Rabu, 6 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

Prabowo, Mualem, Tito, dan Kontemplasi Idul Fitri: “Panadol” dan “Normal Baru” Bencana Aceh

di hadapan publik, yang dibutuhkan adalah sentuhan langsung terhadap kehidupan sehari-hari rakyat.

Tayang:
Editor: Zaenal
Serambinews.com/HO
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. 

Oleh: Ahmad Humam Hamid*)

Di Aceh, menjelang Idul Fitri 1447 H/2026, kehidupan sehari-hari masih berdenyut di antara dua dunia: dunia yang hancur karena banjir dan longsor, serta dunia tradisi, iman, dan harapan yang tetap hidup. 

Rumah-rumah yang dulu bersih kini tertutup lumpur; sawah yang subur menyisakan jejak kehancuran; jalan dan jembatan yang menghubungkan kampung-kampung berubah menjadi rintangan fisik bagi setiap langkah. 

Air minum bersih terbatas, fasilitas pendidikan dan kesehatan sebagian besar rusak, dan sumber penghidupan masyarakat menipis atau bahkan lenyap.

Di tengah kondisi regresif ini, tiga figur menjadi simbol penting kehadiran negara: Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem), Presiden Prabowo Subianto, dan Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian. 

Permintaan daging makmeugang oleh Mualem kepada Presiden, kehadiran Tito Karnavian sepanjang Ramadan, serta kunjungan Presiden ke Aceh Tamiang pada Hari Raya Idul Fitri, menjadi rangkaian simbolik yang memperlihatkan negara hadir di tengah rakyat yang terluka.

Daging Meugang, Pengikat Harapan

Permintaan Mualem agar Presiden menyediakan sapi untuk meugang sempat menimbulkan tanya: mengapa bukan proyek besar rehabilitasi? 

Namun di situlah letak kecerdasan politiknya. 

Proyek besar memang dibicarakan dalam ruang teknokratis, tetapi di hadapan publik, yang dibutuhkan adalah sentuhan langsung terhadap kehidupan sehari-hari rakyat.

Meugang bukan sekadar makan daging; ia adalah ritual sosial, budaya, dan psikologis. 

Dalam situasi pascabencana, ia menjadi pengikat harapan.

Ketika Presiden memenuhi permintaan itu, yang hadir bukan hanya sapi, tetapi simbol pengakuan: bahwa penderitaan rakyat Aceh dilihat dan dirasakan. 

Kehadiran Presiden di Masjid Darussalam Tamiang, menyapa warga di hunian sementara, dan membagikan bantuan, memperkuat pesan bahwa negara tidak absen.

Di sisi lain, kehadiran Tito Karnavian menambah dimensi operasional. 

Ia hadir dari awal hingga akhir Ramadan, memantau rehabilitasi sekolah, pesantren, hunian, dan fasilitas publik. 

Ia tidak hanya datang, tetapi juga mengikuti ritme sosial masyarakat: berbuka bersama, menyerahkan bantuan ibadah, hingga menutup kegiatan Ramadan. 

Ini bukan sekadar birokrasi; ini adalah pendekatan emosional yang terstruktur.

Bagi masyarakat Aceh, semua ini adalah penting. 

Dalam bahasa sederhana, kehadiran itu adalah Panadol. 

Ia meredakan nyeri, menenangkan kegelisahan, dan memberi rasa bahwa mereka tidak ditinggalkan.

Namun seperti Panadol, efeknya sementara.

Realitas di lapangan tetap keras. 

Lebih dari 144.000 rumah rusak, ribuan di antaranya hancur atau tidak layak huni. 

Sekitar 107.000 hektare lahan pertanian terdampak, dengan sebagian besar gagal panen. 

Tambak-tambak ikan yang menjadi tulang punggung ekonomi pesisir--sekitar 30.000 hektare--rusak parah. 

Ribuan keluarga kehilangan mata pencaharian utama mereka.

Air minum bersih menjadi masalah serius. 

Sumur-sumur tercemar, distribusi air tidak stabil, dan masyarakat harus berjuang untuk kebutuhan paling dasar. 

Di beberapa wilayah, harga kebutuhan pokok meningkat karena distribusi terganggu, sementara pendapatan menurun drastis.

Baca juga: Jika Tak Sesuai Standar, Prabowo Instruksikan Penutupan Sementara SPPG

Pemulihan Atau Penyesuaian?

Di tengah kondisi ini, muncul satu pertanyaan mendasar: apakah kita sedang menyaksikan pemulihan, atau sekadar penyesuaian terhadap keadaan yang belum pulih?

Pernyataan Presiden bahwa kondisi sudah “hampir 100 persen” membuka ruang tafsir yang luas. 

Apakah itu berarti kehidupan telah kembali normal?

Jika “normal” berarti tidak ada lagi tenda di pinggir jalan, maka mungkin benar. 

Jika “normal” berarti bantuan telah dibagikan dan kunjungan pejabat telah dilakukan, maka laporan bisa ditutup dengan catatan memuaskan.

Namun jika “normal” berarti air minum tersedia secara layak, rumah kembali menjadi ruang aman, sawah kembali produktif, tambak kembali hidup, dan desa tidak lagi terisolasi--maka jawabannya belum.

Di sinilah “hampir 100 persen” terasa seperti Panadol: meredakan rasa sakit di permukaan, tetapi tidak menyembuhkan akar masalah. 

Ia memberikan rasa pulih, tetapi belum menghadirkan pemulihan yang sesungguhnya.

Yang lebih mengkhawatirkan, jangan-jangan yang sedang berubah bukan kondisi di lapangan, melainkan definisi “normal” itu sendiri. 

Normal bukan lagi keadaan sebelum bencana, tetapi sekadar kondisi ketika penderitaan sudah cukup terkendali untuk tidak lagi mengganggu narasi resmi.

Ini adalah bentuk “normal baru” yang regresif: masyarakat bertahan dalam keterbatasan, sementara negara menganggap kondisi sudah cukup stabil.

Baca juga: Seribuan Warga Terima THR dari Gubernur Aceh Mualem

Idul Fitri, Momen Melihat ke Dalam

Idul Fitri memberikan konteks reflektif yang kuat. 

Ia bukan hanya perayaan, tetapi momen untuk melihat ke dalam: mensyukuri, mengevaluasi, dan memperbarui komitmen. 

Dalam konteks Aceh, Idul Fitri 2026 menjadi cermin dari dua hal: kehadiran negara yang patut diapresiasi, dan kenyataan bahwa pekerjaan besar belum selesai.

Peran Mualem dalam konteks ini patut diapresiasi. 

Ia memahami bahwa rakyat tidak hanya membutuhkan kebijakan, tetapi juga sentuhan emosional. 

Ia menjembatani negara dengan rakyat melalui simbol yang sederhana tetapi bermakna. 

Presiden pun mendapatkan momentum untuk hadir secara lebih manusiawi, bukan sekadar institusional.

Namun apresiasi tidak boleh menutup ruang kritik. 

Pemerintah daerah, legislatif, dan seluruh pemangku kepentingan masih menghadapi tantangan besar. 

Rehabilitasi rumah berjalan lambat di beberapa wilayah. 

Infrastruktur belum sepenuhnya pulih.

Program ekonomi belum menjangkau semua kelompok terdampak.

Jika Panadol adalah tahap awal, maka yang dibutuhkan berikutnya adalah terapi jangka panjang: kebijakan yang konsisten, eksekusi yang cepat, dan keberpihakan yang nyata.

Aceh tidak membutuhkan sekadar pernyataan bahwa semuanya hampir selesai. 

Aceh membutuhkan bukti bahwa pemulihan benar-benar terjadi--di dapur rumah tangga, di sawah petani, di tambak nelayan, dan di ruang kelas anak-anak.

Pada akhirnya, Idul Fitri 2026 di Aceh adalah pertemuan antara harapan dan kenyataan. Antara simbol dan substansi. 

Antara Panadol dan penyembuhan.

Dan pertanyaan yang tersisa sederhana, tetapi menentukan: apakah kita akan berhenti pada rasa lega sesaat, atau melangkah menuju pemulihan yang benar-benar menyembuhkan?

Karena luka bisa saja diredakan, tetapi hanya tindakan nyata yang bisa benar-benar menyembuhkan.

*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.

Isi artikel dalam Pojok Humam Hamid menjadi tanggung jawab penulis

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved