Selasa, 28 April 2026

KUPI BEUNGOH

Mineral, Industri dan Kehilangan Insinyur Tambang : Bagian 3

Dahulu industri pertambangan relatif sederhana, dari geologi hingga pengolahan mineral dan metalurgi.

Editor: Firdha Ustin
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS
Ir Izzan Nur Aslam ST MEng, dosen Program Studi Teknik Pertambangan USK dan Industri-Academia Liaison di PERHAPI Aceh. 

Situasi ini tidak dapat dilepaskan dari kondisi industri global, terutama di Amerika Serikat yang memiliki perusahaan teknologi raksasa yang sering disebut Magnificent Seven, yaitu Apple, Microsoft, Google, Amazon, Nvidia, Meta, dan Tesla.

Perusahaan-perusahaan ini sangat membutuhkan berbagai mineral kritis untuk mendukung teknologi digital, kecerdasan buatan, kendaraan listrik, dan industri energi baru.

Namun pada saat yang sama Amerika Serikat memiliki keterbatasan cadangan tanah jarang dibandingkan dengan negara seperti Tiongkok.

Lebih dekat ke Indonesia, Australia, menghadapi kondisi serupa. Jumlah lulusan teknik pertambangan di negara tersebut turun hampir 40 % sejak 2015, meskipun industri tambang dan hilirisasinya merupakan pekerjaan yang sangat penting, terutama di wilayah Australia Barat.

Hal yang sama juga dirasakan oleh berbagai program studi pertambangan di Inggris dan negara-negara Eropa, yang semakin kesulitan menarik mahasiswa untuk mempelajari bidang pertambangan.

Masalahnya bukan hanya kekurangan pekerja. Masalah utamanya adalah menurunnya minat generasi muda terhadap industri pertambangan.

Bagi generasi muda di Amerika Serikat, Australia, dan Eropa, terutama yang berusia 15 hingga 30 tahun, sektor pertambangan serta minyak dan gas tidak lagi menjadi sektor yang menarik.

Bahkan data menunjukkan bahwa hingga 70?ri mereka masih mempertimbangkan kembali secara matang sebelum memutuskan bekerja di sektor pertambangan. Ini menjadi paradoks besar di tengah meningkatnya kebutuhan mineral dunia.

Posisi Indonesia: Kaya Sumber Daya, Tantangan Sumber Daya Manusia

Indonesia sendiri berada pada posisi yang unik. Negara ini memiliki kekayaan sumber daya mineral yang sangat besar.

Indonesia berada pada posisi nomor 6 dunia untuk cadangan bauksit, nomor 7 untuk tembaga, nomor 5 untuk emas, dan nomor 1 untuk nikel, dengan sekitar 23?dangan nikel dunia berada di Indonesia.

Indonesia juga berada pada posisi nomor 2 dunia untuk cadangan dan produksi timah, dengan sekitar 17?dangan timah dunia.

Namun jika melihat struktur tenaga kerja sektor pertambangan, kondisinya masih jauh dari ideal.

Data menunjukkan bahwa tenaga kerja sektor pertambangan masih didominasi oleh lulusan SD sebesar 31,6 % , SMP 21,5 % , SMA 21,6 % , sementara lulusan universitas hanya sekitar 1,7 % . 

Padahal jumlah program studi teknik pertambangan di Indonesia meningkat dari hanya 5 program pada tahun 1948 menjadi 53 program pada tahun 2025.

Bahkan jumlah ini terus bertambah karena banyak universitas yang berada dekat dengan wilayah tambang ingin membuka program studi pertambangan.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved