?ri mereka masih mempertimbangkan kembali secara matang sebelum memutuskan bekerja di sektor pertambangan. Ini menjadi paradoks besar di tengah meningkatnya kebutuhan mineral dunia.

Posisi Indonesia: Kaya Sumber Daya, Tantangan Sumber Daya Manusia

Indonesia sendiri berada pada posisi yang unik. Negara ini memiliki kekayaan sumber daya mineral yang sangat besar.

Indonesia berada pada posisi nomor 6 dunia untuk cadangan bauksit, nomor 7 untuk tembaga, nomor 5 untuk emas, dan nomor 1 untuk nikel, dengan sekitar 23?dangan nikel dunia berada di Indonesia.

Indonesia juga berada pada posisi nomor 2 dunia untuk cadangan dan produksi timah, dengan sekitar 17?dangan timah dunia.

Namun jika melihat struktur tenaga kerja sektor pertambangan, kondisinya masih jauh dari ideal.

Data menunjukkan bahwa tenaga kerja sektor pertambangan masih didominasi oleh lulusan SD sebesar 31,6 % , SMP 21,5 % , SMA 21,6 % , sementara lulusan universitas hanya sekitar 1,7 % . 

Padahal jumlah program studi teknik pertambangan di Indonesia meningkat dari hanya 5 program pada tahun 1948 menjadi 53 program pada tahun 2025.

Bahkan jumlah ini terus bertambah karena banyak universitas yang berada dekat dengan wilayah tambang ingin membuka program studi pertambangan.

Penulis sendiri masih mengingat ketika booming nikel terjadi, bahkan terdapat program studi yang harus “mengoper” kelebihan mahasiswa ke kampus tetangga karena overcapacity.

Di sisi lain, penyerapan tenaga kerja oleh industri pertambangan relatif kecil. Pada tahun 2023, tenaga kerja sektor pertambangan hanya sekitar 1,7 juta orang dari total 139,8 juta tenaga kerja Indonesia, atau sekitar 1,2?ri total tenaga kerja nasional.

Dalam struktur tenaga kerja nasional, sektor pertanian dan perikanan masih mendominasi dengan 39,4 juta tenaga kerja, sementara sektor pertambangan berada pada urutan terakhir setelah sektor industri dan jasa.

Masyarakat Baru untuk Industri Tambang

Transformasi industri pertambangan dan kesiapan generasi muda menjadi kunci utama.

Industri tambang harus dilihat berbeda dari masa lalu yang identik dengan proses manual dan minim inovasi.

Kini pertambangan bergerak menuju teknologi lebih maju seperti penambangan otomatis, teknologi daur ulang, pemilahan bijih berbasis sensor, model digital tambang, ekonomi sirkular, serta pengurangan emisi karbon.

Dunia akan selalu membutuhkan mineral, tetapi juga menuntut proses yang lebih bersih, cerdas, dan bertanggung jawab. Karena itu generasi muda harus siap menghadapi transisi digital dan hijau dalam industri pertambangan.

Industri tambang membutuhkan individu dengan kemampuan memecahkan masalah, berpikir logis, ketajaman analisis, kemampuan komunikasi, serta kesadaran terhadap keberlanjutan dan lingkungan.

Kita mungkin tidak mampu menyelesaikan seluruh masalah global ataupun nasional. Namun kita dapat memulai dari diri sendiri melalui inisiatif, kedalaman ilmu, intuisi, kemampuan mempengaruhi hal baik, keberanian mengambil tanggung jawab dan keputusan, kemampuan mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu, hingga menjaga rasa humor dalam menghadapi tantangan.

Kita juga tidak boleh lagi hanya mengandalkan Technology Readiness Level (TRL) hingga level 9 sementara Social Readiness Level (SRL) masih berada di level 1.

Teknologi mungkin berhasil dikembangkan, tetapi jika tidak diterima oleh masyarakat maka teknologi tersebut tidak akan memberikan manfaat nyata.

Karena itu sudah saatnya kita meningkatkan kesiapan sosial setara dengan kesiapan teknologi, dengan memasukkan inovasi dalam lingkungan sosial masyarakat pada tahap penerapan teknologi.

Pertanyaan untuk Indonesia dan Aceh

Jika dunia membutuhkan mineral dalam jumlah besar, sementara minat generasi muda terhadap industri pertambangan terus menurun, muncul pertanyaan penting: siapa yang akan mengelola sumber daya tersebut di masa depan?

Jika universitas tidak harus mengelola tambang secara langsung, bagaimana universitas, industri, dan pemerintah di Aceh, membangun ekosistem pengetahuan dan kepemimpinan yang mampu menjawab tantangan tersebut?

Apakah pertambangan hanya persoalan teknologi dan ekonomi, atau juga kesadaran manusia dalam mengelola bumi secara bijaksana? Pertanyaan ini membawa kita ke Bagian 4.

Bersambung...

*) PENULIS adalah Dosen Pertambangan USK, Mahasiswa S3 di Colorado School of Mines, USA, dan Industry – Academia Liaison di PERHAPI Aceh - Email: izzanaslam@usk.ac.id.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis..

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved