Senin, 13 April 2026

Pojok Humam Hamid

Prabowo, Mualem, Tito, dan Kontemplasi Idul Fitri: “Panadol” dan “Normal Baru” Bencana Aceh

di hadapan publik, yang dibutuhkan adalah sentuhan langsung terhadap kehidupan sehari-hari rakyat.

Editor: Zaenal
Serambinews.com/HO
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. 

Oleh: Ahmad Humam Hamid*)

Di Aceh, menjelang Idul Fitri 1447 H/2026, kehidupan sehari-hari masih berdenyut di antara dua dunia: dunia yang hancur karena banjir dan longsor, serta dunia tradisi, iman, dan harapan yang tetap hidup. 

Rumah-rumah yang dulu bersih kini tertutup lumpur; sawah yang subur menyisakan jejak kehancuran; jalan dan jembatan yang menghubungkan kampung-kampung berubah menjadi rintangan fisik bagi setiap langkah. 

Air minum bersih terbatas, fasilitas pendidikan dan kesehatan sebagian besar rusak, dan sumber penghidupan masyarakat menipis atau bahkan lenyap.

Di tengah kondisi regresif ini, tiga figur menjadi simbol penting kehadiran negara: Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem), Presiden Prabowo Subianto, dan Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian. 

Permintaan daging makmeugang oleh Mualem kepada Presiden, kehadiran Tito Karnavian sepanjang Ramadan, serta kunjungan Presiden ke Aceh Tamiang pada Hari Raya Idul Fitri, menjadi rangkaian simbolik yang memperlihatkan negara hadir di tengah rakyat yang terluka.

Daging Meugang, Pengikat Harapan

Permintaan Mualem agar Presiden menyediakan sapi untuk meugang sempat menimbulkan tanya: mengapa bukan proyek besar rehabilitasi? 

Namun di situlah letak kecerdasan politiknya. 

Proyek besar memang dibicarakan dalam ruang teknokratis, tetapi di hadapan publik, yang dibutuhkan adalah sentuhan langsung terhadap kehidupan sehari-hari rakyat.

Meugang bukan sekadar makan daging; ia adalah ritual sosial, budaya, dan psikologis. 

Dalam situasi pascabencana, ia menjadi pengikat harapan.

Ketika Presiden memenuhi permintaan itu, yang hadir bukan hanya sapi, tetapi simbol pengakuan: bahwa penderitaan rakyat Aceh dilihat dan dirasakan. 

Kehadiran Presiden di Masjid Darussalam Tamiang, menyapa warga di hunian sementara, dan membagikan bantuan, memperkuat pesan bahwa negara tidak absen.

Di sisi lain, kehadiran Tito Karnavian menambah dimensi operasional. 

Ia hadir dari awal hingga akhir Ramadan, memantau rehabilitasi sekolah, pesantren, hunian, dan fasilitas publik. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved