KUPI BEUNGOH
Membangun Sistem Pengelolaan Sampah Sehat di Aceh - Bagian I
Penumpukan sampah di sudut-sudut kota menjadi pemandangan yang kerap ditemui. Praktik pembakaran terbuka masih berlangsung dan mencemari udara.
Salah satu tantangan utama adalah belum terbentuknya kebiasaan pemilahan sampah di tingkat rumah tangga.
Sebagian besar masyarakat masih mencampur semua jenis sampah dalam satu wadah, sehingga menyulitkan proses pengolahan lanjutan.
Selain itu, keterbatasan infrastruktur juga menjadi kendala yang signifikan. Fasilitas seperti tempat pengolahan sampah terpadu, bank sampah, maupun teknologi pengolahan modern belum tersedia secara merata.
Baca juga: Akankah Darurat Energi Menjadi Kiamat Energi Bagi Asia dan Indonesia?
Di sisi lain, sistem pengangkutan sampah juga masih menghadapi berbagai kendala operasional, mulai dari keterbatasan armada hingga manajemen rute yang belum efisien.
Aspek lain yang sering luput dari perhatian adalah perlindungan bagi para petugas pengelola sampah. Dalam banyak kasus, mereka masih bekerja dalam kondisi yang belum memenuhi standar keselamatan dan kesehatan kerja.
Padahal, dalam praktik internasional, perlindungan terhadap pekerja merupakan bagian penting dari sistem pengelolaan sampah yang sehat dan berkelanjutan.
Menuju Sistem yang Lebih Sehat
Mengacu pada berbagai pedoman internasional, termasuk dari United States Environmental Protection Agency (EPA), sistem pengelolaan sampah yang baik setidaknya mencakup beberapa komponen utama.
Pertama, adanya pemilahan sampah sejak dari sumber. Kedua, sistem pengumpulan dan transportasi yang aman, efisien, dan terjadwal.
Ketiga, ketersediaan fasilitas pengolahan yang sesuai dengan kapasitas dan standar teknis. Keempat, perlindungan bagi pekerja.
Baca juga: VIDEO Tradisi “Peusijuk Sarjana” di Samatiga, Warisan 66 Tahun yang Terus Hidup di Era Generasi Z
Dan kelima, sistem pemantauan serta pengawasan lingkungan yang berkelanjutan. Jika salah satu komponen tersebut tidak terpenuhi, maka sistem yang dibangun berpotensi menimbulkan masalah baru.
Misalnya, tempat pemrosesan akhir yang tidak dikelola dengan baik dapat menghasilkan lindi yang mencemari air tanah, atau gas metana yang berpotensi menimbulkan kebakaran.
Peran Bersama, Bukan Hanya Pemerintah
Dalam konteks Aceh, membangun sistem pengelolaan sampah yang sehat tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah.
Pemerintah daerah memang memiliki peran penting dalam penyediaan regulasi dan infrastruktur, namun keberhasilan implementasi sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat.
Edukasi publik menjadi kunci utama. Masyarakat perlu memahami bahwa pengelolaan sampah adalah tanggung jawab bersama.
Perubahan perilaku sederhana—seperti membiasakan memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan mendukung program daur ulang—dapat memberikan dampak besar jika dilakukan secara kolektif.
opini serambinews
Opini
serambi
sampah
Pengelolaan Sampah
sistem
kebersihan
tempat sampah
DLHK
DLHK Aceh
Hidup Sehat
Bersih
Kebersihan Lingkungan
Meaningful
| Melalui "Pendidikan Agama Islam" Wujudkan SDM Unggul Indonesia Emas 2045 |
|
|---|
| Post-Holiday Blues: Sulitnya Kembali ke Rutinitas Setelah Liburan |
|
|---|
| Instruksi Presiden Prabowo: Tak Ada Lagi Anak Sekolah Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai |
|
|---|
| Perang dan Damai - Bagian 3, Luka yang tak Terlihat, Duka yang tak Berkesudahan |
|
|---|
| Frugal Living dan Micro Retirement: Cara Bertahan di Tengah Tekanan Hidup |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Khairul-Fajri-SKM-MKM-Ketua-Yayasan-Aceh-Peduli-Sanitasi.jpg)