KUPI BEUNGOH
Mineral, Industri dan Kehilangan Insinyur Tambang : Bagian 3
Dahulu industri pertambangan relatif sederhana, dari geologi hingga pengolahan mineral dan metalurgi.
Oleh Ir. Izzan Nur Aslam, S.T., M.Eng *)
Pada Bagian 2, kita melihat bahwa dunia tetap membutuhkan tambang baru meskipun konsep ekonomi sirkular dan daur ulang terus berkembang.
Hal ini juga relevan bagi Indonesia, termasuk Aceh yang memiliki potensi sumber daya alam besar.
Namun muncul pertanyaan penting: jika dunia tetap membutuhkan pertambangan, siapa yang akan menjalankan industri tersebut di masa depan?
Dahulu industri pertambangan relatif sederhana, dari geologi hingga pengolahan mineral dan metalurgi.
Kini prosesnya jauh lebih kompleks karena harus memasukkan efisiensi proses, pengelolaan limbah, pengembangan material baru, dan keberlanjutan.
Pertambangan modern tidak lagi sekadar menggali bumi, tetapi juga mengelola sumber daya secara bertanggung jawab.
Krisis Tenaga Kerja di saat Universitas Kehilangan Mahasiswa
Di tengah kompleksitas tersebut muncul masalah baru: kekurangan tenaga kerja di sektor pertambangan.
Di Kanada, kebutuhan tenaga kerja tambang pada tahun 2030 diperkirakan mencapai 80.000 hingga 120.000 orang.
Di Amerika Serikat, jumlah pekerja tambang menurun 20,4 persen dalam sepuluh tahun terakhir.
Chile membutuhkan sekitar 25.000 pekerja baru, sementara di Australia pertumbuhan pekerjaan di sektor tambang hanya sekitar 5,9?lam lima tahun terakhir.
Di Amerika Utara, jumlah mahasiswa teknik pertambangan menurun hingga 50 % sejak 2013, termasuk di Colorado School of Mines, sekolah tambang berperingkat 1 di dunia dalam satu dekade terakhir menurut QS World Ranking.
Secara keseluruhan, program studi pertambangan di Amerika Serikat bahkan mengalami penurunan hingga 63 % .
Meskipun dalam beberapa tahun terakhir mulai terlihat sedikit peningkatan dengan dibukanya kembali beberapa program studi tambang yang sebelumnya ditutup.
kupi beungoh
Izzan Nur Aslam
Insinyur
tambang
mineral
Opini
industri
Serambinews.com
Serambi Indonesia
berita serambi
| Kupiah Meukeutop dan Nama Besar Kampus Aceh: Menjaga atau Mengerdilkan? |
|
|---|
| Refleksi Hardiknas: Alarm Karakter dan "Eksploitasi Keikhlasan" |
|
|---|
| Serahkan Urusan pada Ahlinya, Jika Tidak Maka Tunggulah Kehancuran |
|
|---|
| Mendesain Ulang Arah Pendidikan Kita |
|
|---|
| Stigma Gembel, Mengapa Jalan Kaki di Banda Aceh Dipandang Sebelah Mata? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Izzan-Nur-Aslam.jpg)