Selasa, 28 April 2026

Opini

Menyatukan Riset dan Realitas Menuju Indonesia Emas

CAKRAWALA menuju Indonesia Emas 2045 tidak hanya terletak pada angka pertumbuhan ekonomi semata, tetapi pada kemampuan bangsa

Editor: mufti
hand over dokumen pribadi
Prof Dr Apridar SE MSi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh 

Prof Dr Apridar SE MSi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh

CAKRAWALA menuju Indonesia Emas 2045 tidak hanya terletak pada angka pertumbuhan ekonomi semata, tetapi pada kemampuan bangsa ini bertransformasi dari negara konsumen menjadi negara produsen pengetahuan. Dalam 20 tahun ke depan, Indonesia diprediksi akan menikmati bonus demografi yang puncaknya terjadi pada tahun 2030, di mana penduduk usia produktif mencapai 68 persen dari total populasi. Namun, prediksi para ekonom seperti yang dirilis oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyebutkan, bonus ini hanya akan menjadi bencana demografi jika tidak didukung oleh peningkatan signifikan dalam kualitas sumber daya manusia dan daya saing inovasi.Di sinilah peran strategis dunia akademik, khususnya inovasi dan pengabdian kepada masyarakat, harus dibaca ulang. Selama ini, terdapat dikotomi yang kentara antara riset kampus dengan kebutuhan riil masyarakat. Data dari Kementerian Riset dan Teknologi (sebelumnya) menunjukkan bahwa Indeks Prestasi Inovasi (IPI) Indonesia selama beberapa tahun terakhir masih berada pada kategori "sedang", dengan tantangan utama pada lemahnya komersialisasi hasil riset. Lebih dari 90 % paten yang didaftarkan oleh perguruan tinggi negeri di Indonesia, menurut catatan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, berstatus “sleeping patents”, artinya tidak terealisasi menjadi produk industri atau solusi nyata bagi masyarakat.

Jika kita serius mewujudkan Indonesia Emas 2045, inovasi tidak boleh lagi berhenti pada jurnal ilmiah yang tersimpan rapi di perpustakaan. Inovasi harus bertransformasi menjadi “invensi” yang berdampak. Negara seperti Korea Selatan dan Jepang adalah contoh nyata bagaimana inovasi menjadi mesin penggerak ekonomi. Mereka memulai dengan membangun ekosistem di mana universitas menjadi research hub yang terintegrasi dengan industri.

Di Indonesia, tantangan utamanya adalah rendahnya Research & Development (R&D) expenditure. Menurut data UNESCO dan World Bank, belanja riset Indonesia hanya berkisar 0,23?ri PDB, jauh tertinggal dibandingkan Singapura (2,1 % ) atau bahkan Malaysia (1,4 % ). Padahal, dalam dokumen Visi Indonesia 2045, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) adalah fondasi utama untuk mencapai pendapatan per kapita setara negara maju.

Transformasi inovasi menuntut adanya triple helix yang sejajar yaitu sinergi antara akademisi, bisnis, dan pemerintah. Misalnya, keberhasilan beberapa perguruan tinggi dalam mengembangkan teknologi tepat guna di bidang pertanian (seperti sistem irigasi pintar berbasis IoT) atau di bidang energi terbarukan, seringkali gagal di-scale up karena terputusnya dukungan pendanaan dan akses pasar. Padahal, jika inovasi-inovasi ini diadopsi secara massal, mereka bisa menjadi solusi atas isu-isu strategis seperti ketahanan pangan dan energi yang merupakan prasyarat menuju Indonesia Emas.

Pengabdian masyarakat

Kata “pengabdian” sering kali terperangkap dalam narasi karitatif. Selama ini, skema pengabdian masyarakat di perguruan tinggi lebih sering diartikan sebagai kegiatan seremonial: membangun jembatan, mengajar anak-anak, atau penyuluhan kesehatan yang bersifat insidental. Data dari Sistem Informasi Kinerja Pengabdian (SIMPANG) Kementerian Pendidikan menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil kegiatan pengabdian yang berbasis pada riset atau inovasi yang berkelanjutan.

Untuk mendukung Indonesia Emas 2045, paradigma pengabdian harus bertransformasi menjadi community-based research dan social engineering. Pengabdian tidak lagi sekadar "memberi", tetapi "memberdayakan" melalui inovasi. Contoh konkret adalah program Desa BRILiaN atau program One Village One CEO yang diinisiasi oleh beberapa universitas. Model ini menunjukkan bahwa pengabdian yang efektif adalah yang melibatkan transfer teknologi, pendampingan bisnis, hingga menciptakan wirausaha baru di pedesaan.

Data menunjukkan bahwa kontribusi UMKM terhadap PDB mencapai 61?n menyerap 97 % tenaga kerja. Namun, produktivitas UMKM masih rendah karena keterbatasan akses teknologi dan inovasi. Di sinilah peran pengabdian yang bertransformasi: menjadikan kampus sebagai inkubator bisnis teknologi bagi masyarakat. Jika setiap perguruan tinggi mampu mencetak minimal 100 technopreneur baru setiap tahunnya, dalam dua dekade kita akan memiliki basis ekonomi kerakyatan yang kokoh berbasis inovasi.

Namun, transformasi inovasi dan pengabdian tidak akan pernah terjadi dalam ruang hampa. Diperlukan regulasi yang mendorong kolaborasi lintas sektor. Saat ini, masih terdapat mismatch antara kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dengan kebutuhan dunia usaha. Meskipun MBKM telah membuka ruang bagi mahasiswa untuk belajar di luar kampus, namun belum diimbangi dengan mekanisme pendanaan riset kolaboratif antara industri dan universitas yang masif.

Pemerintah perlu hadir sebagai katalis. Alokasi anggaran riset dan pengabdian yang selama ini terserap secara administratif perlu diarahkan pada skema matching fund yang mempertemukan kebutuhan industri dengan kompetensi akademisi. Program Dana Abadi Riset (DAR) yang dikelola LPDP adalah langkah maju, namun porsinya perlu diperbesar dan proses diseminasi hasil risetnya harus dipastikan sampai ke masyarakat akar rumput.

Selain itu, penilaian kinerja dosen dan peneliti pun harus bertransformasi. Selama ini, beban kenaikan pangkat didominasi oleh publikasi di jurnal internasional. Akibatnya, dosen lebih banyak menghabiskan waktu menulis artikel untuk scopus daripada turun ke desa-desa untuk menyelesaikan persoalan riil. Jika orientasi penilaian diubah menjadi impact assessment seberapa besar dampak inovasi terhadap penciptaan lapangan kerja, peningkatan produktivitas daerah, atau penyelesaian masalah sosial, maka energi dosen akan mengalir ke pengabdian yang transformatif.

Momentum untuk bergerak

Indonesia Emas 2045 bukanlah keniscayaan, tapi adalah pilihan. Pilihan untuk berani keluar dari zona nyaman. Bonus demografi yang kita miliki akan menjadi sia-sia jika generasi muda produktif tidak dibekali dengan kemampuan menciptakan inovasi. Di sisi lain, masyarakat sebagai subjek pembangunan tidak boleh terus menerus diposisikan sebagai objek pengabdian yang pasif. Transformasi inovasi dan pengabdian kepada masyarakat adalah dua sisi mata uang yang sama. Keduanya harus berorientasi pada dampak. Inovasi tanpa pengabdian akan kehilangan akar, menjadi elitis dan tidak relevan. Pengabdian tanpa inovasi akan kehilangan daya lompat, hanya mempertahankan status quo.

Dengan data bahwa Indonesia menargetkan menjadi negara dengan pendapatan per kapita antara 10.000 hingga 30.000 dolar AS pada 2045 (berdasarkan proyeksi Bappenas), kita tidak punya banyak waktu untuk terus berdebat tentang relevansi riset. Mulai hari ini, setiap laboratorium kampus harus terhubung dengan pabrik atau lahan petani. Setiap kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) harus berujung pada pendirian koperasi atau badan usaha milik desa yang berkelanjutan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved