Rabu, 29 April 2026

Jurnalisme Warga

Keutamaan Waktu Malam Saat Ramadhan yang Perlu Diburu

Reportase ini saya rangkum dari isi ceramah Ustaz Helmi Bustami bakda isya di Masjid Al-Ikhlas Geulanggang Teungoh, Kecamatan Kota Juang, Bireuen

Editor: mufti
IST
M. ZUBAIR, S.H., M.H., Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Kabupaten Bireuen, melaporkan dari Bireuen 

M. ZUBAIR, S.H., M.H., Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Kabupaten Bireuen, melaporkan dari Bireuen

Reportase ini saya rangkum dari isi ceramah Ustaz Helmi Bustami bakda isya di Masjid Al-Ikhlas Geulanggang Teungoh, Kecamatan Kota Juang, Bireuen, 3 Maret 2026/M, 13 Ramadhan 1447/H lalu.

Pengurus Masjid Al-Ikhlas Geulanggang Teungoh selama bulan suci Ramdhan menggelar ceramah singkat bakda isya sebelum memulai shalat Tarawih dengan mengahdirkan penceramah-penceramah terbaik dan berwawasan luas, baik dalam bidang ilmu agama maupun bidang umum lainnya.

Pada malam ke-13 Ramadhan itu Ustaz Helmi membuka tausiahnya dengan mengutip pertanyaan anak-anak apakah yang mula-mula diciptakan Allah: bulan atau malam? Beliau jelaskan bahwa banyak dalam surah Al-Qur’an Allah menempatkan kata malam lebih awal dibandingkan kata siang. Sehingga, bulan suci Ramadhan yang sarat dengan keberkahan, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Setiap detiknya bernilai ibadah, setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya, dan setiap doa memiliki peluang besar untuk dikabulkan.

Namun, di antara seluruh waktu yang ada di bulan ini, malam hari memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Allah Swt bahkan secara khusus mengabadikan kemuliaan malam dalam firman-Nya, dan Rasulullah saw memberikan teladan nyata bagaimana memaksimalkan malam-malam Ramadhan dengan ibadah dan munajat.

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman bahwa bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Peristiwa monumental itu terjadi pada malam hari, yang kemudian dikenal sebagai Lailatulqadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Kemuliaan ini menunjukkan bahwa malam Ramadhan bukan sekedar waktu untuk beristirahat setelah berpuasa, melainkan momentum emas untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Al-Qur’an menegaskan dalam surah Al-Qadr bahwa Lailatulqadar lebih baik daripada seribu bulan. Artinya, satu malam yang diisi dengan ibadah di bulan Ramadhan setara dengan ibadah selama lebih dari 83 tahun. Ini bukan sekadar angka simbolik, melainkan bentuk kemurahan Allah kepada hamba-Nya agar memperoleh pahala berlipat ganda dalam waktu yang singkat.

Rasulullah saw bersabda bahwa barang siapa yang menghidupkan malam Ramadhan dengan iman dan penuh pengharapan pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Hadis ini menjadi dasar utama pelaksanaan shalat Tarawih dan qiyamul lail selama Ramadhan.

Rasulullah juga memberi teladan nyata dalam menghidupkan malam Ramadhan. Dalam sepuluh malam terakhir, beliau mengencangkan ikat pinggangnya, sebuah kiasan bahwa beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah, membangunkan keluarganya, dan menghidupkan malam dengan shalat serta doa.

Dari sisi teologis dan spiritual, malam Ramadhan adalah ruang sunyi yang menghadirkan kedekatan intim antara hamba dan Rabb-nya. Ketika hiruk-pikuk dunia mereda, ketika suara manusia berkurang, doa-doa lebih khusyuk terlantun, air mata lebih mudah menetes, dan hati lebih peka menerima cahaya hidayah.

Salah satu kebaikan terbesar menghidupkan malam Ramadhan adalah mendapat ampunan dosa. Setiap manusia tidak luput dari kesalahan. Ramadhan menjadi momentum pembersihan jiwa, dan malam hari adalah waktu paling efektif untuk bermuhasabah dan memohon ampun.

Dalam kesunyian malam, seseorang lebih jujur kepada dirinya sendiri. Ia mengakui dosa-dosanya, menyesali kekhilafan, dan bertekad memperbaiki diri. Proses ini melahirkan pribadi yang lebih matang secara spiritual.

Kita mungkin merasakan bangun malam untuk shalat Tahajud atau Tarawih bukan perkara mudah. Dibutuhkan niat yang kuat dan disiplin. Kebiasaan ini melatih konsistensi dalam ibadah.

Seseorang yang terbiasa bangun malam akan lebih mampu mengendalikan hawa nafsu dan menjaga kualitas spiritualnya, bahkan setelah Ramadhan berlalu.

Malam hari adalah waktu turunnya rahmat dan dikabulkannya doa. Dalam hadis disebutkan bahwa Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan berfirman, “Adakah hamba-Ku yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan?” Momentum ini adalah kesempatan emas, doa-doa yang dipanjatkan pada malam Ramadhan memiliki peluang besar untuk dikabulkan, baik doa untuk diri sendiri, keluarga, bangsa, maupun umat.

Menghidupkan malam Ramadhan berarti meneladani sunah Nabi. Tradisi Tarawih berjemaah, iktikaf di masjid, memperbanyak tilawah Al-Qur’an, dan memperbanyak zikir adalah bagian dari warisan spiritual Islam yang terus dijaga hingga kini. Ketaatan pada sunah tidak hanya bernilai pahala, tetapi juga menjaga identitas keislaman di tengah arus modernitas yang sering kali melalaikan nilai-nilai spiritual.

Tidak ada yang tahu secara pasti kapan Lailatulqadar terjadi. Oleh karena itu, Rasulullah menganjurkan umatnya untuk mencarinya di sepuluh malam terakhir, khususnya malam-malam ganjil.

Orang yang bersungguh-sungguh menghidupkan malam Ramadhan berpeluang besar mendapatkan kemuliaan tersebut. Sementara mereka yang lalai, bisa jadi melewatkan malam paling berharga dalam hidupnya.

Jika malam Ramadhan adalah lahan subur pahala, maka mengabaikannya adalah kerugian besar. Kerugian ini bukan sekadar kehilangan pahala, tetapi juga kehilangan kesempatan transformasi spiritual.

Ramadhan datang hanya setahun sekali. Tidak ada jaminan seseorang akan bertemu Ramadhan berikutnya. Mereka yang menyia-nyiakan malamnya dengan tidur berlebihan, hiburan tak bermanfaat, atau aktivitas sia-sia telah kehilangan kesempatan emas untuk pengampunan.

Betapa banyak orang yang berharap bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaiki diri, tetapi waktu tidak pernah mundur.

Di era digital, malam Ramadhan sering kali dihabiskan untuk menonton hiburan, bermain gim, atau berselancar di media sosial hingga larut.

Aktivitas ini mungkin tampak sepele, tetapi jika menggeser ibadah, maka ia menjadi bentuk kelalaian. Ramadhan yang seharusnya menjadi bulan pengendalian diri justru berubah menjadi bulan konsumsi hiburan. Ini paradoks yang merugikan.

Salah satu dampak tidak memanfaatkan malam untuk ibadah adalah mengerasnya hati.

Ibadah malam melembutkan jiwa dan membersihkan hati dari karat dosa. Tanpa itu, hati mudah dikuasai emosi, amarah, dan kesombongan.

Orang yang tidak pernah merasakan bangun malam mungkin tidak memahami kelezatan spiritualnya. Ada ketenangan luar biasa ketika sujud dalam sunyi, ketika doa dipanjatkan dengan air mata. Tanpa pengalaman itu, Ramadhan terasa datar dan biasa saja.

Banyak orang baru tersadar ketika Ramadhan hampir berakhir. Mereka menyesal karena malam-malam sebelumnya terlewat begitu saja. Namun, waktu yang hilang tidak bisa kembali.

Penyesalan ini sering muncul ketika menyadari bahwa Lailatulqadar mungkin telah berlalu tanpa disadari.

Malam bukan sekadar waktu gelap setelah siang. Dalam perspektif Islam, malam adalah ruang kontemplasi dan perenungan. Para ulama besar, para wali, dan para pejuang Islam menjadikan malam sebagai sumber kekuatan spiritual mereka. Transformasi diri sering terjadi dalam keheningan. Keputusan untuk berhijrah, memperbaiki akhlak, meninggalkan kebiasaan buruk, dan memulai hidup baru sering lahir dari doa-doa malam.

Malam Ramadhan adalah permata yang tersembunyi dalam balutan waktu. Ia sunyi, tetapi sarat makna. Ia gelap, tetapi penuh cahaya spiritual. Memanfaatkannya berarti membuka pintu ampunan, meraih pahala berlipat, dan mendekatkan diri kepada Allah. Sebaliknya, mengabaikannya adalah kerugian yang mungkin baru disadari ketika waktu telah habis.

Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga di siang hari, tetapi menghidupkan malam dengan ibadah dan doa.

Semoga kita termasuk golongan yang mampu memanfaatkan malam Ramadhan dengan sebaik-baiknya, sehingga ketika bulan suci ini berlalu, kita keluar sebagai pribadi yang lebih bersih, lebih kuat, dan lebih dekat kepada Allah Swt.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved