Rabu, 29 April 2026

KUPI BEUNGOH

Mineral, Industri dan Kehilangan Insinyur Tambang : Bagian 3

Dahulu industri pertambangan relatif sederhana, dari geologi hingga pengolahan mineral dan metalurgi.

Editor: Firdha Ustin
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS
Ir Izzan Nur Aslam ST MEng, dosen Program Studi Teknik Pertambangan USK dan Industri-Academia Liaison di PERHAPI Aceh. 

Penulis sendiri masih mengingat ketika booming nikel terjadi, bahkan terdapat program studi yang harus “mengoper” kelebihan mahasiswa ke kampus tetangga karena overcapacity.

Di sisi lain, penyerapan tenaga kerja oleh industri pertambangan relatif kecil. Pada tahun 2023, tenaga kerja sektor pertambangan hanya sekitar 1,7 juta orang dari total 139,8 juta tenaga kerja Indonesia, atau sekitar 1,2?ri total tenaga kerja nasional.

Dalam struktur tenaga kerja nasional, sektor pertanian dan perikanan masih mendominasi dengan 39,4 juta tenaga kerja, sementara sektor pertambangan berada pada urutan terakhir setelah sektor industri dan jasa.

Masyarakat Baru untuk Industri Tambang

Transformasi industri pertambangan dan kesiapan generasi muda menjadi kunci utama.

Industri tambang harus dilihat berbeda dari masa lalu yang identik dengan proses manual dan minim inovasi.

Kini pertambangan bergerak menuju teknologi lebih maju seperti penambangan otomatis, teknologi daur ulang, pemilahan bijih berbasis sensor, model digital tambang, ekonomi sirkular, serta pengurangan emisi karbon.

Dunia akan selalu membutuhkan mineral, tetapi juga menuntut proses yang lebih bersih, cerdas, dan bertanggung jawab. Karena itu generasi muda harus siap menghadapi transisi digital dan hijau dalam industri pertambangan.

Industri tambang membutuhkan individu dengan kemampuan memecahkan masalah, berpikir logis, ketajaman analisis, kemampuan komunikasi, serta kesadaran terhadap keberlanjutan dan lingkungan.

Kita mungkin tidak mampu menyelesaikan seluruh masalah global ataupun nasional. Namun kita dapat memulai dari diri sendiri melalui inisiatif, kedalaman ilmu, intuisi, kemampuan mempengaruhi hal baik, keberanian mengambil tanggung jawab dan keputusan, kemampuan mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu, hingga menjaga rasa humor dalam menghadapi tantangan.

Kita juga tidak boleh lagi hanya mengandalkan Technology Readiness Level (TRL) hingga level 9 sementara Social Readiness Level (SRL) masih berada di level 1.

Teknologi mungkin berhasil dikembangkan, tetapi jika tidak diterima oleh masyarakat maka teknologi tersebut tidak akan memberikan manfaat nyata.

Karena itu sudah saatnya kita meningkatkan kesiapan sosial setara dengan kesiapan teknologi, dengan memasukkan inovasi dalam lingkungan sosial masyarakat pada tahap penerapan teknologi.

Pertanyaan untuk Indonesia dan Aceh

Jika dunia membutuhkan mineral dalam jumlah besar, sementara minat generasi muda terhadap industri pertambangan terus menurun, muncul pertanyaan penting: siapa yang akan mengelola sumber daya tersebut di masa depan?

Jika universitas tidak harus mengelola tambang secara langsung, bagaimana universitas, industri, dan pemerintah di Aceh, membangun ekosistem pengetahuan dan kepemimpinan yang mampu menjawab tantangan tersebut?

Apakah pertambangan hanya persoalan teknologi dan ekonomi, atau juga kesadaran manusia dalam mengelola bumi secara bijaksana? Pertanyaan ini membawa kita ke Bagian 4.

Bersambung...

*) PENULIS adalah Dosen Pertambangan USK, Mahasiswa S3 di Colorado School of Mines, USA, dan Industry – Academia Liaison di PERHAPI Aceh - Email: izzanaslam@usk.ac.id.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis..

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved